Lewat Program BIRU, Kementerian ESDM: 25.157 biodigester terbangun

Ahmad Buchori
·Bacaan 3 menit

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan hingga 2021, sebanyak 25.157 unit biodigester telah terbangun melalui program biogas rumah atau BIRU.

Program biogas rumah dengan memobilisasi pendanaan Rp200 miliar itu telah menyumbang lebih dari 50 persen dari total 47.998 unit terpasang biodigester, alat yang digunakan untuk mengubah limbah organik menjadi biogas, secara nasional hingga 2021.

"Kami menyampaikan apresiasi kepada Hivos dan Yayasan Rumah Energi atas kontribusinya mendukung program pengembangan sektor energi skala kecil melalui program biogas rumah ini," ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mewakili Menteri ESDM saat membuka pembelajaran secara virtual bertajuk "Satu Dekade Program Biru Indonesia" guna memperingati satu dekade hadirnya program BIRU di Jakarta, Selasa.

Pemerintah Indonesia cq Kementerian ESDM dan Pemerintah Belanda cq Hivos meluncurkan program BIRU sebagai upaya berkontribusi pada kemakmuran ekonomi dan pengurangan kemiskinan di Indonesia dengan menyediakan akses ke energi bersih dan terjangkau melalui pengembangan biogas.

Program BIRU ini merupakan salah satu upaya mencapai target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025.

Dikutip dari laman Kementerian ESDM, Selasa, Dadan berharap melalui pembelajaran ini masyarakat belajar dari kisah sukses program BIRU dan mampu mengakselerasi target 1.000.000 biodigester berbasis pasar.

Satu dekade setelah diluncurkan pada 2009, program BIRU telah menjangkau lebih dari 119.000 penerima manfaat.

Tak hanya itu, pengguna menikmati pengurangan pemakaian elpiji tiga kg dan pupuk kimia, serta memperoleh pendapatan dari bisnis pupuk alami (bioslurry).

Pada kesempatan tersebut, Direktur Regional Asia Tenggara Hivos Biranchi Upadhyaya mengungkapkan di tengah pandemi COVID-19, pengguna biogas memiliki ketahanan paling besar.

"Biogas mampu mandiri menciptakan penerangan dan energi memasak gratis di samping menyediakan sumber pangan lokal bagi keluarga dan penghasilan dari hasil pertanian melalui pemanfaatan pupuk dari ampas biogas untuk mendukung pertanian berkelanjutan," ujarnya.

Dari sisi pembukaan lapangan pekerjaan, program BIRU telah membangun kapasitas 1.444 UKM mitra konstruksi terlatih.

Dengan moto "Olah Limbah Jadi Berkah", program BIRU menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang menekankan pada pengolahan sampah, mempertahankan nilai ekonomi selama mungkin, dan memaksimalkan yang dapat terbarukan.

Dengan demikian, sektor biogas diprediksi dapat berkontribusi pada pengurangan limbah dan emisi karbonnya, menyediakan energi bersih skala kecil, dan membuka lapangan kerja (hijau) bagi UKM.

Skema pembiayaan campuran (blended finance) diterapkan dengan tujuan meringankan biaya investasi pengguna biogas.

Saat ini, program BIRU telah bermitra dengan 34 koperasi dan credit union (CU) yang telah menyalurkan pembiayaan biogas kepada masyarakat di tingkat tapak.

Hingga akhir 2019, secara kumulatif program BIRU telah menurunkan emisi 370.000 ton CO2e.

Pada akhir Maret 2021 akan dilakukan serah terima program BIRU dari Hivos ke Yayasan Rumah Energi​​​​​​​ (YRE), sehingga tanggung jawab penuh pengelolaan dilakukan oleh YRE.

Sementara, koordinasi pelaksanaan program tetap dilakukan dengan Ditjen EBTKE terkait rencana kerja program, sinkronisasi data capaian pengembangan biogas dengan kementerian/lembaga lainnya sesuai target RPJMN 2020-2024, penyusunan roadmap biogas, dan diskusi mengenai kelanjutan program salah satunya terkait pembiayaan program melalui dana alokasi khusus.

"Dalam merayakan satu dekade implementasi program BIRU ini, kami beserta para pemangku kepentingan berkomitmen meningkatkan agilitas dan berinovasi baik dari segi teknis maupun model bisnis. Tahun 2021, kami mengujicobakan dua varian baru biogas serta pengaplikasian sensor jarak jauh untuk memonitor performa biogas BIRU. Ke depannya, kami berharap semakin banyak koperasi, lembaga perbankan, dan fintech yang dapat berkolaborasi di bawah program BIRU," ujar Rebekka S Angelyn selaku Direktur Eksekutif YRE.

Kementerian ESDM akan terus mendukung pengembangan biogas rumah tangga, karena program ini akan mendorong akses energi bersih yang terjangkau, mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk pembelian bahan bakar, sejalan dengan pengarusutamaan gender, dan menjadi penggerak aktivitas sosial ekonomi, karena hasil sampingan biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan hasil pertanian maupun sebagai peluang usaha.

Pengintegrasian program pengembangan biogas dengan sektor produktif lain, merupakan cara efektif dan efisien dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, terlebih pada masa pandemi ini.

Keterlibatan masyarakat yang dominan dalam program ini, juga sejalan dengan strategi kebijakan pemulihan ekonomi nasional pascapandemi COVID-19.

Baca juga: Kementerian ESDM dorong biogas jadi penggerak ekonomi masyarakat

Baca juga: Kementerian ESDM susun peta jalan pemanfaatan biogas berkelanjutan

Baca juga: Masih penuh tantangan, pemerintah tetap optimistis dalam pengembangan biogas

Baca juga: Masih rendah, pemanfaatan biogas terus digencarkan