Liz Truss Bakal Jadi PM Baru Inggris Gantikan Boris Johnson

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss, 47 tahun, telah terpilih untuk menggantikan jabatan Perdana Menteri (PM) Inggris, Boris Johnson. Anggota Partai Konservatif itu meraih kemenangannya setelah bersaing dengan Menteri Keuangan, Rishi Sunak kemarin.

Dikutip dari laman Aljazeera, Senin (5/9), sebagai calon PM Inggris baru, Truss akan bertemu Ratu Elizabeth di Kastil Balmoral, Skotlandia pada hari ini. Di pertemuan itu, Truss akan diminta untuk membentuk pemerintahan Inggris baru.

Dalam pemilihan, Truss tidak memenangkan suara sebanyak yang diperkirakan sebelumnya, ungkap laporan wartawan Aljazeera, Jonah Hull.

"Dia (Truss) meraih 57 persen suara yang memenuhi syarat di antara anggota Partai Konservatif. Rishi Sunak, mantan menteri keuangan, mendapat 42 persen," kata Hull.

Dalam malam kemenangannya, Truss berjanji akan membawa perubahan kepada Inggris.

"Dia (Truss) berjanji bahwa dia berkampanye sebagai Konservatif dan dia akan memerintah sebagai Konservatif, dia berjanji untuk memotong pajak, untuk menumbuhkan ekonomi, dia berjanji untuk menangani krisis energi," lanjut laporan Hull.

Kemenangan Truss mendapat sambutan dari pemimpin lain, seperti pemimpin Uni Eropa, Ursula von der Leyen.

Bagi Leyen, Inggris harus tetap bekerja sama sepenuhnya dengan Uni Eropa sesuai dengan perjanjian yang telah diambil. Sebab sebelumnya, Truss memperingatkan dia akan menerapkan undang-undang Inggris yang melepas sebagian dari kesepakatan Brexit Inggris dengan Uni Eropa.

"Uni Eropa dan Inggris adalah mitra. Kami menghadapi banyak tantangan bersama, dari perubahan iklim hingga invasi Rusia ke Ukraina," tulis Leyen dalam akun Twitternya.

"Saya menantikan hubungan yang konstruktif, dengan menghormati sepenuhnya kesepakatan kami," tulis Leyen merujuk pada Protokol Irlandia Utara.

Meski kemenangan telah dicapai Truss, namun dia harus menghadapi berbagai tantangan yang diwarisi oleh pemerintahan Boris Johnson, seperti melonjaknya biaya hidup, krisis energi hingga inflasi Inggris.

Kwasi Kwarteng, mantan Menteri Negara untuk Bisnis, mengungkapkan di bawah pemerintahan Truss, Inggris harus melakukan beberapa pelonggaran fiskal dengan penuh tanggung jawab.

Dengan menerapkan kebijakan yang tepat, maka Truss dapat membawa Inggris keluar dari masalah yang dihadapinya.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]