Liga 1: Arema Serasa Punya Dua Pemain Asal Jepang

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Malang - Gelandang Renshi Yamaguchi bukan satu-satunya pemain Arema FC asal Jepang. Ada nama pemain muda Seiya da Costa Lay yang juga pemain keturunan dari negara yang sama.

Bedanya, Seiya masuk dalam kategori pemain lokal karena dia memilih paspor Indonesia meski dia lahir dan keluarganya masih ada di Jepang.

Renshi dan Seiya saat ini merasa seperti reuni di Malang. Keduanya juga tidak terlalu merasa jenuh di masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat sejak 3 Juli lalu lantaran sejak itu juga Arema hanya menggelar latihan virtual.

“Kami sudah berteman baik. Renshi ajak main ke rumahnya. Nonton televisi. Juga ngobrol membahas pengalaman di Jepang,” kata Seiya.

Sebenarnya pertemuan kedua pemain ini bisa dibilang tak sengaja. Renshi yang baru gabung Arema bulan tahu tak tahu di tim Arema FC ada pemain keturunan Jepang. Baru setelah beberapa kali latihan bersama dia mengetahuinya.

Salah satu kesamaan mereka di Indonesia adalah kuliner. Renshi dan Seiya mengakui banyak makanan enak yang hanya ada di negara ini.

“Rendang, sop buntut, bakso dan lainnya. Enak sekali,” kata Renshi.

Berburu kuliner lokal juga jadi bagian dari adaptasi mereka. Jika tidak bisa beradaptasi dengan makanan, tentu mereka bisa merasa kurang nyaman. Selain makanan, ternyata banyak hal lain yang baru dirasakannya di Indonesia.

“Kami biasanya bicara juga soal banyak hal. Seperti waktu pertama datang ke Indonesia. Di toilet saja saya bingung. Biasanya di Jepang pakai kertas tissue. Tapi di sini (Indonesia) pakai air,” kata Seiya.

Posisi Bermain Sama

Renshi Yamaguchi saat latihan dengan Arema FC di Stadion Gajayana Malang. (Iwan Setiawan/Bola.com)
Renshi Yamaguchi saat latihan dengan Arema FC di Stadion Gajayana Malang. (Iwan Setiawan/Bola.com)

Di lapangan, seharusnya dua pemain ini harus bersaing. Mereka ada di posisi yang sama. Sebagai gelandang bertahan. Namun peluang Renshi jadi starter Arema FC lebih besar.

Selain pemain asing dia sudah berpengalaman bermain di beberapa negara. Sementara Seiya baru 19 tahun dan belum merasakan kompetisi level teratas.

“Saya berharap nanti kompetisi bergulir, bisa main,” kata Seiya.

Pastinya, Renshi tak merasakan Seiya sebagai saingan. Dia justru ingin membimbing juniornya itu dengna memberikan masukan di lapangan. Itu penting bagi Seiya. Kebetulan secara komunikasi juga Renshi tergolong bagus. Dia tipikal pemain yang terbuka dan suka berinteraksi.

Video

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel