Legenda Timnas Peri Sandria: Pilkada Lanjut, Liga 1 Kalah sama Tarkam

Robbi Yanto
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 2020 dipastikan tidak bisa dilanjutkan tahun ini setelah keluarnya SK nomor SKEP/69/XI/2020 yang ditandatangani Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan pada 16 November 2020.

Liga 1 dan Liga 2 belum bisa dilanjutkan lantaran tak mendapatkan izin dari kepolisian terkait pandemi COVID-19 yang masih masif penyebarannya.

Penundaan kompetisi yang tidak jelas hingga kapan menyebabkan efek bermacam. Kekecewaan sudah jelas dirasakan para pelaku sepakbola. dari suporter, sponsor hingga pemilik klub.

Dari sisi pemain, pemasukan jelas berkurang lantaran dalam SK di atas, maksimal cuma menerima 25 persen.

Kondisi fisik dan sentuhan bola sudah pasti menurun, meskipun latihan mandiri terus mereka kerjakan. Toh cuma itu yang dilakukan sehari-hari karena tidak ada pertandingan.

Efek itu kian merambat dan menjadi fenomena baru saat ini. Ramai-ramai para pemain profesional dari Liga 1 dan Liga 2 tampil di sepakbola tarikan kampung (tarkam) atau antar kampung.

Sudah banyak contonhnya yang beredar di media sosial seperti duo Bhayangkara FC, Saddil Ramdani dan Indra Kahfi. Menariknya, bukan cuma pemain lokal yang terjun ke tarkam.

Pemain asing Guilherme Batata dan Yevhen Bokhashvili (PSS Sleman), baru-baru ini tampil dalam laga amal di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Sementara, kisah mengerikan harus dialami pemain PSM Makassar, Bayu Gatra. Laga tarkam yang dijalaninya di Jawa Timur berujung rusuh. Suporter masuk ke lapangan dan berakhir rusuh hingga terjadi pemukulan.

Situasi ini membuat legenda Timnas Indonesia dan mantan pemain Manstrans Bandung Raya, Peri Sandria menjadi prihatin.

Dia menyoroti Liga 1 dan Liga 2 yang tak mendapatkan izin sedangkan Pilkada 2020 tetap berlanjut. Menurutnya, potensi terjadi kerumunan massa di pertandingan Liga 1 kecil terjadi.

Sebabnya, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sudah memutuskan bahwa jika kompetisi berlanjut, laga dilakukan tanpa penonton dan pemain rutin melakukan tes kesehatan.

Pertandingan juga dipusatkan di Pulau Jawa, Selain agar klub-klub bisa melakukan penghematan biaya operasional, regulasi ini bertujuan untuk meminimalisir penyebaran COVID-19.

"Saya rasa kalau ini terus ditunda sampai kapan, tentang penyakit ini kita tidak tahu sampai kapan. Sebagai mantan pemain, menurut saya ikuti saja seperti liga di Eropa dengan menjaga protokol kesehatan ," kata Peri kepada VIVA, Kamis 19 November 2020.

"Karena ini lucu juga. Kompetisi diberhentikan, sedangkan kampanye ini jalan terus," sambungnya.

Kemudian, Peri tidak habis pikir dengan fenomena tarkam saat ini. Menurutnya, Liga 1 dan Liga 2 kalah sama tarkam yang tidak pernah ada matinya.

"Lucunya lagi, Liga 1 kalah sama tarkam. Liga tarkam tidak dilarang. Dimana-mana saja tarkam tetap main, lihat saja. Banyak penonton di sana," ucapnya.

Peri merupakan striker fenomenal pada Liga Indonesia 1994-1995, ia menorehkan rekor gol yang awet selama 22 tahun lamanya. Pada musim itu, dia mencetak 34 gol.

Jumlah gol itu baru bisa dipecahkan pada Liga 1 2017 oleh striker Bali United, Sylvano Comvalius. Dia mencetak rekor baru dengan mencatatkan 37 gol dari 34 laga.

Meski demikian, Peri Sandria tetap ada di buku sejarah karena hingga detik ini ia menjadi striker lokal paling subur di satu musim kompetisi.