Lembaga amal: Dunia berpangku tangan saat anak-anak dirugikan konflik

London (AFP) - Pemerintah negara-negara pada Kamis (13/2) didesak berbuat lebih untuk melindungi anak-anak dari dampak perang dan kekerasan parah, setelah sebuah laporan baru menunjukkan catatan jumlah tertinggi anak yang menjalani hidup di zona konflik.

Lembaga amal Save the Children mengatakan perang semakin membahayakan bagi anak-anak. Mereka menghadapi peningkatan risiko terbunuh dan terluka, direkrut oleh kelompok-kelompok bersenjata atau mengalami kekerasan seksual.

"Mengejutkan bahwa dunia hanya berpangku tangan sementara anak-anak menjadi target aksi-aksi yang bebas dari hukuman," kata kepala eksekutif Save the Children, Inger Ashing dalam pernyataan yang menyertai laporan tersebut.

"Sejak 2005, sedikitnya 95.000 anak tercatat terbunuh atau terluka, puluhan ribu anak diculik dan jutaan anak tidak mendapatkan pendidikan atau layanan kesehatan setelah rumah-rumah sakit diserang."

Ashing memperingatkan bahwa "kehancuran hidup anak-anak tersebut" akan terus berlangsung kalau tidak ada langkah yang dijalankan dan orang-orang yang bertanggung jawab atas kejahatan tidak diadili.

Laporan itu mengatakan pada 2018 hampir satu dari setiap enam anak di dunia, yaitu sekitar 415 juta anak, hidup di zona konflik. Jumlah itu hampir dua kali lipat dibandingkan dengan catatan pada 1995.

Insiden-insiden menyangkut "pelanggaran serius" terhadap mereka sudah meningkat sebesar 170 persen sejak 2010, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Stop the War on Children.

Anak-anak di Afrika adalah kalangan yang paling parah terkena dampak, sebanyak 170 juta hidup di zona-zona perang. Namun, jumlah tertinggi anak yang terkena dampak ada di Timur Tengah. Di kawasan itu, hampir satu dari setiap tiga anak terkepung konflik.

Laporan itu juga mencatat jumlah anak yang mengalami berbagai pelanggaran mengerikan: pembunuhan dan cedera, perekrutan oleh pasukan bersenjata, penculikan, serangan di sekolah atau rumah sakit, tidak mendapatkan layanan kemanusiaan, perkosaan serta berbagai bentuk kekerasan seksual.

Berkaitan dengan negara-negara individu, keadaan terburuk tercatat di Afghanistan, diikuti dengan di Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Irak dan Mali.

Ancaman-ancaman berbeda yang dihadapi oleh anak laki-laki dan perempuan itu dianalisis untuk pertama kalinya.

"Anak-anak perempuan menghadapi risiko lebih besar kekerasan seksual dan berbagai bentuk kekerasan lainnya berdasarkan gender, termasuk pernikahan anak, pernikahan dini dan pernikahan paksa," menurut hasil penelitian.

"Anak laki-laki lebih memungkinkan mengalami pembunuhan dan cedera, penculikan dan rekrutmen," menurut penelitian.

Para korban dari kedua gender itu menceritakan pengalaman mereka ke dalam laporan tersebut. Salah satunya adalah Samira, remaja putri Yazidi berusia 15 tahun yang menjadi ibu seorang anak berusia dua tahun.

Samira diculik bersama ibu dan saudara-saudara perempuannya pada 2016, disekap dan diperdagangkan kepada sedikitnya tiga orang, yang memukuli dan melakukan serangan seksual terhadapnya.

Samira kemudian dipaksa menikah dengan seorang petempur ISIS dan melahirkan. Ia lalu kembali ke rumah namun anaknya masih tinggal dalam perawatan pihak berwenang di Suriah.

"Saya lebih baik tetap jadi budak atau tinggal di kamp sepanjang hidup saya daripada meninggalkan anak saya," katanya.

"Saya tidak mau dia ditinggal dengan hidup tanpa ibu(nya) atau menjalani hidup seperti yang saya alami. Saya ingin memberi dia hak-hak yang tidak saya dapatkan sebagai seorang anak."

Satu korban lainnya menceritakan bagaimana seorang bocah laki-laki bernama Peter direkrut oleh sebuah kelompok bersenjata di Sudan Selatan sebelum melarikan diri ke Uganda.

"Mereka memberi kita senjata untuk menembak," katanya. "Mereka akan melatih kita cara mengisi senjata, bagaimana memasukkan peluru dan menarik pelatuk senjata untuk menembak".

"Hati saya senang waktu saya tiba di Uganda," tambahnya.

"Saya melihat ada sekolah-sekolah, rumah sakit. Saya sangat senang dan mengatakan, 'di tempat ini setidaknya kita bisa belajar dan mendapat pengobatan kalau sakit'."