Lippo Karawaci dan Siloam Sepakat Perpanjang Biaya Sewa hingga 2035

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dan Rumah Sakit Siloam (RS Siloam) berhasil mencapai kesepakatan baru terkait biaya sewa untuk 11 RS Siloam.

Kesepakatan tersebut efektif mulai tanggal 1 Januari 2021. Kesepakatan ini merupakan salah satu tonggak penting dalam meningkatkan transparansi dan tata kelola bisnis pada perusahaan induk serta anak usaha.

Dikutip dari keterangan tertulis LPKR, Kamis (1/4/2021), Lippo Karawaci dan RS Siloam bersepakat biaya sewa akan tetap berdasarkan persentase terhadap pendapatan.

Namun, disesuaikan secara tahunan mengikuti skema mulai dari 6 persen pada 2021, 6,1 persen pada 2022, 6,2 persen pada 2023, 6,3 persen pada 2024, 6,4 persen pada 2025 dan 2026, dan 6,5 persen di 2027 hingga seterusnya.

Tercapainya kesepakatan ini memberikan kepastian jangka panjang terhadap keberlangsungan usaha RS Siloam. Selain itu, kesepakatan ini sekaligus memberikan Lippo Karawaci penghematan biaya sebesar Rp 154 miliar di 2021 jika dibandingkan dengan struktur (biaya sewa) yang berlaku sampai dengan sekarang.

Ke depan, pencapaian kesepakatan tersebut akan menciptakan nilai lebih untuk RS Siloam. Juga bagi Lippo Karawaci sebagai pemegang saham terbesar di RS Siloam.

Perkuat Bisnis di Tengah Pandemi, Siloam Siap Buka Rumah Sakit ke-40 di Surabaya

Layanan WIsata Kesehatan Siloam Labuan Bajo
Layanan WIsata Kesehatan Siloam Labuan Bajo

Sebelumnya, Siloam Hospital Group (SHG) siap membuka dan mengoperasikan rumah sakit ke-40 di Surabaya bernama RS Siloam Cito. Rumah Sakit tersebut akan menjadi rumah sakit komprehensif bertaraf internasional dengan layanan kesehatan, peralatan dan tenaga medis yang terbaik.

Head of Public Relations Siloam, Danang Kemayan menyampaikan, sejalan dengan himbauan dan SK Menteri Kesehatan, Siloam akan mengalokasikan sebagian tempat tidurnya untuk penanganan pasien Covid-19 sama seperti kewajiban dan tanggung jawab RS lainnya.

"RS ini secara fisik semua sudah siap untuk dibuka, dan sudah siap operasional dengan 185 tempat tidur (TT) dengan jumlah ICU 15 TT. Jika dizinkan kami akan buka dalam waktu 10 hari dengan 105 TT di fase pertama," tegas Danang di Jakarta, Minggu (31/1).

Dia menjelaskan, fasilitas kesehatan tersebut bakal berada dalam kawasan mixed use City of Tomorrow (Cito), namun dengan akses, fasilitas dan infrastruktur yang terpisah dan independen. Hal ini termasuk fisik dan sistem kelistrikan, genset, HVAC, sistem gas medis, sistem STP/IPAL.

RS ini juga dilengkapi dengan sistem negative pressure khusus untuk penanganan pasien Covid-19 dan memiliki pintu akses tersendiri serta elevator tersendiri atau terpisah. Terkait limbah pembuangan medis, limbah cair dan TPS B3, RS Siloam Cito sudah memiliki sistem terpisah dan mengimplementasikan standar tinggi untuk operasional RS.

Fasilitas RS Siloam Cito sudah disiapkan sejak 2014 dan seluruh fasilitas sudah siap digunakan, tinggal menunggu izin operasional RS. "Rencana awal pembukaan dan pengoperasian RS ini dijadwalkan mundur di 2021/2022 terkait perencanaan dan persiapan kecukupan tenaga kerja terutama tenaga medis," jelasnya.

Meskipun baru, RS ini didukung sepenuhnya secara total dan intensitas oleh Siloam Hospital Group yang sudah terbukti selama lebih dari 25 tahun dengan mengoperasikan 39 RS secara nasional. Total tenaga medis dan tenaga pendukung lainnya di jaringan SHG mencapai lebih dari 15 ribu orang.

"Dari hari pertama operasionalnya, RS ini sudah terjamin standard kualitas dan pelayanan medisnya. Juga SDM yang terjamin, tidak perlu diragukan lagi," ucap Danang.

Secara fisik dan peralatan medis juga tidak perlu diragukan karena semua sudah terencana dan dipersiapkan dengan baik. RS Siloam tersebut, kata Danang, merupakan RS ke-40 dari SHG yang akan dibuka dan mendapatkan manfaat dari pengalaman SHG selama 25 tahun lebih.

"Ini bukan pertama kali RS berada di dalam mixed use. Karena di luar negeri, khususnya di kota-kota padat penduduk, hal itu lazim," papar Danang.