llmuwan China Berhasil Kloning Serigala

Merdeka.com - Merdeka.com - Perusahaan bioteknologi China, Sinogene Biotechnology berhasil mengkloning serigala kutub yang mereka namakan Maya. Meski hasil kloning dan bukan serigala asli, namun serigala itu menunjukkan tingkat pertumbuhan yang baik.

Kloning sendiri adalah menciptakan makhluk hidup baru yang identik secara genetik. Kloning bukanlah hal baru, sebelumnya tim ilmuwan asal Inggris pernah mengkloning domba bernama Dolly. Domba itu menjadi makhluk hidup pertama yang berhasil dikloning manusia.

Proses kloning Maya pun tidak beda jauh dari proses kloning Dolly. Maya harus melewati proses kloning bernama transfer inti sel somatik (sel yang membentuk organisme).

Untuk membuat dan mengembangkan embrio serigala (sel telur), ilmuwan harus menempatkan sel Maya ke dalam rahim anjing beagle. Anjing itu menjadi ibu pengganti dan melahirkan Maya.

"Serigala yang baru lahir memiliki genom yang sama dengan serigala asli, tetapi serigala hasil kloning tidak hidup dengan serigala lain, tetapi dengan seekor anjing," kata Zhao Jianping, Wakil Manajer Umum Sinogene, seperti dilansir Euronews, Jumat (23/9).

Peneliti juga mengungkapkan jika hewan kloning memiliki masalah sosialisasi dengan spesiesnya sendiri.

"Bahkan, untuk anjing dan kucing peliharaan hasil kloning, ada juga masalah sosialisasi awal. Semakin dini sosialisasi, semakin bermanfaat bagi perkembangannya ke depan," lanjut Zhao.

Alasan ilmuwan mengkloning Maya adalah untuk membantu pelestarian spesies yang terancam punah.

Namun serigala kutub bukanlah spesies yang terancam punah sebab mereka hidup dalam keadaan terisolasi dari hewan lain. Keberadaan manusia pun tidak mengancam habitatnya. Karena itu kloning Maya dapat dikatakan sebagai uji coba untuk kloning spesies lain yang terancam punah. Sebab perusahaan bioteknologi itu ingin meneliti cara melestarikan hewan yang lebih rentan punah.

Namun tantangan kloning spesies yang terancam punah pun tetap ada.

"Relatif lebih mudah untuk mengkloning anjing dan kucing," jelas Zhao.

"Kami akan terus bekerja di bidang ini. Pada langkah selanjutnya, kita mungkin mengkloning hewan liar langka selain anjing atau kucing dan itu akan lebih sulit," lanjutnya.

Meski tim ilmuwan China beritikad baik untuk melestarikan hewan yang rentan punah, namun beberapa komunitas ilmiah memandang berbeda. Bagi mereka kloning berpengaruh pada keanekaragaman hayati.

Maya pun tidak dapat bersosialisasi dengan serigala lain karena harus hidup di penangkaran.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]