Letda TNI Kartomo Tewas dalam Operasi Halilintar

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pemberontakan masa Partai Komunis Indonesia (PKI) memang tak hanya terjadi di Jakarta. Setelah diketahui bahwa organisasi terlarang ini akan melakukan kudeta, Tentara Nasional Indonesia (TNI) melancarkan sejumlah operasi militer. Salah satunya adalah Operasi Trisula di Blitar.

VIVA Militer mengutip pernyataan mantan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), yang kini menjadi TNI, Letjen TNI (Purn.) Soeyono, dari akun Facebook pribadinya. Soeyono adalah salah satu prajurit yang diturunkan dalam Operasi Trisula, yang digelar oleh Tentara Teritorium (TT) V/Brawijaya.

Soeyono adalah jebolan Akadmi Militer Nasional 1965 yang sebelumnya direkrut pada 1962, untuk menghadapi konfrontasi dengan Malaysia di perbatasan Kalimantan, dan situasi darurat di Irian Barat (sekarang Papua).

Dikisahkan Soeyono, ia dan sejumlah rekannya diluluskan pada pekan ketiga Desember 1965 dan dilantik langsung oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Setelah itu, Soeyono dan rekan-rekannya langsung diterjunkan ke sejumlah medan pertempuran.

"Teman-teman seangkatan di AMN lulusan 1965 yang direkrut tahun 1962 untuk menghadapi gejolak di perbatasan Kalimantan dan perebutan Irian Barat. Ternyata memiliki pengalaman tugas yang beragam . Kami diluluskan pada minggu ketiga bulan Desember 1965 dan dilantik oleh Presiden Soekarno bertempat di lembah Tidar," tulis Soeyono.

"Dengan menyandang pangkat awal Letnan Dua, kami ditugaskan di berbagai pelosok Nusantara yang kala itu sibuk menangani akibat dari kudeta PKI yang gagal dan mengalihkan insurgensinya di perbatasan Kalimantan Utara dan Daerah Jawa Timur tepatnya di Blitar Selatan," lanjut pernyataan Soeyono.

Soeyono pun masuk dalam Operasi Trisula di bawah komando Kolonel Inf Witarmin. Operasi ini dilakukan untuk menumpas sisa-sisa anggota PKI yang mengalihkan aksinya di Blitar Selatan. Menurut Soeyono, strategi perang PKI cukup brilian. Pasalnya, para anggota PKI ini mampu membangun ruang persembunyian bawah tanah dan membuat pasukan TNI kesulitan.

"TNI menggelar operasi TRISULA yang dilaksanakan oleh Kodam Brawijaya dibawah pimpinan Kolonel Witarmin. Para Perwira muda yang ditugaskan dalam operasi ini adalah para Komandan Peleton dengan pangkat Letnan dua yaitu Letda Kartomo, Letda Achdari, Letda Tarmin Hariadi, Letda Basuki , Letda Fikri, Letda Robo Esap Maiyaho, Letda Fadli Saaldin, Letda Bonar Sipahutar, Letda Sudjasmo dan Letda Djunaidi," ucap Soeyono melanjutkan.



"Operasi Trisula untuk menumpas sisa-sisa PKI yang mengalihkan operasinya di Blitar Selatan, ini termasuk luar biasa karena PKI menerapkan taktik dan teknik persembunyian gua-gua bawah tanah atau terkenal disebut ruang bawah tanah," katanya.

Meski demikian, Operasi Trisula pada akhirnya berujung sukses. Sejumlah tokoh PKI semisal Djoko Untung, Lies Sulastri, Ruslan Wijayadastra, dan Oloan Hutapea, berhasil ditangkap. Sayangnya, ada satu rekan Soeyono yang tewas dalam tugas.

Sahabat Soeyono yang tewas adalah Letda Kartomo, yang didapuk menjadi Komandan Pleton 2 Kompi D Batalyon 521. Dalam keterangannya, Soeyono menyebut bahwa Kartomo masuk dalam Operasi Halilintar yang merupakan bagian dari Operasi Trisula. Kartomo tewas pada 20 Mei 1968, dan pangkatnya dinaikan menjadi Letnan Satu (Lettu) Anumerta

"Operasi Trisula berhasil sukses dengan tertangkapnya hidup-hidup tokoh-tokoh PKI seperti Pratomo, Oloan Hutapea ,Suwandi, Djoko Untung, Lies Sulastri, Tjugito, Ruslan Wijayadastra, Sukatno dan Rewang. Mereka akhirnya diproses dan dihukum terlibat subversi," ujar Soeyono.

"Letda Kartomo yang menjabat Danton 2 Kompi D Batalyon 521 ini pada tanggal 20 Mei 1968 gugur dalam operasi Halilintar yang merupakan bagian dari Operasi Trisula. Almarhum dinaikkan pangkatnya menjadi Lettu Anumerta dan namanya diabadikan sebagai nama jalan di desa Bakung, Blitar," katanya.