Letjen TNI Prabowo: Semua Tentara Bersahabat, Politisinya yang Musuhan

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Meski kerap dikaitkan dengan semua hal yang keras dan represif, seorang prajurit militer tentunya hanya manusia biasa. Setiap tentara juga punya hati nurani dan perasaan sebagaimana Tuhan ciptakan. Ada satu kisah yang diceritakan oleh mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Letjen TNI (Purn.) Suryo Prabowo soal sisi humanisme seorang prajurit.

Seperti yang diketahui, Suryo Prabowo adalah salah satu Perwira Tinggi (Pati) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), yang pernah ikut bertempur dalam sejumlah operasi militer.

Salah satu yang dikenangnya adalah saat ia bertugas sebagai Komandan Pleton (Danton) Kompi B Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) I/Bukit Barisan, dalam Operasi Seroja di Timor-Timur.

Jebolan Akademi Militer (Akmil) 1976 ini jadi saksi kejamnya perang. Dalam laporan VIVA Militer, Jumat 11 Desember 2020, dikisahkan bagaimana Suryo Prabowo bahkan nyaris menghabisi nyawa anak buahnya yang sekarat akibat terkena ranjau.

Dikutip dari buku otobiografinya yang berjudul "Si Bengal Jadi Jenderal", pria kelahiran Semarang 66 tahun lalu hampir saja membunuh Kopral Amin yang badannya hancur saat menyisir ranjau di daerah Larigutu, Timor-Timur.

Apa yang ingin dilakukan Suryo Prabowo tak lain adalah agar sang anak buah tidak menderita lebih lama. Di momen itu pula, sang prajurit korps pasukan elite itu menitihkan air mata. Walau bagaimana pun, Suryo Prabowo adalah seorang manusia biasa yang punya perasaan.

***

"Yang jelas tentara itu humanis. Karena, dia paling menderita waktu bertempur. Dia melihat orang mati karena senjatanya, mungkin karena senjata temennya. Saya pernah empat hari tiga malam bertempur tidak berhenti," ucap Suryo Prabowo.

Keterlibatannya dalam Operasi Seroja dalam waktu yang cukup lama, membuat Suryo Prabowo jadi salah satu Perwira Tinggi TNI Angkatan Darat yang terkena blacklist dari imigrasi sejumlah negara. Nama Suryo Prabowo masuk dalam daftar hitam, karena diduga terkait masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Negri Lorosae saat masih bertugas.

Pada Agustus 2016 silam, Suryo Prabowo gagal masuk Singapura dan tertahan di Bandara Changi. Larangan masuk diberlakukan pihak imigrasi Singapura, lantaran nama mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan dan Pangdam Jayakarta ini ada dalam daftar blacklist imigrasi Singapura.

Bagi Suryo Prabowo, peristiwa itu menyadarkannya bahwa seorang prajurit layaknya sebilah pisau. Meskipun tajam, pisau tidak akan berguna jika tidak ada yang menggunakannya. Tak cuma itu, Suryo Prabowo juga mengibaratkan tentara seperti sebuah pistol.

Seperti halnya pisau, secanggih apa pun pistol atau pun senjata lainnya, tidak akan bisa menembakkan peluru dengan sendirinya. Tanpa ada, orang yang menekan pelatuknya.

"Sebenarnya di seluruh dunia itu tentara bersahabat. Yang bermusuhan itu politisinya.Tentara itu kayak pisau, dia enggak bisa disalahkan. Yang disalahkan yang megang pisau itu. Tentara itu kayak pistol, senjata. Dia enggak bisa nembak sendiri," kata Suryo Prabowo.