LIPI: Pasca-Tsunami 2018, Masyarakat Sebesi Mulai Berubah Melihat Anak Krakatau

·Bacaan 1 menit
Sejumlah kapal nelayan yang terdampar pasca gelombang Tsunami Selat Sunda di Dusun Tiga Regahan Lada, Pulau Sebesi, Lampung Selatan, Minggu (30/12). Sebagian warga mengungsi ke Kalianda. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta Peneliti LIPI Devy Riskianingrum mengungkap cara masyarakat di Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung meminimalisir dampak bencana alam. Cara itu diketahui pasca penelitian yang dilakukan pada 13-16 Oktober 2020.

"Bencana tsunami 2018 di Pulau Sebesi berhasil membangun kesadaran bencana masyarakatnya. Hal ini ditunjukkan dari pengetahuan mereka tentang arah evakuasi jika terjadi bencana seperti tsunami lagi," kata Devy saat webinar, Jumat (27/8/2021).

Devy merinci, sejumlah cara yang dilakukan masyarakat setempat. Salah satunya adalah dengan berlari ke arah Gunung Sebesi. Mereka memperhatikan ombak dan kondisi alam oleh seorang tua yang dipanggilnya datuk ombak.

"Jadi terutama pada saat purnama dan dia datuk ombak ini memperhatikan fenomena di Anak Gunung Krakatau. Jika tercium bau blerang yang sangat kuat, warga akan langsung menyebar pesan melalui WhatsApp Ke keluarga mereka dan mereka memilih tidak tidur," jelas Devy.

Mulai Terbentuknya Kewaspadaan Akan Bencana

Devy meyakini, pengetahuan tentang kewaspadaan bencana mulai terbentuk pasca bencana 2018. Sebab sebelumnya, masyarakat Sebesi kurang memperhatikan hal tersebut meski tinggal sangat berdekatan dengan Anak Krakatau yang diketahu sebagai gunung teraktif di dunia.

"Maka saya menyimpulkan pasca tsunami 2018, pandangan masyarakat Sebesi mulai berubah dalam melihat Anak Krakatau dari berkah menghasilkan uang dari sektor pariwisata menjadi ancaman menimbulkan bahaya," Devy memandasi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel