Lembaga riset: Industri rokok sasar anak-anak

Direktur Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono mengatakan industri rokok menargetkan anak-anak sebagai sasaran pemasarannya.

"Industri rokok ini bahkan secara sengaja menargetkan anak-anak sebagai target market mereka. Anak-anak usia SD sudah disasar untuk jadi perokok," kata Yusuf Wibisono dalam acara "Epidemi Rokok & Masa Depan Pengendalian Tembakau di Indonesia" yang diikuti di Jakarta, Selasa.

Pihaknya mengatakan semakin muda seseorang mulai merokok, maka semakin besar peluang orang tersebut menjadi perokok di masa depan.

Yusuf mengatakan ancaman kesehatan bagi anak-anak Indonesia adalah perokok usia anak dan anak-anak yang tinggal di rumah dengan ayah perokok.

Baca juga: Kemenkeu berencana naikkan cukai rokok untuk turunkan perokok anak
Baca juga: Lentera Anak: Larang penjualan rokok batangan demi cegah perokok anak

Yusuf mengatakan tidak hanya menyasar pada anak, industri rokok juga menyasar perempuan sebagai konsumen-nya.

Meski demikian prevalensi merokok pada perempuan di Indonesia rendah yang disebabkan faktor budaya dan sanksi sosial.

Namun seiring melemah-nya stigma sosial dan pengaruh budaya asing, termasuk iklan dan promosi rokok, prevalensi merokok pada perempuan kini meningkat.

"Meski masih rendah, namun kecenderungan ini menandai transformasi perempuan dari perokok pasif menjadi perokok aktif. Selain membahayakan diri sendiri, perokok perempuan juga akan membahayakan janin dan bayinya," katanya.

Baca juga: Edukasi cegah perokok anak harus konsisten
Baca juga: Praktisi kesehatan: Penting Revisi PP 109/2012 turunkan perokok anak

Dia menambahkan bahwa selama pandemi COVID-19, jumlah perokok justru meningkat.

"Prevalensi merokok justru meningkat selama pandemi, bahkan di kalangan penduduk miskin," kata Yusuf.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), jumlah perokok pada 2019 ada 57,2 juta orang. Pada 2021, bertambah 2,1 juta orang menjadi 59,3 juta perokok dan pengeluaran masyarakat untuk rokok meningkat dari Rp344,4 triliun menjadi Rp365,7 triliun.

"Per tahun masyarakat habiskan triliunan untuk membeli rokok," katanya.

Baca juga: Perempuan merokok disebabkan oleh kesehatan mental tak stabil

Baca juga: Perempuan perokok berisiko punya cucu penderita asma

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel