Lika-Liku Pertumbuhan Anak Prematur dengan Disabilitas Ganda Obi Ariefano

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Retno Widati (52) adalah seorang ibu asal Sidoarjo, Jawa Timur yang dikaruniai anak dengan disabilitas ganda, Kiske Gigih Saebanyu Obi Ariefano.

Obi, sapaan akrabnya, lahir pada usia kehamilan 7 bulan 2 minggu atau prematur dengan berat 1,4 kg. Sejak lahir, ia kekurangan darah dan badanya kuning sehingga perlu masuk ruang ICU selama 11 hari.

Selama masa pertumbuhan, anak yang menyandang Tuli dan autisme tak jarang diopname berminggu-minggu di rumah sakit karena ada keluhan sesak.

“Perkembangan Obi lambat, badannya yang kecil di bawah garis merah, mungkin karena bawaan lahirnya yang kecil, usia 3 bulan Obi batuk dan sesak, dirujuk ke rumah sakit, diopname 2 minggu,” kata Retno melalui keterangan tertulis yang diterima kanal Disabilitas Liputan6.com, Senin (15/11/2021).

“Setelah pulang kondisi Obi tidak begitu stabil juga, di rumah 2 minggu Obi masuk lagi dengan sakit yang sama, karena kondisinya akut Obi dirawat sampai 3 minggu dan sempat koma, saya disuruh tanda tangan pernyataan untuk tidak menuntut jika terjadi hal buruk,” tambahnya.

Memiliki Berbagai Penyakit Lain

Walau sempat koma, Obi akhirnya bisa diselamatkan dan sembuh dengan pengobatan rutin setiap 3 bulan.

Seiring pertumbuhannya, anak yang hobi corat-coret itu sempat tidak bisa merangkak. Hal ini disiasati dengan pijat bayi untuk membetulkan letak sarafnya. Selain itu, ia juga memiliki hernia atau turun berok. Tak sampai di sana, Obi juga mengidap bronchopneumonia, jantungnya bengkak sampai mepet paru-paru.

“Jantungnya juga bocor 3 mili, jika pertumbuhannya baik akan menutup sendiri, tapi kalau tidak ya harus dioperasi. Pada umur 8 bulan Obi sakit lagi dan opname lagi dengan sakit bronchopneumonia, ada flek di paru-paru akhirnya pengobatan rutin lagi 6 bulan.”

Gejala Autisme

Gejala autisme yang mulai terlihat adalah ketika dipanggil ia tidak merespons. Ia cenderung suka asyik bermain sendiri.

Di umur 18 bulan, Obi bisa berjalan, tapi tidak bisa mengucapkan kata-kata. Kadang ia tertawa sendiri sampai tidak terkendali atau menangis keras tanpa sebab.

“Akhir saya bawa ke rumah sakit lagi untuk tes telinga, hidung, tenggorokan (THT), melalui serangkain tes bertahap tidak ada hasil dan terakhir harus tes bera. Setelah menerima hasil di atas 90 dan di atas 100 desibel, saya menangis tanpa henti karena pendengaran Obi sangat lemah dan harus dibantu alat bantu dengar.”

Pada usia 3, Obi mulai sekolah di sekolah khusus yang juga mencakup kegiatan terapi. Dari sekolah tersebut,baru ketahuan bahwa ia menyandang autisme.

Dengan sekolah dan terapi ada perkembangan motorik untuk melakukan hal-hal sederhana. Kini di usia 15 Obi masih rentan tantrum dengan membenturkan kepalanya. Namun, seiring berjalannya waktu Retno selalu mempelajari apa saja yang bisa membuat anaknya tantrum, bagaimana mengatasinya, dan bagaimana mencegahnya.

“Sampai sekarang kita sudah faham dan menjaga agar Obi tidak stres tinggi atau kondisi cuaca yang terlalu panas. Saat ada tanda-tanda tantrum berlebihan langsung saya kompres air hangat agak panas bagian tengkuk, otak belakang, ubun-ubun dan mata, Alhamdulillah sangat membantu mengembalikan ke posisi normal,” pungkas Retno.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel