Liga 1: Direktur Persija Menyebut Boaz Solossa Sebagai Striker Istimewa, Kode Keras?

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Usai dilepas Persipura Jayapura, Boaz Solossa santer dikaitkan dengan sejumlah tim Liga 1 dan Liga 2. Satu di antaranya adalah Persija Jakarta.

Dalam channel youtube Akurasi TV, Direktur Pengembangan Persija Jakarta, Ganesha Putera tanpa sungkan menyebut eks penyerang timnas Indonesia sebagai striker istimewa dengan kemampuan lengkap.

Menurut Ganesha, Boaz yang membawa Persipura meraih empat trofi juara Liga Indonesia memiliki kemampuan bermain di semua sisi lini depan. Bakat dan talenta alami Boaz ditunjang dengan kejeliannya mencari ruang atau celah kosong di pertahanan lawan membuatnya jadi momok menakutkan.

"Di usia emasnya, saya pikir Boaz pantas bermain di Eropa," kata Ganesha.

Ganesha menambahkan, aksi Boaz di lapangan hijau bisa jadi role model pemain muda di Indonesia. Termasuk bintang muda Persija yang juga berdarah Papua, Braif Fatari.

Di mata Ganesha, Braif punya potensi mengikuti jejak seniornya itu bila mampu meningkatkan kemampuannya, khususnya mencari ruang kosong ala Boaz serta bermain efektif pada sistem zona marking.

"Braif punya potensi besar untuk bermain di luar negeri," katanya lagi

Selain Boaz, Ganesha juga memuji talenta yang dimiliki dua gelandang muda timnas yakni David Maulana dan Syahrian Abimanyu. David dinilai Ganesha sebagai gelandang pekerja keras di dalam lapangan dengan sikap terpuji serta santun diluar lapangan. Begitu pun dengan Syahrian.

Ganesha tanpa sungkan berharap eks Sriwijaya FC dan Madura United bisa menjadi bagian Persija Jakarta. Ganesha pun memasukkan nama Syahrian dalam daftar 11 pemain terbaik Indonesia pilihannya.

Naturalisasi

Stefano Lilipaly sebagai gelandang naturalisasi jebolan Eredivisie dan Eerste Divisie membuat nilai pasarnya di atas rata-rata pemain lokal lain yakni Rp6,08 miliar sama dengan nilai pasaran Marc Klok dari Persija Jakarta. (Foto: Bola.com/Ikhwan Yanuar)
Stefano Lilipaly sebagai gelandang naturalisasi jebolan Eredivisie dan Eerste Divisie membuat nilai pasarnya di atas rata-rata pemain lokal lain yakni Rp6,08 miliar sama dengan nilai pasaran Marc Klok dari Persija Jakarta. (Foto: Bola.com/Ikhwan Yanuar)

Pada kesempatan itu, Ganesha mengungkapkan secara pribadi ia setuju dengan program naturalisasi pemain untuk meningkatkan kualitas timnas Indonesia.

"Sepanjang punya kualitas dan memenuhi syarat hukum, saya pikir sah-saja seorang pemain dinaturalisasi sebagai warga negara Indonesia," ungkap Ganesha yang pernah menjadi asisten Dirtek PSSI periode 2017-2020 ini.

Ganesha merujuk satu nama pemain yang dinilainya memang pantas di naturalisasi yakni Stefano Lilipaly, eks penyerang Persija yang kini berkostum Bali United. Dimana Ganesha, Stefano adalah sosok penyerang yang berguna buat tim yang dibelanya.

"Dia bisa bermain di semua ruang di lini depan timnya. Stefano juga kerap aktif membantu pertahanan," terang Ganesha.

Best Eleven versi Ganesha

Mantan gelandang Timnas Indonesia era 1990-an, Ansyari Lubis. (dok. Instagram Anysari Lubis)
Mantan gelandang Timnas Indonesia era 1990-an, Ansyari Lubis. (dok. Instagram Anysari Lubis)

Sebagai pelaku sepak bola, Ganesha juga punya daftar pemain terbaik berdasarkan pengamatan pribadinya. Di bawah mistar, ia memilih Edy Harto, pahlawan timnas Indonesia ketika meraih medali emas cabang sepak bola di Sea Games 1991.

"Selain memiliki refleks dan piawai membacara arah bola, dia juga terlihat tenang ketika timnya menghadapi tekanan," ungkap Ganesha yang kemudian menyebut nama Sudirman dan Donald La'ala sebagai duet stoper di depan Edy Harto.

Sudirman dinilai Ganesha, bukan hanya kuat dalam duel dengan penyerang lawan tapi memiliki umpan diagonal yang baik serta jiwa kepemimpinan tinggi di lapangan hijau.

"Saya memilih Djet Donald sebagai pendamping Sudirman karena memiliki kecepatan dalam menutup daerah. Lini belakang lebih solid dengan dua bek sayap seperti Aji Santoso dan Anang Ma'ruf yang agresif dengan umpan silang yang baik,"papar Ganesha.

Di tengah, selain Syahrian, Ganesha menyebut Bima Sakti dan Ansyari Lubis sebagai gelandang dengan kemampuan berbeda.

"Bima sangat baik sebagai gelandang bertahan dan penyeimbang permainan tim. Sementara Ansyari memiliki umpan panjang dan pendek yang baik serta mampu mengatur irama permainan tim."

Di lini serang, Ganesha menunjuk tiga nama striker yang punya kemampuan saling melengkapi yakni Boaz, Widodo Cahyono Putera dan Kurniawan Dwi Yulianto. "Ketiganya memiliki insting gol yang tinggi serta piawai mencari ruang kosong di daerah pertahanan lawan," pungkas Ganesha.

Video

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel