Lembar Baru Kehidupan Mantan Korban KDRT

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Hidup tidak enak, penuh penyiksaan dalam rumah tangga lantaran suaminya yang tak segan melakukan kekerasan fisik. Fase kehidupan tersebut pernah dialami Susan Sanggrangbano, warga Kampung Bunyom, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua.

Hingga akhirnya di suatu waktu Susan terpaksa mengambil sikap untuk pulang ke orang tua.

Susan saat kembali ke orang tua dalam kondisi berlumur darah karena penyiksaan yang dilakukan suami. Orang tua Susan lantas marah, dan memilih menempuh jalur hukum untuk menuntaskan persoalan keluarga anaknya.

Sesampainya di kantor polisi, mediasi persoalan dilakukan. Susan yang lebih mementingkan keutuhan rumah tangga, memilih kembali ke rumah suami dengan segala resiko yang mungkin terjadi di kemudian hari.

"Waktu di depan polisi mama bicara tidak ada proses hukum, kita pulang, dan mama pulang kembali ke rumah suami," kata Mama Susan, mengawali ceritanya kepada merdeka.com di Kampung Bunyom, Distrik Nimboran.

Tentu keputusan berat bagi keluarga. Masih ada perasaan trauma, jika Susan nantinya akan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali. Namun keluarga tidak bisa berbuat banyak dengan keputusan Susan tersebut.

Susan masih mengingat jelas, ketika keponakannya ikut memarahi suaminya. "Kalau om main pukul-pukul terus, kalau tante meninggal dan keluarganya tuntut bayar, om uang ada ka?" sebut Susan, mengisahkan ucapan itu.

Tahun berganti. Masuk 2015, ada penyuluhan tentang perlindungan terhadap perempuan di kampung. Susan pun menyempatkan diri ikut sebagai peserta.

Penyuluhan membuka pengetahuan Susan mengenai peran dan perlindungan terhadap wanita. Dia baru tahu jika posisi perempuan dalam rumah tangga mendapat perlindungan dalam undang-undang.

"Setelah mendapat ilmu itu, mama pulang dan sampaikan ke bapak (suami), bahwa kami perempuan ada undang-undang yang melindungi kami. Kalau bapak masih main pukul-pukul terus, bapak bisa masuk penjara. Dan saat itu bapak mulai takut untuk pukul-pukul mama lagi," ujar Mama Susan.

Pelan namun pasti, Susan berhasil menyadarkan suami atas perbuatan salah selama ini. Tidak ada lagi kekerasan, bahkan sang suami kini bersedia membantu memasak dan cuci piring di rumah.

"Masa perkawinan mama dengan bapak itu sejak tahun 1980, hingga sekarang, kami dikasih berkat Tuhan memiliki dua anak, satu laki-laki, satu perempuan. Dan kini kami sudah punya dua cucu," cerita Mama Susan.

Pernah menjadi korban KDRT tidak membuat Susan berkecil hati. Di lingkungan tempat tinggalnya, Susan menjadi penggerak warga lain memanfaatkan lahan kosong berproduktif.

"Karena sering kumpul-kumpul dan berdiskusi, kami berpikir lagi untuk apa main arisan. Bagaimana kalau kita buat kelompok kerja, dengan memanfaatkan halaman di sekitar rumah kita, atau di kebun kita," ujarnya.

Awalnya warga diarahkan untuk memanfaatkan lahan kosong dengan menanam tanaman produktif apa saja. Jam kerja pun diatur, setiap harinya warga mengurusi tanaman selama dua jam, dari jam enam sampai jam delapan pagi.

Sekian waktu berjalan, jumlah anggota kelompok semakin banyak. Mereka pun berinisiatif membentuk kelompok legal. Tujuannya agar sumber permodalan atau bantuan dari pemerintah atau pihak lainnya bisa dipertanggungjawabkan secara benar.

"Saat itu mama langsung bentuk kelompok tani dengan AD-ART, dan langsung kami daftar ke Kesbangpol Kabupaten Jayapura, dengan uang pendaftaran Rp5 juta dari swadaya mama dengan anggota," sebutnya.

Setelah terbentuk kelompok tani yang legal, Susan dan kelompok taninya mendapat penawaran bantuan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Jayapura.

"Waktu mama masukkan proposal, mama mendapat bantuan Rp30 juta," sebutnya.

Uang bantuan lantas digunakan untuk melakukan pengembangan dengan menanam jagung, kacang tanah, tomat, hingga padi di lahan seluas satu hektare.

"Jadi padi yang mama tanam di kebun satu hektare itu, mama tanam padi sempat, atau padi kering, di lahan yang kering," ucapnya.

Sejak mulai dirintis tahun 2015, jumlah anggota kelompok tani mencapai 32 orang. Dari 32 orang itu, mereka juga telah merekrut anggota-anggota baru di bawah mereka, hingga sekarang sudah berjumlah ratusan anggota.

Susan yang juga seorang motivator mengajak kaum perempuan untuk aktif berkegiatan. Salah satunya dengan mengikuti penyuluhan atau pun seminar. Tujuannya agar mendapat informasi dan pengetahuan baru tentang hal-hal baru.

"Dulu mama punya suami suka pukul-pukul mama, tapi mama tidak mengambil langkah-langkah negatif sampai mau bunuh diri. Mama tetap kuat, dan selalu aktif menghadiri dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dibuat di kampung. Jadi sekarang mama dengan bapak sudah hidup harmonis," tutup Susan. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel