Lengkapi Imunisasi Anak, Pakar Sebut Campak dan Difteri Tak Hilang di Masa Pandemi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menurunnya tingkat imunisasi pada anak akibat terdampak pandemi COVID-19, membuat risiko penyakit lain seperti campak dan difteri yang sebenarnya sudah bisa dicegah dengan vaksin, muncul kembali.

"Sebelum pandemi banyak bayi meninggal gara-gara campak, diare, pneumonia, difteri, dan sebagainya. Pada waktu pandemi ini seolah-olah berkurang," kata Profesor Soedjatmiko, dokter spesialis anak dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Soedjatmiko mengatakan hal tersebut mungkin dikarenakan anak-anak yang selama pandemi jarang keluar rumah karena tidak sekolah sehingga membuat penyakit-penyakit tersebut seolah menurun.

"Ada atau tidak ada pandemi, penyakit-penyakit seperti difteri, campak, pertusis, influenza, pneumonia, dan lain-lain itu ada terus," tegasnya.

Dalam dialog virtual pada Kamis (22/4/2021), Soedjatmiko mengatakan bahwa apabila nantinya terjadi wabah seperti difteri atau campak pada anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap, wabah ganda pun bisa terjadi di masa pandemi virus Corona.

Maka dari itu, dia pun mengimbau agar orangtua untuk kembali membuka catatan imunisasi anak apabila pelaksanaannya sempat tertunda di masa pandemi COVID-19. "Mana yang belum segera dikejar, dilengkapi."

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Cegah Wabah Saat Masuk Sekolah

Perawat dibantu kader Posyandu menyuntikan vaksin campak, vaksin pentabio berisi vaksin DPT, Hepatitis B dan Haemophilus Influenzae dan Imunisasi Polio terhadap anak di RW 09, Kelurahan Pondok Benda, Tangerang Selatan, Senin (14/12/2020). (merdeka.com/Dwi Narwoko)
Perawat dibantu kader Posyandu menyuntikan vaksin campak, vaksin pentabio berisi vaksin DPT, Hepatitis B dan Haemophilus Influenzae dan Imunisasi Polio terhadap anak di RW 09, Kelurahan Pondok Benda, Tangerang Selatan, Senin (14/12/2020). (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Soedjatmiko pun mewanti-wanti agar orangtua untuk segera melakukan imunisasi lengkap pada anaknya, khususnya demi mencegah interaksi yang berisiko menularkan penyakit apabila sekolah tatap muka nantinya dibuka kembali.

"Bayangkan anak-anak SD yang mestinya DPT-nya dilengkapi pada umur 2 tahun atau 4 tahun, campaknya demikian, MR-nya demikian, ketika tatap muka saling tukar menukar bakteri dan virus, ketika dia pulang bisa sakit, bisa terjadi outbreak di sekolah."

Menurut Soedjatmiko, pemerintah saat ini sudah mengeluarkan panduan untuk melaksanakan program imunisasi rutin di puskesmas dan layanan kesehatan, agar aman dari COVID-19 dengan protokol kesehatan.

"Jadi ibu-ibu, bapak-bapak, yang punya bayi, balita, pra-sekolah, yang sudah sekolah jangan ragu. Carilah dulu, kalau ragu-ragu juga bapaknya survei dulu mana puskesmas yang tidak berkerumun," katanya.

"Prinsipnya segera lengkapi bayi, balita, pra-sekolah, usia sekolah, lengkapi. Buka catatan masing-masing. Kalau bukunya hilang, minta saja dobel tidak apa-apa. Suntikan dobel tidak berbahaya," pungkasnya.

Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19

Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini