Lihat Perkembangan Tibet Sebagai "Atap Dunia" Saat Ini

·Bacaan 11 menit

Liputan6.com, Jakarta Ketika mendengar Tibet, mungkin Anda memikirkan dunia di atas awan. Tibet berada di ketinggian 13 ribu kaki dari daratan sehingga wilayah ini sering disebut atap dunia.

Ekonom asal Amerika Serikat, David Blair menceritakan bahwa Tibet merupakan salah satu contoh tempat untuk menikmati keindahan alam yang nyata.

"Banyak tempat dengan alam yang indah di seluruh dunia, tetapi Tibet adalah contoh keindahan alam yang nyata dan saya sangat senang berkesempatan melihatnya," ujar Blair.

Sementara itu, Shaun Rein pendiri perusahaan riset pasar yang berbasis di Shanghai, sekaligus ekspatriat yang tinggal di China mengatakan bahwa Tibet tempat yang sangat spiritual.

Banyak tempat dengan alam yang indah di seluruh dunia, tetapi Tibet adalah contoh keindahan alam yang nyata.

Foto yang diabadikan pada 25 Mei 2021 ini menunjukkan pengusaha asal AS Shaun Rein (pertama dari kiri), ekonom AS David Blair (kedua dari kiri), dan jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan duduk di rerumputan di Kota Lunang, Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Xu Yongzheng).
Foto yang diabadikan pada 25 Mei 2021 ini menunjukkan pengusaha asal AS Shaun Rein (pertama dari kiri), ekonom AS David Blair (kedua dari kiri), dan jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan duduk di rerumputan di Kota Lunang, Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Xu Yongzheng).

Kedua orang tersebut diundang oleh China Chat, sebuah acara bincang-bincang Xinhua. Blair dan Rein menghabiskan waktu selama sepekan di Daerah Otonom Tibet, China barat daya, dalam misi pencarian fakta untuk memperoleh pengalaman langsung tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Tibet, perkembangan sosial ekonomi lokal, dan wajah asli Tibet baru yang mungkin merupakan salah satu tempat yang paling disalahpahami di dunia.

Tahun ini menandai peringatan 70 tahun pembebasan damai Tibet. Pada 23 Mei 1951, pemerintah pusat Republik Rakyat China yang kala itu masih dalam tahun-tahun awal pendiriannya, menandatangani perjanjian dengan pemerintah lokal Tibet mengenai pembebasan damai daerah tersebut, membantu rakyat Tibet melepaskan diri dari belenggu penjajah imperialis untuk selamanya.

Reformasi demokrasi yang terjadi selanjutnya pada akhir 1950-an menghapus teokrasi dan perbudakan feodal di Tibet. Dalai Lama ke-14, yang berpegang teguh pada sistem perhambaan dan perbudakan yang mendominasi Tibet lama, melarikan diri dari China setelah kudeta yang gagal untuk melawan reformasi.

Perubahan-perubahan besar ini, sebagaimana tercatat dalam buku mendiang jurnalis AS Israel Epstein tahun 1983 berjudul "Tibet Transformed", "sangat emansipatoris, secara fisik dan mental, bagi sebagian besar orang Tibet."

Dengan dukungan kuat dari pemerintah pusat dan seluruh China, serta didorong oleh upaya besar rakyat dari semua kelompok etnis di daerah tersebut, Tibet mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain di China dalam hal pembangunan sosial ekonomi.

Tibet sosialis modern baru yang bersatu, makmur, maju secara budaya, harmonis, dan indah mulai terbentuk, didukung oleh stabilitas yang berkelanjutan dan perkembangan pesat.

Pengusaha AS Shaun Rein (pertama dari kiri), ekonom AS David Blair (kedua dari kiri), dan jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan mengadakan diskusi kelompok di sebuah kafe di Kota Lunang, Daerah Otonom Tibet, China barat daya, pada 25 Mei 2021.
Pengusaha AS Shaun Rein (pertama dari kiri), ekonom AS David Blair (kedua dari kiri), dan jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan mengadakan diskusi kelompok di sebuah kafe di Kota Lunang, Daerah Otonom Tibet, China barat daya, pada 25 Mei 2021.

Konektivitas

Shaun Rein, pendiri sekaligus direktur pelaksana China Market Research Group, telah tinggal di China selama sebagian besar dari kurun waktu 24 tahun terakhir. Dia pertama kali berkunjung ke Tibet pada 2001. Rein sempat khawatir kembalinya dia ke daerah tersebut akan menjadi perjalanan kembali ke masa lalu, ke Tibet tempo dulu yang masih tertinggal dibandingkan wilayah lain di China.

"Tibet begitu miskin saat saya datang ke sini untuk pertama kalinya," tutur Rein, saat mengenang perjalanan panjang di jalan tanah yang bergelombang dan berkelok-kelok, yang membuat dirinya harus memegang erat kantong muntah.

Sebelum melakukan perjalanan kembali ke Tibet, Rein sudah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk dan mengatakan kepada timnya bahwa dia mungkin tidak dapat dihubungi karena tidak adanya jaringan telepon atau internet.

Namun, Rein ternyata keliru. Kini, jalan raya yang lancar menghubungkan ibu kota Lhasa dengan kota-kota lain yang lebih kecil di seluruh Tibet. Menara-menara pemancar untuk telepon selular pun telah didirikan, menghiasi lanskap daerah tersebut dan menyediakan kecepatan koneksi internet yang luar biasa.

Rein dikejutkan oleh berbagai perubahan di sektor transportasi Tibet selama 20 tahun terakhir, bahkan meski perubahan itu benar-benar tidak sebanding dengan apa yang disaksikan Epstein saat melakukan perjalanan 12 hari yang melelahkan dengan konvoi jip dan truk dari Chengdu di Provinsi Sichuan ke Lhasa pada 1955.

"Bahkan saat itu pun terbilang cepat sekali. Selama ribuan tahun di masa lalu, satu-satunya alat transportasi hanyalah gerobak keledai atau yak, dan waktu tempuh enam bulan sudah dianggap bagus untuk perjalanan seperti itu," tulis Epstein, menceritakan kunjungan pertamanya ke Tibet dalam bukunya.

Sejak 1951, Tibet secara bertahap membangun jaringan transportasi komprehensif yang terdiri dari jalan raya, jalur kereta api, serta rute udara.

Menurut buku putih yang diterbitkan oleh Kantor Informasi Dewan Negara China pada Mei lalu, jalan raya sepanjang 118.800 km telah dibangun, menyediakan akses ke semua desa administratif di daerah tersebut. Tercatat 94 persen kota dan 76 persen desa administratif kini memiliki akses langsung ke jalan beraspal dan beton.

"Membangun dan memperbaiki jalan di Tibet bisa sangat mahal, dan banyak dari jalan-jalan tersebut kurang termanfaatkan lantaran kepadatan populasi yang rendah di wilayah-wilayah yang lebih terpencil di daerah itu," ungkap Dong Gengyun, seorang pejabat Beijing yang dikirim ke Lhasa untuk masa tugas tiga tahun guna membantu pembangunan Tibet.

"Namun, kami harus melakukannya, karena kami di sini bukan untuk berwisata, melainkan untuk membantu membangun perekonomian lokal dan meningkatkan penghidupan warga," tutur Dong.

Jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (pertama dari kiri), ekonom AS David Blair (kedua dari kiri), dan pengusaha AS Shaun Rein (pertama dari kanan) berbincang dengan Dong Gengyun, pejabat Beijing yang dikirim ke Lhasa, di sebuah restoran di Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Xu Yongzheng).
Jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (pertama dari kiri), ekonom AS David Blair (kedua dari kiri), dan pengusaha AS Shaun Rein (pertama dari kanan) berbincang dengan Dong Gengyun, pejabat Beijing yang dikirim ke Lhasa, di sebuah restoran di Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Xu Yongzheng).

David Blair, ekonom senior sekaligus vice president di Center for China and Globalization yang berbasis di Beijing, menganggap belanja infrastruktur sebagai faktor penting karena memungkinkan orang-orang menjalankan bisnis. Di Tibet, dia melihat warga mendirikan penginapan dan bahkan pusat inovasi.

"Di banyak daerah terpencil di Amerika Serikat, Anda tidak bisa mendapatkan akses internet berkecepatan tinggi entah melalui jaringan nirkabel ataupun berkabel, dan tidak ada insentif bagi mereka yang menyediakannya," ujar Blair.

Dia merasa kagum dengan konektivitas 4G yang sangat bagus di sebuah desa kecil di pedalaman Tibet.

Peluang

Dulunya, tidak ada satu pun sekolah modern sebagaimana yang dikenal saat ini di Tibet. Tingkat buta huruf melampaui 95 persen, belum lagi kurangnya pemahaman tentang ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Didirikan pada 1956 dengan hanya memiliki 20 hingga 30 siswa, Sekolah Menengah Lhasa yang terletak di pusat kota itu merupakan sekolah menengah modern dan standar pertama dalam sejarah Tibet.

Saat ini, sekolah tersebut memiliki sekitar 3.000 siswa, dengan siswa Tibet mencakup sekitar 62 persen, tutur sang kepala sekolah, Tang Yong. Dia menambahkan bahwa sebagian besar siswanya bercita-cita melanjutkan studi ke perguruan tinggi kelak.

Ekonom AS David Blair (pertama dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (kedua dari kiri), dan pengusaha AS Shaun Rein (pertama dari kanan) berbincang dengan Tang Yong, Kepala Sekolah Menengah Lhasa di Lhasa, di Daerah Otonom Tibet, China barat daya, pada 21 Mei 2021. (Xinhua/Xu Yongzheng).
Ekonom AS David Blair (pertama dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (kedua dari kiri), dan pengusaha AS Shaun Rein (pertama dari kanan) berbincang dengan Tang Yong, Kepala Sekolah Menengah Lhasa di Lhasa, di Daerah Otonom Tibet, China barat daya, pada 21 Mei 2021. (Xinhua/Xu Yongzheng).

Dari 1951 hingga 2020, pemerintah pusat menginvestasikan 224 miliar yuan (1 yuan = Rp2.221) untuk pendidikan di Tibet. Kini, daerah itu telah memiliki sistem pendidikan modern yang meliputi prasekolah, sekolah dasar dan menengah, sekolah kejuruan dan teknik, lembaga pendidikan tinggi, dan lembaga pendidikan khusus.

Menurut Gong Xiaotang, sekretaris Partai dari Sekolah Menengah Kejuruan No. 2 Lhasa, Tibet berada yang terdepan di China dalam hal menyediakan pendidikan wajib 15 tahun yang didanai publik untuk para siswa.

Siswa sekolah kejuruan memiliki berbagai macam pilihan mata pelajaran, termasuk memasak, membuat pakaian dan obat-obatan tradisional Tibet, melukis thangka, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Sekolah ini juga mengajarkan manajemen perhotelan, akuntansi, desain iklan, dan pengoperasian pesawat nirawak (drone).

"Saya terkesan dengan anak-anak ini. Mereka mempelajari keterampilan yang akan menghasilkan uang bagi mereka, dan tampaknya mereka memahami itu di usia yang masih sangat muda. Dan saya sangat terkesan melihat begitu banyak hal yang diketahui anak-anak ini, betapa mereka bekerja keras, dan sangat berdedikasi untuk membangun masa depan mereka sendiri," kata Blair.

Foto yang diabadikan pada 21 Mei 2021 menunjukkan siswa Sekolah Menengah Lhasa bermain basket di kompleks sekolah di Lhasa, ibu kota Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Xu Yongzheng).
Foto yang diabadikan pada 21 Mei 2021 menunjukkan siswa Sekolah Menengah Lhasa bermain basket di kompleks sekolah di Lhasa, ibu kota Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Xu Yongzheng).

Ekonom asal Amerika itu juga terkesima melihat sebuah pusat produksi di Lunang, Kota Nyingchi. Di sana, para siswa sekolah dasar diajari menggunakan komputer dan mesin cetak tiga dimensi.

"Mereka menciptakan semangat dinamisme pada anak-anak ini, dan itu akan membuahkan hasil," kata Blair, menambahkan bahwa anak-anak itu akan tumbuh dewasa dengan impian untuk menjadi inovator, membangun bisnis, dan memanfaatkan peluang ekonomi.

Jalan Barkhor, yang mengelilingi Kuil Jokhang, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO dan bagian dari kompleks bersejarah Istana Potala, adalah jalur melingkar bagi peziarah yang paling terkenal di Lhasa dan selalu dipadati oleh peziarah dari seluruh daerah itu. Mereka berjalan menuntaskan putaran searah jarum jam, sembari memutar roda doa mereka ke arah yang sama.

Terdapat lebih dari 1.700 situs untuk kegiatan umat Buddha Tibet dengan 46.000 biksu dan biksuni di Tibet, sementara kegiatan keagamaan tradisional dilakukan secara teratur sesuai dengan hukum.

Setiap tahun, sejumlah besar dana dikeluarkan oleh pemerintah untuk keperluan renovasi dan pemeliharaan Istana Potala guna memastikan lingkungan yang aman bagi para peziarah untuk menjalankan ibadah mereka, menurut Jorden, Direktur Kantor Administrasi Istana Potala.

"Kami melihat banyak orang masih mempertahankan prinsip-prinsip keagamaan mereka, sementara pada saat yang sama, mereka tidak ingin menjadi miskin karena itu," kata Blair.

Pendapat senada dilontarkan oleh Rein, yang melihat bahwa keyakinan keagamaan penduduk Tibet terbukti tidak menjadi hambatan untuk menciptakan kemakmuran ekonomi.

"Saya tidak merasa adanya diskoneksi atau konflik antara keduanya."

Foto yang diabadikan pada 19 Mei 2021 menunjukkan ekonom AS David Blair (pertama dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (kedua dari kiri), dan pengusaha AS Shaun Rein dalam busana tradisional Tibet berbincang di Jalan Barkhor di Lhasa, Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Xu Yongzheng).
Foto yang diabadikan pada 19 Mei 2021 menunjukkan ekonom AS David Blair (pertama dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (kedua dari kiri), dan pengusaha AS Shaun Rein dalam busana tradisional Tibet berbincang di Jalan Barkhor di Lhasa, Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Xu Yongzheng).

Pada 2020, pendapatan siap dibelanjakan (disposable income) per kapita penduduk di Tibet dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan pada 2010. Pendapatan siap dibelanjakan per kapita rata-rata penduduk pedesaan tercatat mengalami pertumbuhan dua digit dalam 18 tahun terakhir, sementara pendapatan siap dibelanjakan penduduk perkotaan pada 2020 mencapai 41.156 yuan, peningkatan 10 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Rein meyakini bahwa bagian yang paling mengesankan dari perjalanan itu adalah melihat bangkitnya kelas menengah di Tibet, karena semakin banyak penduduk setempat yang mengucapkan selamat tinggal pada kemiskinan.

"Ketika Anda memiliki kelas menengah yang penuh energi, Anda memiliki masyarakat yang giat, berkelanjutan, dan sukses," katanya.

Tibet Yougecang Enterprise, produsen dupa Tibet yang mempekerjakan kurang dari 60 karyawan, menerima kredit sebesar 50 juta yuan dari Agricultural Bank of China, tutur Dawa, wakil manajer umum perusahaan tersebut.

Setelah melihat implementasi kebijakan Beijing yang mendukung usaha kecil dan mendorong kewirausahaan massal di Tibet, Rein dan Blair merasa optimistis dengan perkembangan daerah itu dan perekonomian China di masa mendatang.

Namun, menemukan model bisnis yang tepat dan dapat berhasil tetap menjadi tantangan terbesar bagi Tibet, agar daerah tersebut pada akhirnya dapat melepaskan diri dari bantuan wilayah-wilayah lain di China, tutur Blair.

Realitas

Jika Epstein menulis tentang antusiasme dan semangat hidup yang kembali berkobar di kalangan masyarakat umum di Tibet sejak reformasi demokratis, Rein dan Blair melihat Tibet yang jauh berbeda dengan apa yang digambarkan oleh media Barat.

Rein dan Blair melihat sendiri perangkat lunak dan simbol-simbol bilingual yang digunakan para dokter untuk menulis diagnosis pasien di Rumah Sakit Pengobatan Tibet Daerah Otonom Tibet, serta juga para siswa yang mempelajari bahasa Tibet di sebuah kelas di Sekolah Menengah Lhasa.

Ekonom AS David Blair (pertama dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (kedua dari kiri), dan pengusaha AS Shaun Rein (kedua dari kanan) berbincang dengan Yinba, Wakil Direktur Rumah Sakit Pengobatan Tibet Daerah Otonom Tibet di Tibet pada 20 Mei 2021. (Xinhua/Xu Yongzheng).
Ekonom AS David Blair (pertama dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (kedua dari kiri), dan pengusaha AS Shaun Rein (kedua dari kanan) berbincang dengan Yinba, Wakil Direktur Rumah Sakit Pengobatan Tibet Daerah Otonom Tibet di Tibet pada 20 Mei 2021. (Xinhua/Xu Yongzheng).

"Sangat jelas bahwa pemerintah cukup sukses dalam melindungi budaya Tibet dan bahasa Tibet," ujar Rein, seraya menambahkan bahwa dia kecewa dengan tuduhan tak berdasar yang dilontarkan mantan menteri luar negeri AS Mike Pompeo dan penerusnya, Antony Blinken.

"Saya tidak menyukai narasi palsu yang dilanjutkan Blinken setelah Pompeo, yang banyak dibahas oleh media AS hanya karena China ingin membangun sebuah negara yang bersatu dan patriotik," tutur Rein.

Hal itu juga dirasa mengganggu oleh Blair, yang menyebut bahwa tudingan serius semacam itu tidak semestinya dilontarkan dengan begitu mudah.

"Saya pikir hal seperti itu tidak benar-benar terjadi, jadi kita harus mencoret tudingan semacam itu," katanya.

Populasi Tibet meningkat dari 1,23 juta jiwa pada 1959 menjadi 3,5 juta jiwa pada 2019, dengan warga etnis Tibet mencakup lebih dari 90 persen total penduduk di wilayah tersebut. Rata-rata angka harapan hidup di Tibet mencapai rekor tertinggi, yaitu 71,1 pada 2020, dua kali lipat angka yang tercatat pada 1951.

Pengusaha AS Shaun Rein (pertama dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (kedua dari kiri), dan ekonom AS David Blair (pertama dari kanan) berbicara dengan seorang petani setempat di rumahnya, sementara Miao memangku putra petani itu, di wilayah Nang, pada 23 Mei 2021. (Xinhua/Xu Yongzheng).
Pengusaha AS Shaun Rein (pertama dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (kedua dari kiri), dan ekonom AS David Blair (pertama dari kanan) berbicara dengan seorang petani setempat di rumahnya, sementara Miao memangku putra petani itu, di wilayah Nang, pada 23 Mei 2021. (Xinhua/Xu Yongzheng).

China memandang penting perlindungan dan pengembangan budaya tradisional Tibet, dengan pembelajaran dan penggunaan bahasa Tibet dilindungi oleh undang-undang. Wilayah itu kini memiliki 16 majalah dan 12 surat kabar yang ditulis dalam bahasa Tibet, dan telah menerbitkan 7.185 buku berbahasa Tibet sebanyak lebih dari 40 juta kopi. Selain itu, bahasa Tibet secara luas digunakan di sektor kesehatan, layanan pos, komunikasi, transportasi, keuangan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perbedaan antara situasi kebudayaan yang berkembang dengan baik di wilayah itu dan penggambarannya di negara-negara Barat disebut Albert Ettinger, peneliti tentang Tibet dari Luksemburg, dalam bukunya yang berjudul “Battleground Tibet” (2015) sebagai “kisah dari negeri dongeng”. Kisah fantasi ini bertujuan untuk menyatukan pertumbuhan populasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan “genosida” dan kebangkitan budaya dengan “genosida budaya”.

Foto yang diabadikan pada 24 Mei 2021 menunjukkan ekonom AS David Blair (ketiga dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (ketiga dari kanan), pengusaha AS Shaun Rein (kedua dari kanan) berpose bersama warga setempat dan wisatawan usai pesta api unggun di Lunang, (Xinhua/Xu Yongzheng).
Foto yang diabadikan pada 24 Mei 2021 menunjukkan ekonom AS David Blair (ketiga dari kiri), jurnalis Xinhua Miao Xiaojuan (ketiga dari kanan), pengusaha AS Shaun Rein (kedua dari kanan) berpose bersama warga setempat dan wisatawan usai pesta api unggun di Lunang, (Xinhua/Xu Yongzheng).

Rein dan Blair juga melihat bahwa kaum muda Tibet tampaknya menjadi yang paling optimistis di antara beragam kelompok masyarakat berkat kemajuan besar yang dicapai dalam hal kualitas hidup warga setempat.

Sebagai dua warga asing pertama yang mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Zam di sepanjang Sungai Yarlung Zangbo, PLTA terbesar di Tibet, mereka senang melihat keseimbangan antara pembangunan dan perlindungan lingkungan.

PLTA tersebut saat ini menyediakan 30 hingga 35 persen kebutuhan energi Tibet, menghemat sekitar 400.000 ton bahan bakar diesel setiap tahunnya, menurut Liu Feng, yang bertanggung jawab atas pengoperasian pembangkit listrik tersebut. Selain itu, ratusan juta yuan telah dikucurkan demi menjamin ikan-ikan dapat melewati fasilitas itu dan berenang kembali ke hulu dengan aman.

"Jika mata pencarian warga ingin ditingkatkan, wilayah itu perlu menyediakan listrik yang mencukupi. Orang-orang tidak seharusnya mengecam pemanfaatan energi listrik tenaga air," kata Liu.

Sejak 1978, ketika China mulai mendorong reformasi dan keterbukaan, Komite Sentral Partai Komunis China telah menggelar tujuh pertemuan nasional tentang Tibet, membuat berbagai keputusan dan rencana penting untuk wilayah tersebut.

China mulai menyediakan bantuan perpasangan kerja sama untuk Tibet pada 1994, dengan sejumlah departemen pemerintah pusat, provinsi-provinsi lainnya, serta unit administratif yang setara bersama sejumlah badan usaha milik negara yang dikelola pusat memberikan bantuan perpasangan melalui 6.330 proyek, mewakili total investasi sebesar 52,7 miliar yuan per 2020. Total 9.682 pejabat paling menonjol dipilih dan dikirim untuk membantu wilayah itu selama periode tersebut.

Menurut Rein, kebijakan-kebijakan ini menunjukkan bahwa seluruh China terus berusaha untuk membuat kemajuan dan bekerja sama demi membangun China yang kuat.

"Anda tidak melihat, sebut saja di AS, negara bagian kaya seperti California mengirim sebagian pendapatan pajak mereka ke negara-negara bagian miskin seperti Virginia Barat. Dan itulah mengapa mereka tertinggal semakin jauh di bawah level pendapatannya," katanya.

Sebagai perbandingan, kata Rein, China “tidak ingin meninggalkan provinsi mana pun.”

(Xinhua)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel