Legenda Piala Eropa: Xavi Hernandez, Sang Dalang Kesuksesan Timnas Spanyol di Euro 2008

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Xavi Hernandez tak cuma dicap sebagai legenda Timnas Spanyol, tapi juga dunia. Sosoknya di lini tengah begitu melegenda, dan ajang Euro 2008 jadi bukti magisnya di lini tengah.

Xavi memulai karirnya di level internasional bersama Spanyol pada tahun 2000. Ia kemudian ikut berpartisipasi membela La Furia Roja di Piala Dunia 2002, Euro 2004, dan Piala Dunia 2006.

Di dua turnamen internasional pertama ia cuma jadi squad player. Namun sejak turnamen ketiganya ia mulai dipercaya menjadi tulang punggung Spanyol.

Euro 2008 pun menjadi turnamen besar keempatnya di pentas internasional. Kelima jika keikutsertaannya di Olimpiade 2000 ikut dihitung.

Xavi menjadi pilar penting Spanyol berkat visi permainannya yang luar biasa, kecerdasan, kontrol bola, pergerakan tanpa bola dan kemampuannya memberikan umpan, baik pendek maupun panjang.

Hal itu menjadi modal komplit untuk bisa mengontrol permainan. Dari sinilah Xavi Hernandez kemudian mendapat julukan The Puppet Master alias sang Pengendali Boneka.

Perjalanan Spanyol di Euro 2008

Striker tim nasional Spanyol, Fernando Torres, melepaskan tendangan yang berujung gol ke gawang Jerman, pada partai final Piala Eropa 2008, di Ernst-Happel-Stadion, Vienna, 29 Juni 2008. (UEFA).
Striker tim nasional Spanyol, Fernando Torres, melepaskan tendangan yang berujung gol ke gawang Jerman, pada partai final Piala Eropa 2008, di Ernst-Happel-Stadion, Vienna, 29 Juni 2008. (UEFA).

Gelaran Euro edisi tahun 2008 ini digelar di dua negara, Austria dan Swiss. Di fase grup, Spanyol masuk di Grup D. Tim yang dilatih oleh Luis Aragones itu bergabung bersama Rusia, Swedia, dan Yunani.

Spanyol terlalu perkasa bagi lawan-lawannya. Mereka menyapu bersih tiga pertandingan yang dilaluinya dan mengoleksi sembilan poin. La Furia Roja mencetak delapan gol dan cuma kebobolan tiga kali saja.

Di babak perempat final, Spanyol bersua dengan lawan berat, Italia. Namun mereka bisa menang berkat adu penalti.

Di babak semifinal, Spanyol bertemu dengan lawan yang di atas kertas di bawah mereka yakni Rusia. Mereka mendominasi laga dan menang mudah dengan skor telak 3-0. Xavi untuk pertama kalinya ikut mencatatkan namanya di papan skor.

"Itu [kemenangan yang] sangat pantas. Jika mereka terus menyentuh bola, lawan akan kelelahan dan mereka tahu mereka akan mencetak gol," ucap pelatih Rusia kala itu, Guus Hiddink, terkait monopoli bola yang dilakukan oleh Xavi dkk di laga tersebut.

Kematian Dengan Ribuan Umpan

Xavi Hernandez akan hadir di final Piala Eropa 2016 untuk menyerahkan troifi yang sempat dipegang Spanyol.FRANCK FIFE / AFP
Xavi Hernandez akan hadir di final Piala Eropa 2016 untuk menyerahkan troifi yang sempat dipegang Spanyol.FRANCK FIFE / AFP

Di final, Spanyol bersua tim kuat, Jerman. Tim Panser memang hebat namun mereka kalah kelas dari La Furia Roja di laga ini.

Spanyol nyaris mencetak dua gol jika saja tak terhalang tiang gawang. Jerman juga layak berterima kasih pada Jens Lehmann yang beberapa kali dipaksa berjibaku untuk menyelamatkan gawangnya.

Sang pengendali permainan Spanyol, Xavi, memastikan ia tetap bisa mengontrol jalannya laga dengan umpan-umpan pendeknya yang cepat. Jerman memang lebih unggul dalam penguasaan bola, sekitar 52 persen berbanding 48 persen.

Namun duel akhirnya dimenangi oleh Spanyol dengan skor 1-0 saja. Gol La Furia Roja dicetak oleh Fernando Torres. Media-media Jerman pun menyebut kekalahan ini sebagai 'kematian dengan ribuan umpan'.

Xavi Pemain Terbaik Euro 2008

Kiper tim nasional Spanyol, Iker Casillas, saat mengangkat trofi Piala Eropa 2008 usai mengalahkan Jerman 1-0, di Ernst-Happel-Stadion, Vienna, 29 Juni 2008. (UEFA).
Kiper tim nasional Spanyol, Iker Casillas, saat mengangkat trofi Piala Eropa 2008 usai mengalahkan Jerman 1-0, di Ernst-Happel-Stadion, Vienna, 29 Juni 2008. (UEFA).

Gol Fernando Torres di laga itu dibantu oleh assist siapa lagi jika bukan Xavi. Ia yang memberikan umpan terobosan pada striker Liverpool tersebut hingga bisa menembus barikade pertahanan lawan dan kemudian menaklukkan Jens Lehmann.

Kemenangan ini pun sangat bersejarah bagi Timnas Spanyol. Ini pertama kalinya mereka meraih gelar juara di level internasional sejak tahun 1964 silam.

Setelah turnamen ini berakhir, Xavi dinobatkan sebagai pemain terbaik. Dengan kemampuannya menguasai bola, membaca permainan, dan mengumpan, ia dianggap sebagai pengendali permainan tim Spanyol.

"Kami memilihnya karena kami pikir ia melambangkan gaya permainan Spanyol. Ia sangat berpengaruh dalam seluruh penguasaan bola, passing, jenis permainan menusuk yang dimainkan Spanyol," terang technical director UEFA, Andy Roxburgh.

Puncak Kejayaan dan Senja Karir Xavi

Mantan bintang Barcelona yang kini melatih klub Qatar Al Sadd diisukan akan menangani Barcelona musim depan menggantikan Ronald Koeman seiring habisnya kontrak di Al-Sadd pada 30 Juni ini. Sumber tepercaya menyebut, Xavi segera memperpanjang kontraknya hingga 2023. (AFP/Karim Jaafar)
Mantan bintang Barcelona yang kini melatih klub Qatar Al Sadd diisukan akan menangani Barcelona musim depan menggantikan Ronald Koeman seiring habisnya kontrak di Al-Sadd pada 30 Juni ini. Sumber tepercaya menyebut, Xavi segera memperpanjang kontraknya hingga 2023. (AFP/Karim Jaafar)

Setelah Euro 2008, Xavi terus menjadi pilar penting lini tengah Spanyol. Ia kemudian juga sukses mengantarkan La Furia Roja jadi juara Piala Dunia 2010.

Namanya pun terpilih masuk dalam Best XI turnamen tersebut. Dua tahun kemudian, di pentas Euro 2012, Xavi membawa Spanyol sukses mempertahankan gelar juaranya.

Di final, ia membawa Spanyol menang telak 4-0 atas Italia. Ia ikut memberikan assist di laga tersebut. Xavi pun menjadi pemain pertama yang sanggup memberikan assist di dua laga final Euro.

Xavi juga ikut serta dalam turnamen Piala Dunia 2014. Namun Spanyol kala itu tersingkir di fase grup.Setelah itu, Xavi pun pamit dari timnas Spanyol.

Pada tahun 2015, ia juga pamit dari Barcelona untuk kemudian pindah ke klub Al Sadd dan bermain di klub Qatar itu sebelum akhirnya pensiun pada tahun 2019. Pasca gantung sepatu ia terjun sebagai pelatih sampai saat ini

Sumber: Berbagai Sumber

Disadur dari: Bola.net (Dimas Ardi Prasetya, published 22/5/2021)

Video

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel