Lima Mutasi Baru dari Virus Corona, Lebih Berbahaya?

·Bacaan 1 menit

DREAMERS.ID - Tidak hanya vaksin, penelitian terhadap perkembangan virus corona terus dilakukan. Peneliti dari Universitas Edinburgh, Inggris, menemukan ada lima mutasi gen baru dari virus corona. Mutasi virus corona ini disebut lebih merusak dari mutasi lainnya.

Mengutip dari CNN Indonesia, lima gen yang ditemukan oleh peneliti itu dinamakan TYK2, CCR2, OAS1, IFNAR2, dan DPP9. Ke lime gen tersebut meningkatkan kemungkinan pasien covid-19 dirawat intensif dan sekarat. Berikut penjelasan beda dari ke lima mutasi baru tersebut

TYK2

TYK2 adalah gen yang mengkodekan anggota kinase selosin dan lebih khusus lagi, keluarga protein Janus kinases (JAKs). Gen TYK2 menciptakan enzim yang dapat menyebabkan peradangan.

CCR2

CCR2 adalah gen yang ditargetkan oleh obat-obatan yang sedang dalam uji coba. Data terkait dengan gen itu diklaim tidak sekuat gen lain dalam penelitian.

OAS1

OAS1 adalah gen yang dapat mengaktifkan enzim yang menurunkan RNA yang berasal dari virus. Beberapa virus corona lain memiliki cara untuk mencegah mekanisme itu. Belum ada bukti untuk SARS-CoV-2.

IFNAR2

IFNAR2 adalah bagian inti dari sinyal yang bertanggung jawab terhadap respons antivirus inang. IFNAR2 disebut mirip dengan OAS1.

DPP9

DPP9 adalah gen yang memainkan beberapa peran dalam peradangan. Namun peneliti belum dapat membuat prediksi terapeutik langsung karena membutuhkan penelitian lebih lanjut.

"Ini adalah penemuan yang menakjubkan...untuk membantu memahami penyakit kritis," jelas Dr Kenneth Baillie, Kepala Penyelidik dan Peneliti Senior di Institut Roslin, Universitas Edinburgh, dikutip Metro via CNN Indonesia.

Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan DNA dari 2.700 pasien Covid-19 di 208 unit perawatan intensif di seluruh Inggris. Sebanyak 22 persen pasien yang diteliti meninggal, dengan 74 persen tidak dapat bernapas sendiri dan membutuhkan ventilasi mekanis.

Berita Lainnya :

5 Fakta Harga, Cara Pesan, Hingga Jenis Vaksin Covid-19 yang PO di RS

Air Mata Bisa Jadi Sarana Penularan Virus Corona?