Lembaga Riset Siber wajibkan perbankan bentuk tim keamanan siber

·Bacaan 1 menit

Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC Pratama Pershada menyarankan agar perbankan membentuk tim keamanan siber atau Computer Security Incident Response Team (CSIRT) guna melindungi sistem atau data dari kejahatan siber.

“Sekarang ini BSSN mempunyai program membuat 125 CSIRT untuk kementerian/lembaga di seluruh Indonesia. Bank pun harus punya CSIRT yang tugas pokoknya melakukan koordinasi dengan yang lain,” kata Pratama saat diskusi Info Bank secara daring di Jakarta, Selasa.

Pratama menyampaikan saat insiden siber terjadi dan menyebar, maka diperlukan tindakan segera seperti mendeteksi dan mengidentifikasi segala macam aktivitas, memberikan peringatan dini kepada kementerian/lembaga, hingga berkoordinasi dalam merespons insiden. Oleh karena itu, kehadiran CSIRT dalam perbankan sangat diperlukan.

Kemudian ia juga mengingatkan agar perbankan mempunyai rencana mitigasi atau Business Continuity Planning (BCP) ketika terjadi serangan siber. BCP Life-Cycle mencakup analisa, design solusi, implementasi, pengujian dan penerimaan hingga pemeliharaan.

“Ini juga kadang-kadang tidak dipikirkan, BCP lebih banyak ke kalau terjadi gempa bumi, kerusakan fisik tapi BCP untuk serangan siber sudah mulai perlu untuk diperhatikan,” ujar Pratama.

Selain juga melakukan update license operating system, antivirus dan peralatan network hingga melakukan security audit dan penetration test untuk mengurangi resiko kejahatan siber. Serta melakukan reskilling kemampuan karyawan.

“Menurut laporan knowbe4 pada tahun 2020, sekitar 31 persen karyawan perbankan gagal lulus tes keamanan phising dasar,” ungkap dia.

Lebih lanjut Pratama juga mengingatkan agar perbankan waspada terhadap aplikasi pihak ketiga yang memungkinkan memiliki keamanan yang lemah jika dibuat oleh pengembang yang tidak berpengalaman. Begitu juga dengan jaringan wifi publik yang merupakan salah satu cara mudah bagi peretas mendapatkan akses dan data yang tersimpan di smartphone.

Baca juga: Mandiri Institute: Perilaku masyarakat penting kurangi kejahatan siber
Baca juga: Studi: 60 persen UKM Indonesia alami pencurian informasi
Baca juga: Kejahatan siber masih terus menghantui konsumen Indonesia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel