Letjen Sutiyoso 25 Tahun Lihat Prajurit TNI Makan Tahu-Tempe Tiap Hari

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Setiap prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki kewajiban untuk menjaga Sumpah Prajurit dan Sapta Marga. Para prajurit TNI juga adalah garda terdepan dalam menjaga harga diri, harkat dan martabat, serta kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya, kesejahteraan prajurit TNI justru masih jadi masalah hingga hari ini.

Lewat pengamatan VIVA Militer dalam video yang diunggah akun Youtube Talk Show tvOne, mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Jaya, Letnan Jenderal TNi (Purn.) H. Sutiyoso, mengisahkan bagaimana mirisnya kehidupan para prajurit TNI.

Sutiyoso yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), menghabiskan 30 tahun kiprahnya bersama TNI Angkatan Darat (TNI AD). Sutiyoso mengenang bagaimana kehidupannya bersama para anak buahnya saat masih menjadi prajurit.

Perwira tinggi yang juga merupakan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat, mengatakan jika ia melihat langsung bagaimana para prajurit TNI ini harus hidup dengan gaji yang pas-pasan hingga makan tahu-tempe setiap hari.

"Secara pribadi, saya meilihat masalah kesejahteraan prajurit sangat minim. Seorang Prada atau Pratu itu sebulan mendapatkan gaji pokok, tunjangan, dan lain sebagainya, itu sebesar kira-kira lima juta tiga ratus," kata Sutiyoso.

"(Kalau) dia bujang, enggak masalah. Duit itu kirim ke rumah untuk membantu sekolah adik-adiknya, saya berikan makan di asrama, dia tinggal di barak tidak bayar, makannya dapur sangat murah sekali tahu tempe setiap hari, ditambah sendiri dengan teri dan lain sebagainya. Saya lihat terus, bayangkan, saya 25 tahun kumpul dengan mereka. Itu waktu yang lama sekali," ucapnya.

Masalah belum habis sampai di situ. Sutiyoso juga melihat para prajurit golongan Tamtama dan Bintara yang sudah menikah, harus menghadapi kehidupan dengan gaji yang sangat kecil.

Sutiyoso memastikan para prajurit golongan Tamtama dan Bintara TNI yang sudah menikah tidak akan dapat fasilitas perumahan. Oleh sebab itu, para prajurit ini harus mengontrak rumah yang sangat sederhana.

"Kemudian, bagaimana dengan yang menikah. Saya pastikan, untuk yang menikah tingkat Tamtama dan Bintara dia tidak akan mendapat fasilitas perumahan. Perumahan sangat terbatas, sebagian besar masih ditempati oleh para senior-seniornya para purnawirawan," ucapnya.

"Lantas dia harus bagaimana? Dia harus kontrak nyewa rumah. Rumah sederhana satu kamar sudah satu juta. Kalau anaknya sudah besar, tidak bisa satu kamar harus dua kamar. Katakan satu setengah juta, lima juta tadi dikurangi satu setenga juta sisanya tiga setengah (juta) lebih sedikit, cukupkah membiayai kehidupan satu bulan? Cukupkah itu?" katanya.