Legislator Pertanyakan Inpres Nomor 9 Tahun 2013

Jakarta (Antara) - Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning mempertanyakan dikeluarkannya Instruksi Presiden nomor 9 tahun 2013 tentang Kebijakan Penetapan Upah Minimum karena tidak merepresentasikan kepentingan buruh.

"Wajar saja buruh menuntut haknya karena pemerintah tidak memperhatikan kepentingan mereka," kata Ribka di gedung DPR Jakarta, Selasa.

Ribka menilai pemerintah juga melanggar konstitusi karena seharusnya penetapan upah minimum kewenangan Dewan Pengupahan di tingkat provinsi. Dewan Pengupahan menurut dia harus mendengarkan aspirasi para buruh mengenai kesejahteraannya.

"Komponen standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sudah ditetapkan, Rp2,2 juta untuk lajang. Padahal tuntutan buruh 50 persen, namun baru naik 10 persen sedangkan Bahan Bakar Minyak terus naik," ujarnya.

Dia menilai selama ini pemerintah yang menimbulkan kemarahan buruh karena tidak memperhatikan kepentingan mereka. Karena itu menurut dia pemerintah jangan bersikap reaksioner terkait masalah tersebut namun harus mencari solusi yang terbaik.

"Pemerintah jangan hanya mendengarkan kepentingan pengusaha. Karena itu yang membangkitkan kemarahan dan anarkisme buruh adalah pemerintah," tegasnya.

Dia mengatakan pada Selasa (22/10) Komisi IX akan membahas mengenai kerja kontrak di Badan Usaha Milik Negara agar masalah itu bisa selesai.

Ribka menilai BUMN harus menjadi contoh bagi hubungan industrial agar tidak terjadi sistem kerja kontrak yang menyengsarakan buruh.

"Kalau BUMN tidak menaati Panitia Kerja `outsourcing` poin 5 maka direksi akan terkena sanksi," tegasnya.

Menurut dia, apabila keputusan DPR tidak didengarkan maka itu salah satu bentuk pelecehan kepada parlemen dan buruh.(rr)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.