Lirik ekspor furnitur lima miliar dolar, Kemenperin siapkan SDM unggul

Kementerian Perindustrian berperan memenuhi kebutuhan industri terhadap ketersediaan sumber daya manusia (SDM) unggul guna menunjang pencapaian ekspor furnitur senilai lima miliar dolar AS.

"Dengan didukung SDM yang andal, tentunya industri kita semakin berdaya saing global. Pada ujungnya, apabila kinerja sektor industri jadi lebih baik, akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Arus Gunawan lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Arus menegaskan pengembangan SDM menjadi bagian dari program prioritas pemerintah saat ini. Langkah strategis yang ditempuh, di antaranya adalah pelaksanaan pelatihan dan pendidikan vokasi, termasuk menjalin kerja sama dengan sektor industri.

"Kami telah memiliki sejumlah unit pendidikan vokasi yang meliputi 11 politeknik, 2 akademi komunitas, dan 9 SMK. Selain itu, terdapat 7 balai diklat industri (BDI), yang semuanya di bawah naungan BPSDMI Kemenperin, dan tersebar di beberapa provinsi Indonesia," sebutnya.

Arus mengemukakan, salah satu unit pendidikan vokasi Kemenperin yang berada di wilayah kawasan industri adalah Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka). Kampus yang berdiri di atas lahan seluas 19.000 m2 berada di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah.

"Pembangunan Polifurneka ini dalam rangka menjawab kebutuhan industri furnitur dalam ketersediaan tenaga kerja yang kompeten. Apalagi, industri furnitur memerlukan suatu inovasi produk dan desain yang menarik sehingga bisa berdaya saing di pasar domestik hingga ekspor," paparnya.

Kemenperin mencatat, kebutuhan tenaga kerja di sektor industri furnitur mencapai 562 ribu orang pada 2020 dan akan meningkat jadi 645 ribu orang di 2025.

"Oleh karenanya, kami telah menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan furnitur agar para lulusan Polifurneka Kendal bisa langsung bekerja atau terserap di industri," jelas Arus.

Polifurneka Kendal yang beroperasi sejak 2018 ini merupakan rintisan dari kerja sama pemerintah Indonesia dan Singapura. Kemitraan ini termasuk dalam upaya pembangunan Kawasan Industri Kendal.

Selain itu, dalam penerapan model pendidikan di Polifurneka Kendal, Indonesia menggandeng SECO Swiss untuk mengimplementasikan model dual system berbasis kompetensi.

"Polifurneka Kendal menjadi satu-satunya politeknik bidang furnitur di Indonesia yang berstatus negeri. Para mahasiswanya berasal dari lulusan SMK/SMA, dan mendapatkan beasiswa penuh selama belajar di Polifurneka Kendal yang berada di kawasan industri yang strategis," ungkap Arus.

Saat ini, Polifurneka Kendal memiliki tiga program studi tingkat diploma 3 (D3) yang spesifik dan teknis di bidang furnitur, yakni Teknik Produksi Furnitur, Desain Furnitur, dan Manajemen Bisnis Industri Furnitur.

"Kami optimistis, dengan adanya investasi yang masuk di industri furnitur, kami siap menyuplai SDM yang kompeten dan andal," imbuhnya.

Sementara itu, nilai ekspor mebel dan kerajinan pada kuartal I 2022 telah mencapai satu miliar dolar AS atau naik 15,87 persen dibanding nilai ekspor pada kuartal I 2021.

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menargetkan nilai ekspor pada 2022 mencapai 3,93 miliar dolar AS, dan naik menjadi 4,46 miliar dolar pada 2023.

Baca juga: Kerek ekspor, Kemenperin bawa 28 IKM furnitur ke pameran internasional
Baca juga: Kemenperin sebut ekspor industri furnitur naik 33 persen
Baca juga: Menperin pastikan kayu dan rotan tersedia dukung industri furniture