Lika-Liku Karier Alle Gaucho: Sopir Madura United yang Merangkap Jadi Agen Pemain, Kliennya di Persija hingga Persis

·Bacaan 6 menit

Bola.com, Jakarta - Sosok Alle Gaucho mungkin belum banyak dikenal publik secara luas. Dia bekerja sebagai sopir untuk para pemain asing Madura United yang bertugas mengantar dari apartemen ke tempat latihan.

Tapi, fotonya kini semakin banyak beredar dalam perkenalan sejumlah pemain. Dia terlihat muncul saat perkenalan para pemain Persis Solo dan Madura United. Wajahnya juga nongol saat perkenalan pelatih Arema FC, Eduardo Almeida.

Pria bernama asli Miftahul Huda itu rupanya tidak hanya bekerja sebagai sopir Madura United. Alle Gaucho kini juga merangkap sebagai agen sejumlah pemain dan pelatih sepak bola Indonesia. Memang, hanya satu pelatih, yakni Eduardo Almeida, yang jadi kliennya.

Selain itu, Alle juga menjadi agen bagi 13 pemain di klub-klub Indonesia. Lima di antaranya adalah penggawa Madura United, yaitu Rafael Silva, Hugo Gomes Jaja, Jaimerson Xavier, Kim Jinsung, dan Novan Setya Sasongko.

Lalu, terdapat bek Persija Jakarta, Yann Motta, yang juga merupakan kliennya. Sosok gelandang Bhayangkara FC, Renan Silva, yang pernah meraih gelar pemain terbaik Liga 1 2019, juga merupakan pemain yang menjadi kliennya.

Yang lebih fantastis adalah kerja samanya dengan Persis Solo. Tak tanggung-tanggung, ada enam pemain yang dibawanya ke klub milik Kaesang Pangarep itu. Mereka adalah Beto Goncalves, Fabiano Beltrame, Yu Hyunkoo, Alfath Faathier, Rivaldi Bawuo, dan Sandi Sute.

Dengan pengalamannya sebagai sopir, bagaimana Alle Gaucho, pria asli Lamongan bisa meneruskan kariernya menjadi agen pemain sepak bola di Indonesia?

Karier Sepak Bola Meredup

Hugo Gomes dos Santos Silva alias Jaja (tengah) berfoto bersama agen Miftahul Huda (kiri) dan Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, Selasa (23/3/2021). (Bola.com/Aditya Wany)
Hugo Gomes dos Santos Silva alias Jaja (tengah) berfoto bersama agen Miftahul Huda (kiri) dan Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, Selasa (23/3/2021). (Bola.com/Aditya Wany)

Alle sebenarnya merupakan pemain sepak bola. Dia menimba pengalaman sebagai pemain bersama tim junior Persela Lamongan mulai 2006. Pria berusia 33 tahun itu mengaku sangat senang bergaul dengan banyak orang. Dia tidak membatasi pergaulannya.

Pengalaman Alle sebagai pesepak bola juga semakin banyak dengan tercatat pernah membela klub Divisi Utama (kini Liga 2), seperti PSBK Blitar, PSIR Rembang, hingga Persinga Ngawi. Memasuki musim 2014, dia justru mendapat kesempatan berkarier di luar negeri.

Alle bergabung dengan klub kasta kedua Oman, Masirah SC, pada musim tersebut. Dia hanya setahun di sana. Namun, Alle kembali mempelajari bahasa asing baru.

“Karena bermain di luar negeri, saya harus belajar bahasa Inggris. Ya, berkat di Oman itu saya mulai lancar bahasa Inggris. Lumayan juga, berarti bisa dua bahasa asing,” ucap pria kelahiran 1988 itu.

Alle memutuskan pulang ke Indonesia dengan bergabung Persijap Jepara pada 2015. Persijap berkompetisi di Divisi Utama setelah terdegradasi dari kasta tertinggi ISL 2014. Sialnya, kompetisi musim itu dibekukan karena PSSI mendapat sanksi dari FIFA.

“Saya sempat putus asa. Sudah punya klub tapi tidak bisa main, akhirnya menganggur. Saya sempat memutuskan gantung sepatu saja, karena keadaannya seperti itu. Tapi, kesempatan berkarier muncul lagi tahun 2016,” tutur Alle.

Fasih Berbahasa Portugis

Miftahul Huda (kiri) bersama dengan pemain asing Persebaya Surabaya dan Madura United. (Bola.com/Aditya Wany)
Miftahul Huda (kiri) bersama dengan pemain asing Persebaya Surabaya dan Madura United. (Bola.com/Aditya Wany)

Tak hanya bahasa Inggris, Alle itu juga fasih berbahasa berbahasa Portugis. Bola.com pertama mengetahui itu saat Alle berbincang dengan beberapa pemain asing Madura United, yang selama ini kerap diantarnya ke tempat latihan dari apartemen.

Sekilas, secara fisik Alle berkulit gelap dan bisa disangka sebagai orang asing saat berbicara bahasa Portugis. Namun, dialek Arek yang diucapkannya saat berbahasa Jawa langsung mengubah itu. Alle adalah orang Indonesia.

Alle pun menceritakan awal mula dia mempelajari bahasa Portugis kepada Bola.com. Bahasa asing satu ini cukup jarang menjadi pilihan bagi orang Indonesia untuk dipelajari. Maklum, tak ada jurusan itu di kampus Indonesia mana pun. Tempat kursus pun jarang.

Keberadaan para pemain asing asal Brasil di Indonesia membuat Alle ingin berkomunikasi dengan mereka. Brasil sendiri merupakan negara besar dengan bahasa resmi Portugis. Alle pelan-pelan mencoba untuk belajar.

Alle mempelajari bahasa Portugis secara otodidak hingga fasih dalam percakapan. Dia tidak pernah mengikuti kursus bahasa yang termasuk rumpun Roman itu. Bahkan, dia juga belum pernah mengunjungi negara dengan bahasa resmi Portugis.

Pensiun dari Pemain, Jadi Sopir

Alle mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi pemain Madura United pada 2016 yang ditangani oleh pelatih Gomes de Oliveira. Kebetulan, klub berjulukan Laskar Sape Kerap itu baru berdiri. Nasib baik kurang berpihak kepadanya karena tidak diterima saat seleksi.

Namun, seleksi pemain itu menjadi titik balik kehidupan Alle. Meski gagal seleksi, Alle mampu menarik perhatian manajemen Madura United. Dia sudah mengenal Gomes dan kerap berbicara menggunakan bahasa Portugal.

Madura United malah menawarinya tugas di luar lapangan. Dengan kemampuan dua bahasa asing, Alle diminta menjadi sopir untuk para pemain Laskar Sape Kerap.

“Saya tentu tidak bisa menolak. Saya berpikir mungkin sudah dulu sebagai pemain. Dengan menjadi sopir, saya bisa kenal dengan banyak orang lagi, apalagi ini klub Liga 1. Saya orang yang suka berteman,” ucap Alle.

“Saya tidak pernah menyangka kalau akan menjadi sopir dan semakin punya banyak teman. Dulu saya pikir belajar bahasa baru memang untuk komunikasi saja. Tapi, manfaatnya memang banyak dan membuat saya bisa kenal banyak orang,” ujarnya.

Jaringan pertemanan Alle menjadi lebih luas. Banyak pemain asing, terutama asal Brasil, yang juga terkejut melihatnya cukup fasih berbahasa Portugal.

Kini Jadi Agen

Alle Gaucho bersama owner Persis Solo, Kaesang Pangarep (tengah). (Bola.com/Aditya Wany)
Alle Gaucho bersama owner Persis Solo, Kaesang Pangarep (tengah). (Bola.com/Aditya Wany)

Dari pekerjaan sopir itu Alle masuk gerbang dunia agen. Dia mengenal banyak pemain asing, terutama yang berasal dari Brasil. Jaringan pertemanannya juga bertambah pada orang-orang yang bekerja di manajemen klub.

Dua lingkungan itu yang kemudian membuatnya menjadi agen pemain. Mulanya adalah para pemain asing yang membela Madura United. Pertemanan dan perkenalan di klub lain membuatnya merambah ke klub lain juga.

“Awalnya saya dan pemain itu berteman. Saya senang membantu mereka. Mungkin, mereka nyaman bisa berbincang dengan saya. Makanya, kadang ada juga yang meminta saya menjadi agennya,” ungkap Alle.

Dari situlah, Alle mendapat peluang untuk bisa lebih berkembang. Dia tidak ingin hanya bekerja mengantar pemain. Tapi lebih dari itu, dia membantu para pemain mengurus negosiasi hingga mendapatkan kontrak klub.

Yang paling mencengangkan adalah kerja samanya dengan Persis Solo. Tak tanggung-tanggung, ada enam pemain yang dibawanya ke klub milik Kaesang Pangarep itu. Mereka adalah Beto Goncalves, Fabiano Beltrame, Yu Hyunkoo, Alfath Faathier, Rivaldi Bawuo, dan Sandi Sute.

Tentu tidak sembarang orang bisa menembus ke klub milik putra orang nomor satu di negara ini. Lagi-lagi, berkat jaringan yang dimilikinya, dia mampu membuat manajemen klub Laskar Samber Nyawa mau merekrut pemain-pemain yang menjadi kliennya.

“Saya sering mendapat pertanyaan bagaimana bisa kenal orang-orang Persis. Kuncinya karena saya mau berteman. Saya bisa berbincang dengan mereka, sampai akhirnya lahir kerja sama. Intinya, saya senang bisa menjaga pertemanan dengan pemain dan orang-orang di klub itu,” imbuhnya.

Sebanyak 13 pemain yang masuk daftar klien yang dimilikinya sebenarnya bukanlah angka besar. Sebab, masih banyak agen pemain lain di Indonesia yang memiliki klien lebih banyak dan tersebar di berbagai klub.

Tapi, kisahnya menuju jalan menjadi agen pemain itu tidak biasa. Dia sempat mengalami kegagalan sebagai pemain dan mau menjadi sopir sebelum bisa berkenalan dengan banyak pelaku sepak bola nasional.

“Sebagai agen, saya tidak pernah terpikir untuk punya banyak klien. Saya percaya rezeki sudah ada yang mengatur. Saya juga berteman dengan banyak agen lain. Kami sama-sama bekerja dan harus bisa menghargai,” tuturnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel