Letjen TNI Edy Sindir Lurah: Duit Jangan Kau Pakai Kawin Terus!

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sosoknya dikenal lugas dan tentunya tegas. Ya, siapa lagi kalau bukan Letjen TNI (Purn.) Edy Rahmayadi. Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad), ternyata tak kehilangan karakternya sebagai seorang pemimpin saat menjadi Gubernur Sumatera Utara (Sumut).

Sudah hampir tiga tahun jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1985 menjadi orang nomor satu di Sumatera Utara, sejak dilantik pada 5 September 2018.

Sebagai seorang Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat, Edy jelas punya karakter kepemimpinan yang lugas dan tentunya tegas. Bahkan, pria yang juga pernah menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan ini juga dikenal sosok yang ceplas-ceplos.

Lewat pantauan VIVA Militer dari akun Youtube resmi Edy Rahmayadi Channel, pria kelahiran Sabang 10 Maret 1961 ini memberikan pernyataan tegas saat melakukan kunjungan ke Kota Pematang Siantar, Juli 2019 silam.

Dengan caranya yang ceplas-ceplos itu, Edy memberikan arahan kepada para seluruh pejabat daerah di wilayah Pematang Siantar. Mulai dari Lurah, Camat, hingga Walikota. Dalam kesempatan itu, Edy menyoroti pemaksimalan dana desa untuk kepentingan rakyat.

Edy menegaskan, Lurah harus bisa melihat potensi wilayah yang dipimpinnya. Selain itu, penggunaan dana juga harus tepat sasaran, sesuai dengan potensi yang ada. Edy bahkan menyindir para lurah agar dana desa tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, buat kawin lagi misalnya.

"Uang lurah berapa? Pura-pura tak tahu Kau? 1m sampai 3m tergantung daerahnya. Hey, aku ini manusia waras. Panggil DPR nya, panggil Babinsa nya, panggil Babinkamtimas nya, dia yang ngatur di desa di kelurahan itu apa potensi wilayahnya," ujar Edy.

"Banyak air, kolam ikan. Banyak sawah, uangnya itu fokuskan ke sawah. Bukan kalian pakai kawin aja terus," katanya.

Apa yang disampaikan Edy dalam pidatonya memang tepat. Edy menjelaskan bagaimana pembangunan desa bisa menyokong pembangunan kota. Jika desa tidak mampu memaksimalkan wilayahnya, maka secara otomatis kota pun tidak akan tertata dengan baik.

"Makanya saya bilang, membangun desa menata kota. Selama desa ini tak terbangun, kota tak akan pernah tertata," ujar Edy melanjutkan.

"Setelah saya ngomong begini saya akan datang ke tempat kalian. Main-main lah kau kalian. Saya akan datang, saya tak akan minta izin lagi sama walikota. Karena saya berdasarkan Undang-undang adalah perwakilan pusat di daerah. Jangan macam-macam walikota ini," katanya.