Lia Eden Meninggal Dunia pada Jumat 9 April 2021

·Bacaan 1 menit
Lia Aminnuddin beserta jamaahnya melakukan doa bersama di depan gedung KPK, Jakarta, Senin (16/2/15). Lia berharap Tuhan segera menyelesaikan kisruh KPK dan Polri (Liputan6.com/Faisal R syam)

Liputan6.com, Jakarta - Lia Aminuddin atau dikenal sebagai Lia Eden meninggal dunia. Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) mengatakan, Lia Eden mengembuskan napas terakhir pada Jumat 9 April 2021.

"Lia Eden (Lia Aminudin) yang sejak 1995 meyakini terus menerima bimbingan malaikat Jibril telah meninggal Jumat lalu (9/4)," kata pegiat Sejuk, Tantowi Anwari saat dikonfirmasi, Minggu (11/4/2021).

Tantowi menyebut, Lia Eden pernah dijebloskan ke jeruji besi pada era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, wanita kelahiran Jakarta, 21 Agustus 1947 tersebut dijerat menggunakan pasal penodaan agama.

"Di masa bulan madu negara MUI, era kepemimpinan Presiden SBY, Lia Eden dipenjara dua kali (2006 dan 2008) dengan pasal penodaan agama," ujar dia.

"Selamat jalan, Lia Eden. Beristirahatlah dalam kemenangan yang maha damai. Estafet perjuanganmu berlanjut senantiasa: urusan setiap warga dengan Tuhannya tidak bisa dibatasi dan dikurangi oleh negara, apalagi dipenjara," kata Tantowi.

Mengaku Dapat Wahyu

Lia Eden pernah mengaku mendapat wahyu dari malaikat Jibril untuk mendakwahkan aliran kepercayaan baru melanjutkan ajaran tiga agama samawi, yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Aliran baru tersebut juga diklaim menyatukan agama-agama besar lainnya termasuk Budha dan Hindu di Indonesia.

Lia Eden kemudian mendirikan sebuah jemaat yang disebut Salamullah untuk menyebarluaskan ajarannya. Dia secara kontroversial mengaku sebagai titisan Bunda Maria dan ditugaskan Jibril untuk mengabarkan kedatangan Yesus Kristus ke muka bumi.

Lia Eden juga membuatkan beberapa ramalan yang sensasional, termasuk soal kiamat. Hal ini membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa, Lia Eden menyebarkan aliran sesat dan melarang perkumpulan Salamullah pada bulan Desember 1997.

Reporter: Titin Supriatin

Sumber: Merdeka

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: