Lintas China: Mengintip keindahan partikel kecil Bulan lewat mikroskop

Sebuah pameran seni yang mengusung tema "Pencapaian Penelitian Ilmiah Tanah Bulan" dibuka di Akademi Seni Rupa Pusat (Central Academy of Fine Arts/CAFA) di Beijing pada Sabtu (10/9), yang bertepatan dengan perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur tahun ini.

Melalui mikrofotografi, fusi dan pemrosesan gambar, rekonstruksi tiga dimensi (3D), dan teknologi realitas virtual (virtual reality/VR), pameran tersebut menampilkan lebih dari 100 gambar dan video dari partikel tanah Bulan kepada publik.

Tanah yang difoto itu merupakan bagian dari 1.731 gram sampel Bulan yang diambil dari permukaan Bulan oleh wahana Chang'e-5.

LEBIH HALUS DARI RAMBUT Sepanjang proses tersebut, dirinya bekerja sama dengan para seniman dari CAFA untuk menyajikan foto-foto yang estetis. Yang juga bekerja sama dengan para insinyur dari Institut Teknologi Komputasi CAS untuk membuat rekonstruksi 3D dari partikel itu.
LEBIH HALUS DARI RAMBUT Sepanjang proses tersebut, dirinya bekerja sama dengan para seniman dari CAFA untuk menyajikan foto-foto yang estetis. Yang juga bekerja sama dengan para insinyur dari Institut Teknologi Komputasi CAS untuk membuat rekonstruksi 3D dari partikel itu.

"Ukuran partikel tanah Bulan itu lebih halus dari sehelai rambut, sehingga tidak dapat diamati sama sekali tanpa bantuan peralatan mikroskopis canggih," kata Yang Wei, seorang peneliti di Institut Geologi dan Geofisika dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).

Sebagai salah satu dari sedikit orang yang mendapatkan akses ke tanah Bulan itu, Yang tertarik dengan keindahannya saat melakukan penelitian ilmiah. "Akan tetapi, tidak mungkin semua orang datang ke laboratorium untuk melihatnya," ujarnya. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk memotret tanah Bulan tersebut untuk ditunjukkan kepada publik.

Itu merupakan sebuah proyek yang cukup menantang. Partikelnya begitu kecil sehingga dapat terbang di udara Bumi. Yang harus menemukan sebuah metode untuk menahan partikel yang sangat kecil tersebut agar tetap berada di tempatnya dan menciptakan lingkungan yang cocok untuk memotret.

Selain itu, untuk mencapai efek pameran yang ideal, Yang harus mengambil ratusan foto parsial dari setiap partikel di bawah mikroskop elektron, kemudian menggabungkan foto-foto tersebut.

Sepanjang proses tersebut, dirinya bekerja sama dengan para seniman dari CAFA untuk menyajikan foto-foto yang estetis. Yang juga bekerja sama dengan para insinyur dari Institut Teknologi Komputasi CAS untuk membuat rekonstruksi 3D dari partikel itu.Mikrograf yang diabadikan pada Februari 2022 ini menunjukkan gambar sebuah partikel tanah Bulan, yang disebut aglutinat, yang berbentuk menyerupai seekor anak anjing. (Xinhua/Institut Geologi dan Geofisika, Akademi Ilmu Pengetahuan China)
Sepanjang proses tersebut, dirinya bekerja sama dengan para seniman dari CAFA untuk menyajikan foto-foto yang estetis. Yang juga bekerja sama dengan para insinyur dari Institut Teknologi Komputasi CAS untuk membuat rekonstruksi 3D dari partikel itu.Mikrograf yang diabadikan pada Februari 2022 ini menunjukkan gambar sebuah partikel tanah Bulan, yang disebut aglutinat, yang berbentuk menyerupai seekor anak anjing. (Xinhua/Institut Geologi dan Geofisika, Akademi Ilmu Pengetahuan China)

Mereka menyimulasikan intensitas dan sudut sinar matahari pada siang hari di zona pendaratan wahana Chang'e-5 untuk menunjukkan seperti apa penampakan in-situ partikel tanah tersebut saat berada di Bulan.

"Kami memiliki display artistik model 3D yang direkonstruksi dari tanah Bulan tersebut, yang dikombinasikan dengan teknologi VR dan realitas tertambah (augmented reality/AR), sehingga publik dapat berinteraksi dengan partikel tanah Bulan itu dan merasakan keindahannya melalui ponsel atau komputer mereka," ujar Gao Lin, associate researcher di Institut Teknologi Komputasi CAS.

Mikrograf yang diabadikan pada Februari 2022 ini menunjukkan gambar sebuah partikel tanah Bulan, yang disebut aglutinat, yang berbentuk menyerupai seekor anak anjing. (Xinhua/Institut Geologi dan Geofisika, Akademi Ilmu Pengetahuan China
Mikrograf yang diabadikan pada Februari 2022 ini menunjukkan gambar sebuah partikel tanah Bulan, yang disebut aglutinat, yang berbentuk menyerupai seekor anak anjing. (Xinhua/Institut Geologi dan Geofisika, Akademi Ilmu Pengetahuan China

KEINDAHAN ILMU PENGETAHUAN

Di ruang pameran, sebuah gambar tanah Bulan yang berbentuk menyerupai seekor anak anjing menarik perhatian banyak pengunjung.

"Tanah unik ini tidak dapat ditemukan di Bumi. Ini disebut aglutinat," jelas Yang. Baginya, setiap butir tanah Bulan menceritakan sebuah kisah tentang apa yang pernah terjadi di Bulan.

"Melalui aglutinasi (proses penggumpalan) yang berbentuk seperti anak anjing ini, kita dapat menyimpulkan bahwa di Bulan, yang tidak memiliki atmosfer, meteorit kecil menabrak permukaan Bulan dengan kecepatan tinggi dan membentuk partikel-partikel kaca kecil, yang kemudian menempel dengan partikel mineral lainnya menjadi berbagai bentuk aglutinasi yang aneh," katanya.

"Bagi banyak orang, tanah Bulan masih sangat misterius, dan kami berharap dapat mengungkap misteri itu melalui pameran-pameran seperti ini," ujarnya.

Bagi para pengunjung yang datang ke pameran tersebut, selain pesona ilmu pengetahuan, nuansa seni dari tanah Bulan itu juga tak kalah menarik.

Orang-orang terkejut saat mengetahui bahwa setelah diperbesar dan diproses oleh para ilmuwan, setiap partikel tanah Bulan memiliki pola dan corak uniknya sendiri. Mereka dapat menggunakan imajinasi mereka untuk menangkap pola-pola seperti bunga, kupu-kupu, dan bintang dalam berbagai gambar.

"Sungguh menakjubkan bahwa partikel kecil dari tanah Bulan mengandung dunia yang begitu kaya. Hal ini menyiratkan kemungkinan tak terbatas untuk integrasi seni dan teknologi," kata Wang Yi, anggota tim perencanaan dan kreasi pameran tersebut di CAFA.

Yang mengatakan bahwa mereka akan berupaya lebih banyak untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan seni. "Lagi pula, eksplorasi ilmiah merangsang kreasi artistik, dan sebaliknya, imajinasi artistik menginspirasi penelitian ilmiah," tambah Yang.