Lima Desa di Pasuruan Terdampak Banjir

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - 6.119 kepala keluarga menjadi korban banjir dari lima desa di dua kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Lima desa itu menjadi wilayah terendam banjir dengan ketinggian sekitar 90 centimeter selama dua hari terakhir.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Tectona Jati Permana menuturkan, lima desa itu masing-masing Desa Kedungboto, Desa Kedungringin, Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji.

"Kemudian ada dua desa lagi yakni Desa Gempol dan Desa Legok, Kecamatan Gempol," ujar dia di Pasuruan, seperti dikutip dari Antara, Selasa (3/11/2020).

Ia merinci dari lima desa yang terdampak tersebut terdapat 6.119 kepala keluarga yang menjadi korban banjir.

"Masing-masing di Desa Kedungboto sebanyak 750 KK, Kedungringin 2.450 KK, Cangkringmalang 1.025 KK, Legok 80 KK dan Gempol 1.814 KK," kata dia.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Siapkan Perahu Karet

BPBD Kabupaten Pasuruan mencatat dua kecamatan di Kabupaten Pasuruan terdampak banjir pada Minggu, 1 November 2020. (Foto: Dok BPBD)
BPBD Kabupaten Pasuruan mencatat dua kecamatan di Kabupaten Pasuruan terdampak banjir pada Minggu, 1 November 2020. (Foto: Dok BPBD)

Kepada para korban, pihaknya sudah menyiapkan perahu karet masing-masing satu unit di setiap kecamatan untuk membantu aktivitas warga yang ingin keluar rumah.

"Karena hanya pada hari pertama banjir warga memilih keluar rumah. Setelahnya balik lagi ke rumah masing-masing," ujar dia.

Ia menuturkan, banjir itu salah satunya disebabkan okeh tingginya curah hujan yang terjadi di wilayah setempat selama beberapa hari terakhir saat awal musim hujan.

"Kami juga sudah membuka layanan dapur umum kepada masing-masing wilayah kecamatan untuk membantu warga dengan dibantu oleh instansi terkait lainnya seperti dinas sosial, dan juga dari unsur lainnya," tutur dia.

Respons Warga

Sementara itu, Rudi salah satu warga Gempol mengaku penanganan banjir di tempat tinggal lambat karena sudah rutin setiap tahun terjadi.

"Seharusnya dilakukan penanganan yang komprehensif di antaranya dengan mengaktifkan kembali Kali Mati yang selama ini digunakan sebagai resapan kalau terjadi banjir," ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini