Lompatan Besar China Hadapi Tekanan AS soal Produksi Chip

Merdeka.com - Merdeka.com - China menghadapi tantangan berat untuk menyalip Amerika Serikat dan sekutunya dalam memproduksi semikonduktor. Langkah berat ini diketahui ketika Washington membatasi kemampuan Tiongkok memproduksi chip canggih dan mengamankan dominasi atas teknologi strategis.

Pekan lalu, Washington membatasi penjualan unit prosesor grafis (GPU) Nvidia dan AMD tertentu ke China yang digunakan dalam aplikasi kecerdasan buatan dan superkomputer. Langkah ini mengikuti pengumuman Departemen Perdagangan AS bulan lalu tentang larangan ekspor ke China berupa perangkat lunak otomatisasi desain elektronik (EDA) yang digunakan untuk produksi chip generasi berikutnya.

Sementara itu, Washington telah mendorong mitra Asia Timur Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang untuk membentuk aliansi industri "Chip 4" untuk mengisolasi China dari ekosistem teknologi internasional, dan memperkuat upaya untuk mengembangkan industri dalam negerinya dengan pengesahan UU CHIPS.

"AS sedang mencoba untuk memperkuat peran sentralnya dalam ekosistem semikonduktor dunia dan memastikan bahwa China tidak dapat memproduksi chip yang paling canggih," Chris Miller, seorang penulis buku yang diwawancari Al Jazeera, belum lama ini.

"Kontrol atas semikonduktor tidak hanya akan membentuk masa depan ekonomi dunia, mulai dari komputasi awan hingga penggerak otonom, mereka juga fundamental bagi kekuatan militer," tambah dia.

Semikonduktor telah muncul sebagai salah satu medan pertempuran paling sengit dalam persaingan antara AS dan China. Mengapa demikian? Semikonduktor berfungsi sebagai sumber kehidupan ekonomi modern.

Dengan chips, maka akan memberikan kekuatan pada segala hal mulai dari iPhone hingga jet tempur, perangkat keras itu dipandang penting untuk membuka terobosan teknologi masa depan, yang berarti keseimbangan kekuatan global masa depan dapat bertumpu pada chip yang sedang dikembangkan hari ini.

China, seperti ekonomi utama lainnya, sangat bergantung pada produksi semikonduktor di Taiwan. Pada bulan Juli, para peneliti di TechInsights melaporkan bahwa China Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) kemungkinan telah memperoleh kemampuan untuk menghasilkan chip 7-nanometer (nm), menandakan lompatan besar ke depan setelah bertahun-tahun berjuang untuk maju melampaui node 14nm.

SMIC yang didukung pemerintah Tiongkok sekarang meningkatkan kapasitas dengan rencana baru untuk pabrik keempat di kota utara Tianjin.

"Ini terobosan besar," ungkap Dylan Patel, seorang analis industri dan penulis buletin SemiAnalysis.

China telah diblokir untuk memperoleh peralatan terbaru guna memproduksi chip canggih yakni mesin litografi ultraviolet ekstrim (EUV). Ini terjadi ketika produsen terkemuka Belanda ASML ditolak lisensi ekspor menyusul tekanan AS di Amsterdam.Tetapi perusahaan China masih dapat menggunakan mesin lain untuk memproduksi chip mutakhir. [faz]