The Legendary: Kontroversi Ballon d'Or dan Skandal Doping Cannavaro

Pratama Yudha

VIVA – Ballon d'Or, sebuah penghargaan individu paling prestisius yang bisa didapatkan seorang pesepakbola. Tiap tahunnya, pemain terbaik dipilih untuk bersaing mendapatkan trofi berbentuk bola berwarna emas tersebut.

Dalam satu dekade terakhir, sudah jelas Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi yang menjadi penguasanya. Keduanya total mengoleksi 11 trofi dalam 12 tahun terakhir. Dominasi mereka sempat dipatahkan Luka Modric pada 2018 silam.

Menilik 10 tahun sebelum dominasi Ronaldo dan Messi, Ballon d'Or sempat diberikan pada sederet pemain seperti Zinedine Zidane, Luis Figo, Rivaldo, Michael Owen, Ronaldo, Pavel Nedved, Andriy Shevchenko, Fabio Cannavaro, Ronaldinho, hingga Kaka.

Baca juga: Fabio Cannavaro Incar Posisi Pelatih Real Madrid

Dari sederet pemain tersebut, yang hampir seluruhnya berposisi sebagai gelandang, ada satu nama yang bermain di posisi bek. Dia adalah Cannavaro yang meraihnya pada 2006.

Ya, pemain asal Italia itu adalah satu-satunya bek yang sempat mendapatkan trofi prestisius itu dalam 20 tahun terakhir. Dia menjadi bek ketiga usai Franz Beckenbauer (1976) dan Matthias Sammer (1996) yang juga pernah memenangkan trofi tersebut.

Pelatih Timnas China, Fabio Cannavaro

Canna (sapaannya) dinobatkan sebagai pemenang Ballon d'Or usai membawa Timnas Italia menjuarai Piala Dunia 2006. Dia mengungguli rekan setimnya di Gli Azzurri, Gianluigi Buffon, dan bomber Timnas Prancis, Thierry Henry.

Di musim itu, dia juga sempat merasakan juara Serie A bersama Juventus yang sayangnya gelar tersebut dicabut lantaran Bianconeri terbukti terlibat dalam Calciopoli (skandal pengaturan skor).

Juara di musim 2006 akhirnya diberikan pada Inter Milan. Cannavaro pun memilih pindah ke Real Madrid usai Juventus terdegradasi ke Serie B.

"Tentu saja saya akan membawa trofi ini ke Real Madrid tapi saya juga ingin membawanya ke Turin," kata pria asal Italia kala itu dikutip The Guardian.

"Musimku bersama Juventus sangat luar biasa. Saya bermain di 37 laga dan mencetak empat gol. Saya berterima kasih pada Juventus yang membuat saya bisa menunjukkan kualitas saya di lapangan. Saya ingin berterima kasih pada rekan setim saya di Juventus dan di Timnas," lanjutnya.

Baca juga: Curhat Luis Figo yang Menderita Bersama Mancini di Inter Milan

Namun, kesuksesan pria kelahiran Naples itu meraih Ballon d'Or tak serta merta disukai semua pihak. Pasalnya, banyak yang merasa Buffon lebih pantas menerima penghargaan tersebut.

Bukan tanpa alasan. Di musim itu, penampilan Buffon terbilang sangat cemerlang. Mungkin, itu adalah masa-masa eks kiper Parma berada di puncak kariernya.

Buffon yang kala itu berusia 28 tahun cuma kebobolan 24 kali di Serie A pada 2006. Dia juga berhasil menjaga gawang Italia di Piala Dunia 2006 hanya kebobolan dua kali, satu di fase grup dan satu gol lainnya di partai final kontra Prancis.

Salah satu sosok paling lantang yang menyebut Cannavaro tak pantas memenangkan Ballon d'Or adalah Gerrard Houllier. Pria yang kala itu masih menukangi Olympique Lyon menganggap kemenangan bek asal Italia itu adalah sebuah kesalahan besar.

"Jika dibandingkan dengan pemain lain, dia jelas tak pantas menerimanya. Dia menjalani Piala Dunia dengan baik, tapi ini bukan musim terbaiknya. Secara pribadi, saya akan memberikan penghargaan itu ke Buffon," ucap Houllier dikutip Eurosport.

"Ini adalah skandal dan satu hal yang paling mengganggu saya adalah soal Henry, pemain yang mencetak 20 gol tiap tahun dan bermain di dua final musim lalu (2006), bahkan tak dipertimbangkan sama sekali," lanjutnya.

Selain Buffon, satu sosok yang dianggap pantas memenangkan Ballon d'Or di tahun itu adalah Ronaldinho. Sebab, pria asal Brasil itu membawa Barcelona juara LaLiga dan Liga Champions.


Tak cuma kontroversi kemenangannya di Ballon d'Or, Cannavaro juga sangat lekat dengan "obat-obatan". Dia beberapa kali tersandung kasus doping.

Kasus pertama terjadi pada 1999 silam, saat masih membela Parma. Kala itu, tepat di malam sebelum final Piala UEFA, ada video yang menunjukkannya sedang disuntikkan sebuah cairan.

Belakangan, akhirnya terkuak kalau zat bernama neoton itu legal. Dan kasus itu tak diperpanjang.

Kasus kedua hadir pada 2009 atau 10 tahun kemudian. Cannavaro dinyatakan tak lolos tes doping yang dilakukan CONI (Komite Olimpiade Italia) setelah terbukti menggunakan obat yang mengandung cortisone, sejenis steroid yang berlaku sebagai hormon tubuh.

Namun, pihak Juventus dan Cannavaro membantahnya. Mereka menyebut cortisone tersebut ada di dalam tubuh Cannavaro sebagai akibat dari obat yang dikonsumsi sang pemain usai disengat lebah.

Baca juga: 5 Rekan Setim Terbaik Jordan Henderson, Ada yang Berkhianat ke Rival

Setelah ditelusuri lebih lanjut, Cannavaro akhirnya kembali terbebas dari tuduhan yang sama.

Terlepas dari banyaknya kontroversi yang menimpa Cannavaro, tak bisa dipungkiri jika dia adalah salah satu bek terbaik Italia pada masanya. Dia menjadi pesepakbola profesional selama 19 tahun dan membela enam klub di sepanjang kariernya, yakni Napoli, Parma, Inter Milan, Juventus, Real Madrid, dan Al-Ahli.

Total, dia mencatatkan 695 penampilan di semua kompetisi dan mencetak 20 gol. Dia juga mengoleksi 136 laga dan dua gol bersama Timnas Italia.

Sepanjang kariernya sebagai pemain di klub dan Timnas, dia menorehkan tujuh trofi yang tercatat secara resmi, termasuk Piala Dunia 2006.

Sebagai pelatih, dia sudah menorehkan tiga gelar bersama Tianjin Quanjian dan Guangzhou Evergrande.