Lengsernya Imran Khan Pertanda Pecah Kongsi Sipil-Militer di Pakistan

·Bacaan 4 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Imran Khan sekali lagi mencoba membengkokkan busur politik Pakistan agar sesuai keinginannya.

Khan baru-baru ini dicopot sebagai perdana menteri, dan dengan cepat kembali ke basis pendukung politiknya dan menggalang dukungan untuk melawan apa yang disebutnya sistem curang.

Dan para pendukungnya menanggapi.

Dalam kampanye di Karachi pada Sabtu, Khan kembali menyampaikan pencopotannya dari kursi PM merupakan rencana AS. Ribuan massa pun bersorak menanggapi pernyataannya.

"Jadi katakan padaku, rakyat Pakistan, apakah ini konspirasi atau bukan, angkat tangan kalian dan sampaikan padaku," tanya Imran Khan, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (20/4).

"Konspirasi!" teriak massa.

Ini merupakan pukulan bagi kepemimpinan militer Pakistan yang kuat.

Pada Kamis pekan lalu, juru bicara militer Pakistan, Mayjend Babar Iftikhar membantah tudingan Khan bahwa AS bekerja sama dengan sekutunya di Pakistan untuk melengserkan Khan.

Secara khusus dia menyangkal penggunaan kata "konspirasi" yang dilontarkan Khan kepada pendukungnya di Karachi.

Pasang surut hubungan Khan dan pemimpin militer merupakan bagian dari pertaruhan strategi politik tingkat tinggi Khan untuk menjaga dirinya tetap berada di pusat wacana politik nasional dan memaksa pemilu lebih awal dengan persyaratan yang menguntungkan.

Bagi mantan atlet kriket itu, risikonya signifikan. Setelah Khan lengser, kritik politik diarahkan kepada kepemimpinan militer, disertai unjuk rasa yang diselenggarakan partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) yang dipimpin Khan dan protes di media sosial.

"Angkatan Darat memperoleh kekuatannya dari rakyat dan segala upaya untuk menciptakan jurang pemisah antara tentara dan rakyat tidak akan ditoleransi," kata Panglima Angkatan Darat, Jenderal Qamar Bajwa kepada para perwiranya, menyinggung "pasukan musuh" yang tidak disebutkan namanya.

Selama bertahun-tahun, PTI senang berada di "halaman yang sama" dengan kepemimpinan militer. Keharmonisan ini tidak pernah terjadi di bawah pemerintahan sipil sebelumnya.

PTI juga secara rutin mengecam lawan politiknya, khususnya Liga Muslim Pakistan-Nawaz (PML-N), karena diduga memfitnah kepemimpinan militer.

Sekarang, justru PML-N yang menuduh Khan dan PTI menyerang pemimpin militer.

Pada Senin, Marriyum Aurangzeb, yang sepertinya bakal menjadi menteri informasi berikutnya, menuding PTI mengorganisir kampanye di media sosial untuk "melecehkan institusi, menganjurkan ujaran kebencian, dan menyebarkan kekacauan".

Upaya Khan untuk merebut kembali kekuasaan, juga bertabrakan dengan realitas kekuasaan yang dikonsolidasikan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, yang pemerintahannya sekarang menguasai parlemen.

Untuk mempertahankan tekanan politik pada pemerintahan baru, Khan harus menjaga basis pendukungnya tetap terisi dan marah. Tetapi sebagian dari kemarahan itu diarahkan pada kepemimpinan militer, yang berisiko semakin mengasingkan konstituen kuat yang masih bisa memegang kunci kekuatan politik di Pakistan.

Jabatan Khan sebagai PM mulai bermasalah setelah kepemimpinan militer secara terbuka menjauhkan diri dari pemerintah PTI dan mengambil sikap yang disebut netralitas, yang memungkinkan oposisi untuk melengeserkan Khan.

Sampai saat ini, Khan menghindari menyalahkan pemimpin secara langsung atas pencopotannya, dan lebih fokus pada narasinya bahwa itu merupakan rencana AS dengan sekutunya di dalam negeri.

Tetapi para pendukungnya langsung menunjuk jari pada militer. Video dan pesan yang beredar di media sosial konon menunjukkan pendukung PTI menuduh adanya campur tangan militer dan manipulasi untuk melengserkan Khan.

Shuja Nawaz, penulis buku The Battle for Pakistan: The Bitter US Friendship and a Tough Neighbourhood mengatakan kepada Al Jazeera, militer akan "melindungi dirinya sebagai entitas bersama" dari serangan politik yang mengikis posisi kepemimpinannya di mata publik.

Namun dalam dunia politik Pakistan yang terbalik dan kacau-balau di mana sekutu berubah menjadi musuh dan sekutu musuh, Khan tampaknya memperluas dukungannya di antara sekelompok besar sekutu berpengaruh: pensiunan dan personel militer yang masih bertugas dan jaringan keluarga besar mereka di seluruh Pakistan.

Kader militer dukung Khan

Dukungan untuk Imran Khan dari kader militer bukan hal baru. Saat Khan naik ke tampuk kekuasaan pada 2018, dia sangat populer di kalangan militer dan, selama bertahun-tahun, sekelompok pensiunan pejabat militer dengan penuh semangat membela Khan di media dan mengecam lawan-lawan politiknya.

Tetapi pensiunan personel militer dan keluarga mereka jarang bersuara di depan umum ketika kekuasaan politik berpindah tangan di Pakistan.

Namun, dengan disingkirkannya Khan, hal itu tampaknya tak lagi berlaku. Sejak Khan lengser, semburan komentar dan kritik dilontarkan di media sosial dan grup WhatsApp oleh pensiunan perwira militer dan para istri anggota militer, termasuk kalangan muda.

"Ini adalah pilar patriotisme, korps perwira terkonsentrasi di Rawalpindi, Islamabad, Lahore dan Karachi dan keluarga mereka. Mereka semua tidak selalu mendukung Khan, tetapi ketika mereka melihat alternatif (pemerintah baruP, mereka tidak melihat adanya pilihan," jelas pensiunan militer Pakistan, Ayaz Amir yang kini menjadi pengamat politik. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel