Lika-liku Arema FC: Dulu Kerap Menunggak Gaji, Kini Mati-Matian Bayar Hak Pemain di Tengah Pandemi

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Sejak 2018, Arema FC berupaya menghapus label klub yang doyan menunggak gaji pemain dan pelatih. Pada tahun itu, untuk kali pertama tim berjuluk Singo Edan ini merampungkan kompetisi tanpa utang gaji.

Musim-musim sebelumnya, Arema FC selalu meninggalkan persoalan tunggakan gaji. Bahkan ada yang sampai sekarang belum tuntas.

Namun, empat tahun terakhir manajemen Arema coba konsisten tidak menambah beban tunggakan tersebut. Perjuangan yang paling sulit tentu setahun terakhir, ketika pandemi virus corona membuat kompetisi berhenti.

Hak komersial dari PT Liga Indonesia Baru (operator kompetisi) musim 2020 tidak diterima sepenuhnya karena kompetisi tak dilanjutkan.

Padahal setiap bulan, Arema harus membayar gaji pemainnya. Meski hanya membayar 25 persen gaji setiap bulan, itu terasa berat lantaran Arema tak banyak dapat pemasukan.

Hasil dari penjualan merchandise tak maksimal, sementara pemasukan dari sponsor otomatis terhenti ketika kompetisi mandek. Justru Arema ngos-ngosan harus membuat konten kepada sponsor yang sudah memberikan sebagian dana di awal musim.

“Ini masa tersulit selama saya di dalam manajemen Arema. Namun direksi sepakat untuk konsisten membayar gaji pemain. Meskipun sempat terlambat, tapi tidak sampai lewat bulan,” jelas General Manager Arema, Ruddy Widodo, Minggu (14/2/2021).

Saat ini Arema hanya mengandalkan dana dari direksi. Setiap bulan setidaknya mereka merogoh dana Rp600 juta tanpa ada aktivitas apa pun yang dilakukan pemain dan pelatih. Jika ada latihan bersama, pengeluaran tentu lebih banyak lagi untuk operasional tim. Beberapa pemain juga mengakui gaji musim ini relatif aman. Memang sempat ada keterlambatan, tapi hanya hitungan hari atau minggu.

Sebenarnya secara manajerial, Arema sudah tidak sanggup lagi membayar gaji pemain sejak PT Liga Indonesia Baru tak memberikan hak komersial lagi.

Namun, jajaran direksi Arema FC mengeluarkan dana pribadinya agar Arema tetap eksis dan tidak membubarkan tim. Hanya saja, bulan ini mayoritas pemain kontraknya sudah berakhir. Arema masih menunggu kepastian kompetisi sebelum memperpanjang kontrak Hendro Siswanto dkk.

Dulu Ada Kesalahan Budgeting

Bek Arema FC, Taufik Hidayat menghalangi pemain akademi Arema dalam sesi latihan di lapangan Balearjosari, Kota Malang. (Iawan Setiawan/Bola.com)
Bek Arema FC, Taufik Hidayat menghalangi pemain akademi Arema dalam sesi latihan di lapangan Balearjosari, Kota Malang. (Iawan Setiawan/Bola.com)

Lantas apa sebenarnya yang terjadi pada Arema sebelum musim 2018, kenapa selalu menunggak gaji pemain?

Ternyata ada kesalahan budgeting yang dilakukan. Mereka memasukkan hak komersial (subsidi) dari operator kompetisi dalam sumber pemasukan utama. Setelah itu baru ditambahkan dengan sponsor dan pemasukan dari penjualan tiket laga kandang.

Saat pembayaran hak komersial terhambat, gaji pemain ikut tersendat. Apalagi pemasukan dari tiket pertandingan juga tidak stabil. Sementara kontrak pemain Arema sejak musim 2013 meroket karena proyek Los Galaticos.

Saat itu, meski sudah disokong dana dari Bakrie Grup, tetap saja ada tunggakan karena Arema FC banyak mengontrak pemain mahal. Setelah itu Arema berproses mengurangi sejumlah pemain bintang.

Pemain baru yang didatangkan juga kontraknya tak terlalu tinggi. Sehingga pada 2018 Arema punya kondisi finansial yang seimbang. Sayang, justru di kompetisi, Singo Edan berubah jadi tim papan atas jadi medioker. Sejak itu, mereka selalu terlempar dari lima besar di Liga 1.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini