Lelaki Maya Idaman

Syahdan Nurdin, IlhamWahyuHidayat
·Bacaan 3 menit

VIVA – Di antara semua teman lelaki yang kukenal di dunia maya hanya Septiawan yang mampu mengikat hatiku. Perlu diketahui itu bukan nama sebenarnya. Jadi kalau sampai ada kesamaan nama baik di dunia nyata maupun di dunia maya perlu dipahami itu kebetulan saja.

Mulai pertama menjalin pertemanan tak pernah sekalipun dia mengajak ketemuan apalagi kencan. Padahal hampir semua teman lelaki yang aku kenal di dunia maya seperti itu. Apalagi yang aku kenal melalui aplikasi ini.

Aplikasi ini berbasis android. Pengguna smartphone dapat mencari pertemanan dengan aplikasi ini berdasarkan kelamin dan jarak. Tentu saja pengguna smartphone harus mengaktifkan fitur layanan lokasi dan memberi izin aplikasi ini mengakses layanan lokasi tersebut.

Tidak perlu disebutkan nama aplikasi itu. Satu hal yang pasti aplikasi tersebut gratis. Untuk mendapatkannya bisa dengan browsing atau lewat layanan unduhan aplikasi bawaan yang dimiliki hampir semua smartphone berbasis android.

Hampir semua teman lelaki yang aku kenal melalui aplikasi ini selalu mengajakku ketemuan. Bahkan banyak juga yang minta kencan. Tidak jarang juga yang terang-terangan menawarkan uang kalau aku mau melayani syahwatnya.

Untung saja itu hanya di dunia maya. Kalau saja mereka katakan itu langsung di hadapanku di dunia nyata akan aku jejalkan smartphoneku ke mulut mereka. Lha mereka pikir aku ini apa?

Meskipun begitu aku memaklumi mereka. Kenyataannya aplikasi media sosial ini memang sering dijadikan sarana prostitusi. Buktinya banyak sekali akun-akun perempuan yang terang-terangan jual diri bahkan menyebut tarif mereka kalau mau kencan di dunia nyata.

Untungnya Septiawan tidak seperti para lelaki hidung belang yang kebanyakan jadi temanku di aplikasi ini. Setiap kata dan kalimat yang dia ucapakan dalam inbok selalu lembut. Untuk memulai percakapan saja selalu dia ucapkan salam dulu. Begitu pula kalau mau pamit dari chat. Tak lupa dia ucap salam juga.

Dia paham betul memperlakukan perempuan. Tak pernah sekalipun dia berkata kasar padaku meski kadang aku slow respons membalas pesannya. Tak pernah sekalipun juga dia mengucapkan kata-kata kotor dalam setiap percakapan.

Pernah suatu kali aku ceritakan tentang dia pada salah satu teman kuliahku. Tentu saja aku tutupi namanya. Dalam hati tak rela aku kalau sampai temanku itu kemudian mencarinya di media sosial dan menjadikannya teman juga.

"Kerja apa orang itu?" tanya temanku dan aku katakan kalau dia seorang guru.

"Oww. Pantesan kalau sopan gitu" komentarnya. "Trus umurnya berapa" tanya dia lagi seperti seorang wartawan memburu berita.

Aku tertawa. "Kalau masalah umur seperti kutub utara dan selatan. Selisih umurku dan dia lima belas tahunan. Tapi orangnya masih terlihat muda kok" jawabku sambil menunjukkan foto Septiawan padanya.

"Iya betul kamu. Gak terlalu tua juga orang itu kalau dilihat dari fotonya. Kamu dan dia kayak adik kakak sebenarnya," katanya lagi dan dalam hati aku merasa jawaban itu seperti angin segar membelai telinga.

"Sudah jangan menunggu lama lagi. Ajak orang itu ketemuan. Siapa tau kalian nanti cocok. Trus nanti bisa lanjut pacaran. Kalau nanti udah benar-benar mantap langsung nikah saja," kata temanku itu berusaha meyakinkan dan aku hanya tertawa.

"Tapi dia itu guru," jawabku dan sekarang gantian temanku yang menertawakan aku.

"Gak masalah kalau dia guru," begitu katanya. "Apalagi kalau dia guru berstatus Pegawai Negeri Sipil atau PNS. Itu malah makin sip"

Dengan sangat meyakinkan temanku itu bilang kalau guru pada zaman sekarang beda dengan zaman Iwan Fals saat menciptakan lagu Oemar Bakrie. Katanya guru zaman sekarang lebih sejahtera karena punya tambahan satu kali gaji yang disebut sertifikasi.

Katanya guru tanpa tanda jasa sudah kurang relevan di zaman sekarang. Jasa guru telah dihargai dengan sangat memadai oleh pemerintah meskipun kadang masih juga terdengar suara sumbang.

Dia juga menegaskan kalau guru PNS kalau masa kerjanya berakhir akan dapat uang pensiun. "Itu artinya kalau kamu nanti jadi istri orang itu hidupmu pasti terjamin sampai tua nanti," tambah temanku dengan meyakinkan.

Aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Meskipun semua penjelasan itu terdengar seperti angin segar, jauh dalam hatiku masih ragu. Aku harus berpikir seribu kali kalau harus kencan dengan Septiawan. Aku harus menimbang banyak hal jika kemudian harus menjadikan lelaki itu suamiku meskipun hati kecilku juga mengharapkan itu.

Sebenarnya akan lebih baik jika Septiawan menjadi lelaki maya idamanku saja. Ini lebih bijaksana karena sebenarnya lelaki itu guruku waktu duduk di bangku SMP dulu. (Penulis: Ilham Wahyu Hidayat, Guru SMP Negeri 11 Malang)