Liverpool juarai Liga Premier, akhiri penantian 30 tahun

Liverpool (AFP) - Liverpool dinobatkan sebagai juara Liga Premier tanpa menendang bola pada Kamis ketika kemenangan 2-1 Chelsea atas Manchester City mengakhiri 30 tahun penantian The Reds untuk memenangkan gelar kompetisi sepak bola liga Inggris.

Pasukan Jurgen Klopp memastikan gelar liga ke-19 untuk klub ini, dengan rekor tujuh pertandingan tersisa setelah urutan kedua City menelan kekalahan, membuat mereka terpaut 23 poin.

Liverpool tinggal memerlukan dua poin untuk kepastian gelar setelah membantai Crystal Palace 4-0 di Anfield pada Rabu.

Kemenangan ke-28 mereka dalam 31 pertandingan liga musim ini mendorong bintang Liverpool Mohamed Salah untuk menyatakan "sekarang saatnya kita menjuarai liga" dan 24 jam kemudian keinginannya terkabul.

Liverpool mendapat bantuan yang mereka inginkan dari Chelsea di Stamford Bridge.

Penalti Willian di menit ke-78, diberikan untuk handball oleh Fernandinho, mengakhiri kekuasaan City selama dua tahun sebagai juara setelah Kevin De Bruyne sempat membalas gol pembuka Christian Pulisic.

Liverpool telah memastikan gelar lebih awal dibanding juara-juara Liga Premier lainnya, memecahkan rekor sebelumnya dari lima pertandingan yang dibuat oleh City dan Manchester United.

Ini sempat merupakan penantian yang menyakitkan bagi para penggemar Liverpool di seluruh dunia, dengan virus corona memaksa menunda penampilan setelah Liga Premier ditangguhkan pada bulan Maret ketika tim asuhan Klopp tinggal memerlukan dua kemenangan untuk menyegel gelar tersebut.

Penundaan tiga bulan adalah hambatan terakhir dalam jalan panjang Liverpool kembali ke puncak sepak bola Inggris.

Liverpool menghabiskan waktu bertahun-tahun di bawah bayang-bayang saingan berat Manchester United selama era Alex Ferguson sebelum tergeser oleh Chelsea dan Manchester City yang mengerahkan dana besar-besaran.

Kemudian saat ditangani oleh Brendan Rodgers, mereka menyia-nyiakan peluang emas untuk memenangkan gelar pada tahun 2014 ketika kapten Reds Steven Gerrard membuat kesalahan fatal dalam kekalahan di akhir musim melawan Chelsea.

Tapi tim Klopp layak juara setelah kampanye luar biasa yang bisa berakhir dengan gaya pemecahan rekor.

Liverpool, yang sekarang satu titel di belakang Manchester United dengan rekor 20, berada di jalur untuk mengalahkan Manchester City yang mencatat total poin 100 di musim 2017/18.

Pasukan Klopp dapat memecahkan rekor untuk margin kemenangan terbesar, yang dipegang oleh City ketika mereka selesai 19 poin di puncak di musim yang sama.

Mereka juga berada bisa melewati rekor kemenangan terbanyak dalam satu musim Liga Premier - 32 oleh City di musim 2017/18 dan 2018/19.

Klopp, manajer Jerman pertama yang memenangkan Liga Premier, telah menjadi arsitek kebangkitan Liverpool sejak mantan bos Borussia Dortmund itu tiba di Anfield pada 2015.

Menanamkan pemainnya dengan keyakinan pada sepak bola "heavy metal" dan taktik permainan "gegen-pressing" tempo tinggi, Klopp yang karismatik telah mendapatkan tempatnya bersama mantan manajer ikon Liverpool, Bill Shankly, Bob Paisley dan Kenny Dalglish.

Ketika Dalglish memimpin Liverpool menuju gelar pada 1990, hadiah yang pernah Shankly gambarkan sebagai "roti dan mentega" klub nyaris diterima begitu saja setelah dua dekade berkuasa.

Setelah bertahun-tahun prestasinya turun, Klopp telah membawa gaya unik dan piala-piala utama kembali ke Liverpool.

Mereka memenangkan Liga Champions musim lalu, ketika mereka mengalahkan Tottenham di final, 12 bulan setelah kalah dari Real Madrid pada tahap kompetisi yang sama.

Liverpool menjadi runner up bagi Manchester City pada musim lalu, yang ditentukan pada hari terakhir musim, dengan rekor 97 poin.

Tetapi dengan Salah, Sadio Mane dan Roberto Firmino membentuk tiga front yang tangguh, Jordan Henderson yang tak kenal lelah hadir di lini tengah dan Virgil van Dijk bertahan di belakang, Liverpool telah meninggalkan City untuk mengikuti jejak mereka musim ini.

Sudah sepantasnya bahwa Liverpool menyelamatkan salah satu penampilan mereka yang paling menarik selama pekan gelar itu dimenangkan.

Setelah menghancurkan Crystal Palace, Klopp berkata: "Bayangkan seandainya stadion bisa penuh dan orang-orang bisa mengalami itu secara langsung. Itu akan luar biasa.

"Laga ini akan bertahan lama di pikiran saya, ini yang kami inginkan.

"Kami tidak bisa bermain seperti tim lain, tapi kami bisa bermain bagus."

Frustrasi Klopp bahwa pertandingan dimainkan secara tertutup saat ini akan memudar pada waktunya.

Ini akan menjadi kenangan yang bertahan lama yang ditinggalkan oleh tim luar biasanya.

Sejarawan Anfield tentunya akan menempatkan skuad saat ini -- yang juga memenangi Piala Dunia Klub tahun lalu - di samping skuad 1979 dan 1988 sebagai salah satu yang terhebat saat mengenakan jersey merah yang terkenal.

smg/kca/jw/dj