Legislator sebut transisi menuju EBT menjadi sebuah keharusan

·Bacaan 2 menit

Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sugeng Suparwoto mengatakan transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT) bukan lagi pilihan, tetapi sudah menjadi keharusan.

“Kita sebagai sebuah bangsa sudah barang tentu menginginkan energi menjadi sebuah soko guru atau hal yang paling utama bagi majunya sebuah bangsa. Hanya saja kita juga sama-sama tahu, energi juga membutuhkan pemikiran-pemikiran dan pengembangan-pengembangan,” kata Sugeng dalam acara “Road to COP26 Indonesian Pathway for Net Zero Emission – Energy Transition” pada Kamis.

Pemikiran dan pengembangan tersebut, lanjut Sugeng, berhadapan dengan permasalahan yang perlu digarisbawahi, yakni kebutuhan akan energi yang bersih, berkesinambungan, dan terjangkau.

“Untuk itu diperlukan kebijakan-kebijakan yang memerlukan kecermatan-kecermatan di antara seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Ia mengatakan Indonesia menyimpan potensi EBT yang luar biasa. Sugeng menyebutkan energi matahari atau solar energy, misalnya, total ekuivalen listrik kurang lebih 407 Gigawatt atau 407 ribu megawatt. Bahkan, lanjutnya, dapat diproyeksi dua kali lipat dari potensi yang selama ini terindentifikasi yakni sekitar 210 Gigawatt.

Meski demikian, Sugeng juga tak memungkiri bahwa selama ini pemanfaatan energi di Indonesia masih bergantung pada energi fosil. Batu bara, kata Sugeng, masih menjadi tiang penyangga utama bagi penyediaan listrik yang dikelola PLN.

“Dari kurang lebih 63 Giga listrik kita, 70 persennya sangat bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara,” ujarnya.

Sugeng mengatakan kebijakan selanjutnya bukan berarti menghapus energi fosil sama sekali, namun yang akan ditekan adalah pengurangan hingga penghapusan emisi karbon .

Ia juga mengatakan pihaknya mendorong pemanfaatan energi gas sebagai transisi menuju clean and renewable energy. Gas memang bahan bakar fosil, namun energi ini memiliki emisi rendah yang lebih baik.

Clean adalah dapat di gasnya meskipun gas tidak renewable. Pemanfaatan gas akan kita manfaatkan sebesar-besarnya sehingga dapat menggantikan posisi minyak,” tuturnya.

Sugeng menyebutkan energi gas di Indonesia menyimpan cadangan yang cukup besar, yakni terdapat sekitar 43 triliun cubic feet, bahkan kemungkinan hingga 100 triliun cubic feet jika dieksplorasi lebih lanjut.

“Gas, sekali lagi, akan kami bangun dan dorong infrastrukturnya. Hari ini 40 persen produksi gas alam kita masih diekspor, sementara 60 persennya untuk pemanfaatan dalam negeri. Ke depan sebesar-besarnya akan dimanfaatkan untuk dalam negeri,” katanya.

Baca juga: Wamenkeu sebut transisi ke EBT harus dilaksanakan ke depan

Baca juga: Kemenkeu: Perpres Energi Baru Terbarukan sedang difinalisasi

Baca juga: Kemenkeu: PLTU berbasis batu bara pensiun dini mulai 2030

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel