Kisah Letnan TNI Anak Buah Prabowo Paling Gila Saat Perang

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tak perlu diragukan lagi jiwa kepemimpinan Letjen TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Meskipun Prabowo adalah seorang perwira, namum saat masih aktif berdinas di TNI Angkatan Darat ia selalu menghormati seluruh rekannya. Tak terkecuali mereka yang menjadi anak buahnya.

Prabowo memang dikenal sebagai seorang anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Pria kelahiran Jakarta 17 Oktober 1951 itu menghabiskan sebagian besar kariernya bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), di Korps Baret Merah.

Prabowo bahkan pernah menjadi orang nomor satu, saat dipercaya menduduki posisi sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus), periode 1 Desember 1995 hingga 20 Maret 1998.

Akan tetapi, Prabowo juga sempat mengenakan Baret Hijau yang menjadi khas pasukan Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad).

Pada 1985, Prabowo pernah menjabat sebagai Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328/Dirgahayu (Yonif Linud 328/Dirgahayu), atau yang saat ini bernama Yonif Para Raider 328/Dirgahayu.

Tak hanya itu, pasca menamatkan pendidikan militer Special Forces Officer Course di Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat (AS), Prabowo pun ditunjuk menjadi komandan di batalyon elte tempur Kostrad itu.

Seperti yang dikatakan tadi, Prabowo tak pernah memilih sosok untuk belajar. Termasuk dari anak buahnya sendiri, Prabowo juga mendapatkan banyak ilmu saat menghadapi pertempuran.

Dikutip VIVA Militer dari buku "Indonesia Menang", Prabowo pernah sangat terkesima dengan sosok seorang Perwira Pertama (Pama) TNI yang berpangkat Letnan Dua (Letda) Infanteri (Inf), bernama Siprianus Gebo. Siprianus adalah anak buah Prabowo saat menjadi Danyonif Linud 328/Dirgahayu.

Pada suatu ketika, Siprianus mendapat perintah dari Prabowo untuk menyusup ke markas musuh. Prabowo tentu tak asal tunjuk.

Sebab, Siprianus disebut adalah seorang yang memiliki fisik dan mental sekeras baja. Prajurit TNI asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), selalu menjuarai kejuaraan lari hingga kejuaraan menembak.

Tak diketahui pasti letak markas kelompok pemberontak Front Revolusi Kemerdekaan Timor-Leste (Fretilin) itu. Namun demikian, Siprianus harus merayap sejauh 4 kilometer untuk mencapai sasarannya. Sayang, dalam misi itu Siprianus yang masih sangat muda gugur.

Mendengar kabar anak buah kebanggaannya gugur, Prabowo pun merasa sangat kehilangan. Dari sosok Siprianus lah, Prabowo melihat bukti nyata penerapan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Prabowo mengerti betul bagaimana para anak buahnya yang berbeda suku dan agama, tetap setia dan rela mengorbankan jiwa raga untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).