Liga 1 Tanpa Degradasi, PSSI Tak Percaya Protokol Kesehatan Sendiri?

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 2 menit

VIVA – Beberapa bulan lalu, PSSI ngotot tetap melanjutkan Liga 1 meski pandemi COVID-19 di Indonesia masih tinggi tingkat penyebarannya. Salah satu alasan mengapa mereka ingin sekali kompetisi berlanjut karena sudah punya protokol kesehatan yang dibuat sedemikian baik.

Akan tetapi, keinginan PSSI untuk melanjutkan Liga 1 musim ini tidak bisa direalisasikan. Mulai dari rencana pada bulan November 2020, atau sebulan setelahnya.

Kepolisian memilih untuk tidak mengeluarkan izin keramaian kepada PSSI. Ahasil rapat Komite Eksekutif dilakukan dan dihasilkan kesepatan untuk menunda seluruh kompetisi sepakbola Indonesia sampai awal 2021.

Yang kemudian menjadi menarik adalah pernyataan Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Akhmad Hadian Lukita. Beberapa hari lalu dia memberi penjelasan terkait keputusan Liga 1 2020 tanpa ada degradasi ketika dilanjutkan kembali.

Publik menganggap keputusan itu malah akan membuat kompetisi akan berjalan dengan kualitas yang menurun. Klub dan juga pemain tak perlu bersusah payah memburu kemenangan.

"Dihapusnya degradasi itu hasil dari rapat PSSI. Kami harus memaklumi karena kondisi sekarang. Kompetisi saat ini jauh dari kata normal," tutur Akhmad Hadian.

Sebagai operator, PT LIB memang cuma bertugas mengeksekusi keputusan dari PSSI. Tapi, mengapa federasi kemudian memutuskan untuk menghapus degradasi?

Akhmad Hadian menuturkan, keputusan tersebut lahir karena ada kekhawatiran di tengah jalan ada klub yang pemainnya banyak terkena COVID-19. Dengan begitu, tentu jalannya kompetisi akan tidak adil.

"Kemarin itu kan pertimbangannya takut ada klub yang pemainnya banyak terpapar COVID-19 dan menurunkan kualitas. Kalau kondisinya begitu, kompetisi jadi tidak fair," katanya.

Jika PSSI memaksa untuk melanjutkan Liga 1 dengan alasan sudah punya protokol kesehatan yang begitu ketat, mengapa kekhawatiran adanya penyebaran pandemi COVID-19 dari lapangan sepakbola masih ada. Bahkan sampai harus mengubah peraturan yang begitu penting dalam sebuah kompetisi.

Apakah PSSI tidak percaya betul akan protokol kesehatan yang mereka ciptakan sendiri? Lalu artinya, para pemain, pelatih, dan mereka yang terlibat dalam sebuah pertandingan tetap punya risiko tinggi terkena COVID-19?