Lockdown Kembali Diterapkan Sejumlah Negara, Apa Dampaknya ke Bursa Saham?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Terjadi peningkatan kasus positif Covid-19 membuat sejumlah negara harus menerapkan sistem lockdown. Tercatat sedikitnya terdapat tiga negara yang melakukan isolasi wilayah, yakni Malaysia, Australia dan India.

Melihat hal ini, Ketua Informasi Investasi Mirae Asset Sekuritas Roger M.M. menyebut, dampak yang diberikan akibat lockdown bervariasi, ada yang menguntungkan dan merugikan.

"Ada positif dan negatif. Positifnya kalau ini diberlakukan akan berdampak ke CPO langsung, maka sekarang harganya CPO cukup tinggi," katanya, Kamis (3/6/2021).

Tak hanya itu, Roger juga menegaskan bila dampak kepada emiten mungkin saja terjadi. Terlebih bila negara yang melakukan lockdown tak melakukan aktivitas seperti biasa, sehingga negara lain yang akan diuntungkan.

"Ada yang diuntungkan dari efek lock down ini, tapi juga ada yang dirugikan misalnya kalau lock down di Amerika Serikat, mungkin baja di China tak bisa memenuhi, bisa beralih ke baja di Indonesia. Jadi efek ke emiten," ujarnya.

Selain itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mengatakan, bila Malaysia bukan menjadi mitra utama perdagangan bagi Indonesia, sehingga pengaruh yang diberikan tak terlalu besar.

"Jadi memang yang besar itu CPO jadi itu yang berpengaruh, namun pergerakan CPO sendiri bukan hanya dipengaruhi oleh lockdown di Malaysia tapi juga suplai dan demand, karena adanya peningkatan kasus Covid di India, membuat demand berkurang," tuturnya.

Harga CPO yang sempat mengalami kenaikan juga diakui Martha telah mengalami penurunan karena India sebagai konsumen utama mengalami lonjakan kasus COVID-19.

Gerak IHSG Bakal Menguat pada Juni 2021, Apa Saja Sentimennya?

Pekerja beraktivitas di BEI, Jakarta, Selasa (4/4).  Sebelumnya, Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 5.600 pada penutupan perdagangan pertama bulan ini, Senin (3/4/2017). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja beraktivitas di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Sebelumnya, Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 5.600 pada penutupan perdagangan pertama bulan ini, Senin (3/4/2017). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat terbatas pada Juni 2021. Sejumlah rilis data ekonomi dan perkembangan kasus COVID-19 akan menjadi sentimen pelaku pasar.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, gerak IHSG masih akan fluktuaktif sepanjang Juni 2021. IHSG bakal terkoreksi terlebih dahulu. Namun, Herditya mengatakan, IHSG berpeluang naik terbatas.

"Kami perkirakan IHSG ke rentang 5.600-6.050 pada Juni 2021,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Selasa, 1 Juni 2021.

Ia menambahkan, rilis data ekonomi domestik akan menjadi perhatian pelaku pasar. Diperkirakan data ekonomi membaik. Data ekonomi yang akan keluar antara lain inflasi, neraca perdagangan dan cadangan devisa.

“Kalau dari global lebih memperhatikan data ekonomi dari USD. Kaasus COVID-19 global yang membuat lockdown di berbagai negara termasuk negara tetangga,” ujar dia.

Sementara itu, Analis PT Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, IHSG berpotensi menguat ke level 6.200. Ia menuturkan,IHSG akan uji posisi 6.100 dalam waktu tertekat.

"Tapi antisipasi jika indeks gagal bertahan di atas 5.883. Karena jika gagal bertahan IHSG dapat turun lagi karena IHSG juga masih ada gap di level 5.815,” kata dia.

Untuk saham yang dapat dicermati pelaku pasar, Herditya memilih saham metal, tambang dan crude palm oil (CPO). “Untuks trateginta silahkan buy on weakness, dan jangan terlalu agresif," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel