Liga Premier sebut dukungan untuk Black Lives Matter tidak politis

Oleh Simon Evans

(Reuters) - Liga Premier pada Selasa menegaskan kembali komitmennya mendukung kampanye anti-rasisme yang disebutnya tidak politis, meskipun liga "sadar pada risiko yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok yang berusaha membajak alasan dan kampanye rakyat.

Liga ini mengeluarkan pernyataan setelah kepala eksekutifnya Richard Masters dicecar oleh anggota parlemen Inggris pada sidang Selasa tentang dukungan liga terhadap gerakan Black Lives Matter (BLM).

Pada dengar pendapat Komisi Digital, Budaya, Media & Olahraga (DCMS), Masters membela keputusan kolektif para pemain dan klub dalam mengenakan 'Black Lives Matter' di baju mereka dengan menyebut alasan sebagai alasan moral.

Ketika liga dimulai kembali bulan ini setelah berhenti tiga bulan akibat pandemi COVID-19, semua pemain memakai "Black Lives Matter" di baju mereka alih-alih nama mereka pada putaran pertama pertandingan. Mereka terus berlutut sebelum kickoff guna mendukung BLM.

"Liga Premier memberikan dukungan ini karena kami sepenuhnya setuju dengan tujuan tunggal para pemain dalam menghapus prasangka rasial di mana pun itu ada," kata liga dalam sebuah pernyataan, Selasa.

Para pemain akan terus memakai logo Black Lives Matter di lengan baju mereka hingga akhir musim, tetapi liga mengatakan dukungan ini tidak memiliki kaitan dengan kelompok-kelompok politik yang terhubung dengan gerakan tersebut.

Sebuah kelompok,'UKBLM', yang telah mengumpulkan dana lebih dari 1 juta pound melalui permohonan gofundme yang menyerukan pembongkaran kapitalisme, telah mencuitkan pencabutan dana untuk polisi dan membuat serangkaian posting media sosial tentang isu-isu mengenai Israel/Palestina.

"Kami sadar pada risiko yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok yang berupaya membajak tujuan-tujuan dan kampanye rakyat guna mempromosikan pandangan politik mereka sendiri," kata liga.

"Tindakan ini sepenuhnya tidak diterima dan ditolak oleh Liga Premier dan semua badan sepak bola profesional lainnya, dan mereka menggarisbawahi pentingnya olahraga kita bersama untuk menyatakan posisi yang sangat jelas terhadap prasangka."

"Kami ingin pesan kami menjadi pesan positif yang mengakui sepak bola memiliki kekuatan dalam menyatukan masyarakat."

Pada dengar pendapat DCMS itu, Anggota Parlemen dari Partai Konservatif Steve Brine mengatakan dukungan liga untuk gerakan BLM tampaknya menandai pergeseran dari penentangan liga sebelumnya terhadap pesan-pesan politik dalam olahraga.

Dia menyoroti kasus-kasus politik sebelumnya dalam sepakbola Inggris, seperti pernah terjadi pada Arsenal.

"Bagaimana kita bisa sampai dari (Mesut) Ozil dan Pep (Guardiola) ke Black Lives Matter, dan bisakah para pemain dan manajer Liga Premier sekarang diyakinkan bahwa segala sesuatu berjalan jika mereka memiliki alasan yang mereka rasa kuat dan Liga Premier tak akan mengambil tindakan terhadap mereka?" tanya Brine kepada Masters.

'MASA YANG BARU KALI INI TERJADI'

"Saya kira kita hidup di masa yang baru kali ini terjadi," jawab Masters.

"Para pemain terbiasa menjadi papan pesan untuk pesan orang lain dan pada kesempatan ini mereka ingin membuat dua pernyataan yang sangat jelas sebagai pemain, didukung oleh Liga Premier dan klub: Berterima kasih kepada NHS (Dinas Kesehatan Nasional) ..dan juga mengakui masalah-masalah yang terjadi di seluruh dunia dan dukungan dari sentimen Black Lives Matter," kata dia. "Kami mendengarkan dan dengan senang hati mendukung mereka."

"Saya tidak menganggap hal itu telah menciptakan preseden tertentu. Saya kira sangat mungkin untuk mendukung sentimen Black Lives Matter tanpa terlihat mendukung organisasi politik apa pun," kata dia.

"Kami adalah organisasi apolitis - kami tidak mendukung organisasi politik."

Masters mengatakan jika para pemain terlibat dalam pesan politik di lapangan tanpa persetujuan maka mereka tetap melanggar peraturan dan terancam didenda.

Anggota parlemen dari Partai Buruh Julie Elliott mengatakan dia prihatin dengan penjelasan Masters.

"Saya kira Anda membuka kaleng cacing (berusaha mengatasi masalah tapi malah kian memperumit masalah) dengan cara Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan itu," kata dia.

(Laporan Simon Evans; Disunting oleh Hugh Lawson dan Toby Davis)