Liga 1 Gunakan Sistem Bubble to Bubble, Bek Sayap Bali United Butuh Adaptasi Lagi

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Denpasar - Liga 1 2021/2022 akan menerapkan sistem bubble to bubble. Artinya kompetisi kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia tersebut akan menerapkan pola sentralisasi di Pulau Jawa dengan beberapa venue terpisah dan digelar secara berseri.

Ada enam seri yang dibuat dalam Liga 1 2021/2022. Seri pertama berlangsung di Jawa Barat dan Banten, sementara seri kedua digelar di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sementara itu, seri ketiga digelar di Jawa Timur yang langsung dilanjutkan dengan seri keempat di tempat yang sama.

Kemudian seri kelima Liga 1 2021/2022 kembali digelar di Yogyakarta dan Jawa Tengah, dan seri keenam kembali ke Jawa Barat dan Banten.

Masing-masing seri membutuhkan sekitar 42 hingga 45 hari untuk menyelesaikannya. Jadi dirata-rata, masing-masing klub di setiap seri akan menjalani lima hingga enam pertandingan.

Dengan format sentralisasi dan waktu bergulirnya liga yang memerlukan waktu sampai Maret 2022, jelas perlu banyak persiapan untuk masing-masing pemain di setiap klub.

Apalagi bagi pemain yang sudah berkeluarga atau berasal dari luar Pulau Jawa. Kerinduan akan keluarga bisa menjadi tantangan. Tidak mungkin saat Liga 1 berlangsung, para pemain bisa seenaknya keluar dan masuk hotel.

Protokol Kesehatan yang Ketat

Asisten pelatih Bali United, Antonio Claudio (kanan), bersama pelatih Stefano Teco Cugurra saat memantau sesi latihan timnya di Lapangan Yoga Perkanthi Jimbaran beberapa waktu lalu. (Bola.com/Maheswara Putra)
Asisten pelatih Bali United, Antonio Claudio (kanan), bersama pelatih Stefano Teco Cugurra saat memantau sesi latihan timnya di Lapangan Yoga Perkanthi Jimbaran beberapa waktu lalu. (Bola.com/Maheswara Putra)

Pasti ada protokol kesehatan yang ketat diterapkan Liga 1 2021/2022. Satu di antara beberapa klub yang menjalankan protokol kesehatan ketat selama pandemi COVID-19 adalah Bali United.

Pelatih Bali United, Stefano Cugurra, memiliki kebijakan ketat terkait gerak-gerik pemain selama sentralisasi. Kebijakan tersebut sudah diterapkan ketika Piala Menpora 2021 berlangsung pada Maret hingga April lalu.

Bagi para pemain, kondisi seperti itu membuat mereka harus bisa beradaptasi dengan cepat. Kejenuhan menjadi momok yang perlu dihadapi.

Bek kanan Serdadu Tridatu, Dias Angga Putra, mengungkapkan jika semua pemain Bali United, termasuk dirinya, harus cepat beradaptasi.

Apalagi dia baru saja memiliki tiga anak kembar, tentu akan lebih sulit baginya untuk beradaptasi. Mungkin saja keluarga kecilnya itu diboyong di setiap serinya.

"Tentunya ini situasi yang baru bagi saya dan berbeda dari sebelumnya. Saya harus bisa beradaptasi cepat dengan kondisi seperti saat ini. Soal keluarga saya dibawa atau tidak, masih belum tahu. Satu yang penting mereka semua aman dan sehat dulu pada situasi saat ini," ujarnya.

Menatap Piala Wali Kota Solo Dulu

Piala Walikota Solo - Ilustrasi Logo (Bola.com/Adreanus Titus)
Piala Walikota Solo - Ilustrasi Logo (Bola.com/Adreanus Titus)

Selain tantangan untuk cepat beradaptasi dengan sistem bubble to bubble yang akan digunakan di Liga 1 2021/2022, ada tantangan awal yang harus dihadapi mantan bek kanan Pelita Bandung Raya (PBR) dan Persib Bandung itu.

Tantangan tersebut adalah bagaimana bisa melewati hadangan Bhayangkara FC pada laga awal Piala Wali Kota Solo yang digelar pada Rabu (30/6/2021).

Bagi Dias, Piala Wali Kota Solo menjadi ajang pembuktian Serdadu Tridatu.

"Kami harus serius. Mau menghadapi siapa pun, kami harus respek terhadap tim lawan dan kami juga wajib berusaha maksimal untuk mendapatkan hasil terbaik untuk Bali United," tutupnya.

Video

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel