Liga Inggris: 5 Alasan Mengapa Manchester United Telat Banget Memecat Ole Gunnar Solskjaer

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Manchester United akhirnya memecat Ole Gunnar Solskjaer. Pemecatan ini terbilang terlalu terlambat.

Isu pemecatan Ole Gunnar Solskjaer sebenarnya sudah naik-turun sejak awal musim. Lalu, kekalahan 1-4 dari Watford akhir pekan lalu (20/11/2021) menjadi titik puncak desakan pemecatan tersebut.

Tidak sampai tiga tahun melatih MU, Solskjaer harus meninggalkan kursi pelatih. Sayangnya, dia pergi dengan kesan buruk dan tanpa trofi.

Kepergian Solskjaer ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, bahkan terkesan terlambat. Manajemen Setan Merah sebelumnya terus menunda-nunda pengambilan keputusan tersebut.

Setidaknya ada 5 alasan mengapa Ole Gunnar Solskjaer seharusnya dipecat lebih cepat? Apa saja sih? Scroll ke bawah yuk, Bolaneters!

1. Krisis Taktik

Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, masuk dalam pelatih paling awet di Liga Inggris saat ini. Meski telah mengalami serangkaian hasil buruk, Nyatanya ole selalu selamat dari pemecatan. Berikut 6 pelatih paling awet di saat ini. (AFP/Oli Scarff)
Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, masuk dalam pelatih paling awet di Liga Inggris saat ini. Meski telah mengalami serangkaian hasil buruk, Nyatanya ole selalu selamat dari pemecatan. Berikut 6 pelatih paling awet di saat ini. (AFP/Oli Scarff)

Bulan-bulan awal melatih Manchester United, Solskjaer terbukti mampu membangkitkan tim yang sempat terpuruk di era Jose Mourinho. Solskjaer dianggap sukses sebagai interim.

Kesuksesan itu mengantarkan Solskjaer meneken kontrak permanen. Tentu kontrak ini memberikan suntikan moral, MU masih bermain baik.

Sayangnya, level permainan MU terus merosot dalam satu setengah tahun terakhir. Solskjaer dinilai tidak punya variasi taktik untuk membantu MU menghadapi laga-laga sulit.

2. Tanpa Trofi

Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, setelah timnya gagal menjuarai Liga Europa. (AP/Kacper Pempel).
Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, setelah timnya gagal menjuarai Liga Europa. (AP/Kacper Pempel).

Solskjaer tercatat sebagai pelatih dengan pengeluaran belanja pemain terbesar di antara pelatih Premier League lainnya dalam periode yang sama. Ini menunjukkan dukungan manajemen untuk Solskjaer.

Sayangnya, hingga kepergiannya Solskjaer belum bisa mempersembahkan trofi. Paling banter MU hanya bisa melaju sampai final dan finis sebagai runner-up.

Tentu ini catatan mengecewakan untuk pelatih yang sudah bekerja hampir selama tiga tahun. Untuk standar MU, seharusnya Solskjaer sudah dipecat lebih cepat.

3. Manajemen Skuad

Wan-Bissaka yang tertangkap mata wasit saat menerjang pemain Young Boys Christopher Martins tanpa ampun diganjar kartu merah. (AFP/Sbastian Bozon)
Wan-Bissaka yang tertangkap mata wasit saat menerjang pemain Young Boys Christopher Martins tanpa ampun diganjar kartu merah. (AFP/Sbastian Bozon)

Skuad MU yang sekarang tidak bisa disebut buruk. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir MU memiliki salah satu skuad terbaik di Liga Inggris.

Musim ini mereka punya pemain-pemain top seperti Cristiano Ronaldo dan Bruno Fernandes, dan masih ada nama-nama seperti Marcus Rashford dan Jadon Sancho.

Sayangnya, Solskjaer tampak kesulitan memaksimalkan potensi skuadnya. Pemilihan starting XI meragukan, pergantian pemain juga kurang meyakinkan.

4. Level Pelatih

Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer (kiri), berbincang dengan manajer Manchester City, Josep Guardiola usai laga lanjutan Liga Inggris 2020/21 pekan ke-12 di Old Trafford Stadium, Sabtu (12/12/2020). Manchester United bermain imbang 0-0 dengan Manchester City. (AFP/Paul Ellis/Pool)
Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer (kiri), berbincang dengan manajer Manchester City, Josep Guardiola usai laga lanjutan Liga Inggris 2020/21 pekan ke-12 di Old Trafford Stadium, Sabtu (12/12/2020). Manchester United bermain imbang 0-0 dengan Manchester City. (AFP/Paul Ellis/Pool)

MU harus berterima kasih pada Solskjaer karena bisa membangkitkan tim sebagai pelatih interim. Saat itu Solskjaer mampu mengembalikan jati diri MU yang sempat rusak di era Mourinho.

Namun, seharusnya manajemen MU tahu bahwa kualitas Solskjaer hanya sampai di level itu. Dia bagus sebagai interim, tapi tidak cukup berkualitas untuk jadi pelatih utama dengan target juara.

Solskjaer masih minim pengalaman. Dia perlu melatih tim-tim lain terlebih dahulu sebelum menuntun MU jadi juara.

5. Suara Fans

Hal tersebut ia lakukan usai Manchester United dikalahkan Watford 1-4. (AFP/Ian Kington)
Hal tersebut ia lakukan usai Manchester United dikalahkan Watford 1-4. (AFP/Ian Kington)

Fans MU sudah lama menyuarakan pemecatan Solskjaer, bahkan sejak musim lalu. Sayangnya, pihak klub tampak mengabaikan suara-suara tersebut.

Situasi Solskjaer sedikit unik. Ada pola yang terulang: MU main buruk > #OleOut membahana > MU main apik > Solskjaer aman.

Pola tersebut terus terulang, tapi pihak klub tampak pasif. Andai lebih mendengarkan permintaan fans, mungkin Solskjaer sudah dilepas sebelum situasi semakin buruk seperti sekarang.

Sumber: Express, Bola

Disadur dari: Bola.net (Richard Andreas, published 22/11/2021)

Posisi MU Saat Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel