Lockdown Total Akibat Corona COVID-19 Ricuh, Yordania Perlonggar Aturan

Liputan6.com, Amman - Yordania melonggarkan aturan lockdown akibat Virus Corona COVID-19 yang disebut sebagai salah satu yang terketat di dunia, pada Rabu 25 Maret. Upaya itu diambil setelah lockdown memicu kekacauan di negara itu.

Beberapa hari setelah jam malam total diberlakukan, orang-orang berteriak-teriak menerima distribusi roti dari truk-truk pemerintah. Jaringan Hotline darurat offline penuh dengan panggilan telepon, dan beberapa melaporkan mereka tidak punya apa-apa di rumah untuk makan.

Tetapi pada Selasa 24 Maret, pemerintah akhirnya melunak, melonggarkan pembatasan pergerakan. Setelah empat hari total lockdown, orang-orang kini diizinkan meninggalkan rumah dengan berjalan kaki untuk perjalanan penting, seperti membeli makanan dari toko-toko kecil dan membeli obat-obatan.

Kendati demikian, jam malam saat pandemi Corona COVID-19 masih diberlakukan mulai jam 18.00 sore sampai 10.00 pagi.

"Ada tanggapan penuh kegembiraan ketika Perdana Menteri mengumumkan Selasa malam bahwa toko kelontong kecil akan dibuka hari ini dan Anda dapat berjalan ke sana," kata Wakil Direktur Human Rights Watch Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara yang berbasis di Amman, Adam Coogle kepada CNN yang dikutip Kamis (26/3/2020).

General Security Department atau dikenal Departemen Keamanan Umum Yordania mengatakan 1.657 orang ditangkap pada Senin 23 Maret, karena melanggar total jam malam diberlakukan pada Sabtu 21 Maret pagi. Pelanggar terancam hukuman satu tahun penjara.

Pada Rabu, pemerintah memperingatkan bahwa pihak berwenang akan kembali mengambil tindakan keras di hari-hari mendatang akibat pandemi Virus Corona COVID-19. "Ini adalah peningkatan jumlah orang yang terinfeksi dan indikasi yang tidak nyaman menjadi pertanda untuk pengerasan (tindakan)," kata Menteri Negara Urusan Media Yordania Amjad Adayleh.

 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Lockdown Sejak 21 Maret

Ilustrasi Virus Corona. (Bola.com/Pixabay)

Suara sirene meraung di udara pukul 07.00 pagi pada Sabtu 21 Maret 2020, mengumumkan larangan total pergerakan. Alias lockdown total.

Sehari setelahnya, pada Minggu 22 Maret, pemerintah mengumumkan jam malam akan diperpanjang tanpa batas waktu. Hal itu memicu kepanikan di negara itu.

"Orang-orang menjadi khawatir. Ketidakjelasan dan pesan yang campur aduk menyebabkan beberapa orang khawatir di sini," kata Wakil Direktur Human Rights Watch Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara yang berbasis di Amman, Adam Coogle. "Pemerintah belum mengumumkan bagaimana mereka akan menangani kebutuhan dasar."

Video di  media sosial menunjukkan kerumunan orang di sekitar truk makanan pemerintah, setelah pihak berwenang mencoba memonopoli pengiriman makanan. Apotek menerima  rentetan panggilan telepon yang meminta pengiriman.

Kontras dengan Negara Tetangga

Tingkat keparahan peraturan jam malam sebelumnya sangat kontras dengan negara-negara seperti Italia, yang telah menerapkan pembatasan selama berminggu-minggu tetapi masih memungkinkan warga untuk ke toko jika mereka dapat membuktikan alasan.

Kerasnya aturan lockdown Yordania sangat mencolok, mengingat jumlah kasus yang relatif rendah. Hanya 153 orang yang dinyatakan positif COVID-19 di negara itu, kata pemerintah dalam berita terbaru, hari Selasa. Kini, Kamis 26 Maret sudah naik menjadi 172.

"Terkurung terasa seperti selalu gelisah, karena kita terbiasa pergi keluar dan melihat orang," kata Hassan Karim, seorang karyawan toko pakaian, kepada CNN pada hari Selasa. "Semangat kami agak turun, tetapi kami harus menyesuaikan diri sampai situasinya membaik."

Yordania bertindak cepat untuk membatasi penyebaran Virus Corona baru, mulai mengunci negara dalam beberapa hari setelah mengkonfirmasi kasus pertama COVID-19. Perbatasan bahkan ditutup, sementara bandara, universitas, dan tempat ibadah semuanya ditutup.

Orang-orang yang tiba dari penerbangan ditempatkan langsung ke karantina, kadang-kadang di hotel bintang lima yang diambil alih oleh pemerintah, dan pintu masuk ke kota-kota dipatroli oleh militer.

Tetapi seruan agar penduduk tetap tinggal di dalam rumah ternoda oleh beberapa orang - sehingga tanggapannya meningkat tajam pekan lalu ketika Undang-Undang Pertahanan diaktifkan oleh Perdana Menteri, Omar Razzaz, dengan dekret kerajaan.

Pada hari Senin, raja negara itu, Raja Abdullah II, mengatakan ia meminta pasukan keamanan untuk "menjaga kesiapan maksimum dalam menghadapi ancaman (Virus Corona COVID-19)."

Menurut stasiun TV lokal, pengumuman jam malam total memicu kemacetan besar-besaran pada hari Jumat, ketika ribuan orang pergi ke supermarket lokal untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya. Video-video beredar tentang ratusan orang yang saling dorong di toko roti, di mana perkelahian juga terjadi.

Upaya Perlindungan

Ilustrasi pandemi virus corona/ Photo by ���� Claudio Schwarz | @purzlbaum on Unsplash

"Kami meminta maaf karena mengambil keputusan seperti itu, tetapi tujuan ini adalah untuk melindungi Anda dan menjaga keselamatan serta kesehatan Anda," kata Menteri Adaileh, hari Sabtu saat lockdown diberlakukan.

Sehari setelah lockdown total, seorang anggota keluarga Wakil Direktur Human Rights Watch Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara yang berbasis di Amman, Adam Coogle membutuhkan obat untuk mengobati kondisi kesehatannya, katanya kepada CNN. Ia tidak dapat menjangkau apotek mana pun, keluarganya berulang kali mencoba menelepon 911, tetapi telepon tidak pernah terangkat.

Otoritas Yordania berdalih bahwa saluran darurat menerima ribuan panggilan dalam sehari.

"Ada risiko medis jika (kondisi) tidak diobati tanpa batas waktu," kata Coogle. "Kami menjadi sangat khawatir ketika mendengar berita bahwa jam malam akan diperpanjang tanpa batas waktu."

Pada hari Selasa, setelah aturan pengiriman dari farmasi dilonggarkan, keluarga tersebut dapat membeli obat.

Coogle mengatakan bahwa ketika dia memeriksa pramu tamu di gedungnya, dia menemukan pekerja Mesir kehabisan makanan untuk dimakan selama lockdown. Keluarga yang sempat menyetok makanan setelah pengumuman jam malam pada Jumat20 Maret adalah beberapa dari warga yang beruntung, kata Coogle.

"Saya memuji pemerintah karena mengambil langkah-langkah yang sangat kuat untuk mengendalikan ini," kata Coogle. "Mereka akan menstabilkan (penyebaran) karena apa yang telah mereka lakukan. Tidak ada pertanyaan."

Tetapi pada saat yang sama, ketika mereka memperkenalkan kepanikan soal penyediaan kebutuhan dasar, saya berharap mereka memberikan penjelasan."

"Tanggapan pemerintah mendapat dukungan rakyat. Pukul 20.00 malam setiap malam pada pekan ini, beberapa orang Yordania ke balkon untuk menyampaikan pujian terhadap pasukan keamanan yang bertugas."

Jika Anda melihat apa yang terjadi pada Italia dan Prancis, mereka sudah terlambat untuk menegakkan tindakan. Yordania berada di jalur yang benar, kata Hassan Karim, seorang karyawan toko pakaian, kepada CNN.

"Ini terjadi di mana-mana dan saya harus melakukan kewajiban saya," kata pengusaha Jamal Lattouf kepada CNN. "Ini wajar di bawah undang-undang dan peraturan darurat. Apa yang kita tinggali tidak biasa, sejarah akan menuliskan tanggal yang kita saksikan saat ini. Saya merasa ini adalah tugas saya - ini tidak perlu dibahas. Ini bisa berakibat fatal bagi saya dan negara."

Sementara itu, pemerintah telah berjanji untuk memodifikasi upayanya.

"Tidak ada solusi sempurna selama masa sulit ini, jadi wajar jika akan ada kesalahan dan pelanggaran dan kami akan menyelesaikannya," kata Menteri Adaileh dalam konferensi pers pada hari Selasa.

Saksikan video pilihan di bawah ini: