Long COVID-19 Dapat Pengaruhi Psikologis Pasien, Dukungan dari Keluarga dan Teman Dibutuhkan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Long COVID-19 adalah gejala yang timbul setelah pasien dinyatakan negatif. Selain dapat memicu efek kesehatan berkepanjangan, long COVID-19 juga dapat juga dapat memengaruhi keadaan psikologis.

Hal ini diakibatkan pasien merasa frustrasi karena tidak dapat kembali ke keadaan sehat seperti semula dalam waktu singkat.

Beberapa penderita dapat mengalami kesulitan dalam melakukan hal-hal yang dulu sangat mudah mereka lakukan, seperti naik tangga, berjalan jauh, atau berolahraga.

Sebuah studi yang dipublikasikan di The Lancet pada April 2021 menemukan bahwa sepertiga pasien COVID-19 telah didiagnosis dengan gejala neurologis atau psikologis, termasuk kecemasan, depresi, gangguan stres pasca trauma (PTSD), dan psikosis, dalam 6 bulan setelah mereka tertular COVID-19.

Terkait hal ini, CEO & Founder Personal Growth dan Sahabat Sentra Vaksinasi Serviam Ratih Ibrahim mengatakan bahwa kesehatan mental perlu diperhatikan apabila seseorang mengalami long COVID-19.

“Mereka akan merasa frustrasi karena gejala penyakit masih dirasakan walaupun mereka sudah dinyatakan sembuh,” ujar Ratih mengutip keterangan pers Good Doctor, Kamis (16/9/2021).

Butuh Support System

Ratih menambahkan, dalam perjalanan untuk sembuh dari long COVID-19, para pasien harus mengerti bahwa ini merupakan sebuah proses. Akan ada hari-hari di mana gejala terasa lebih berat dibandingkan hari lainnya.

“Dalam kondisi seperti ini, support system dari keluarga dan teman dapat membantu. Selain itu, dengan menciptakan rutinitas yang baik dan tetap aktif, dapat memicu endorfin dan juga meningkatkan mood.”

Bagi para penderita long COVID-19, lanjutnya, konsultasi dengan ahli akan dapat membantu pemulihan fisik dan mental. Teknologi konsultasi jarak jauh dengan dokter atau psikolog telah disediakan agar pasien tidak perlu ke luar rumah dan kembali terekspos risiko paparan virus.

Menurut WHO

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, sebanyak 5-20 persen pasien COVID-19 mengalami long COVID-19 lebih dari 4 minggu. Diperkirakan 1 dari 10 pasien COVID-19 dapat mengalaminya hingga lebih dari 12 minggu.

Walaupun pasien tidak menularkan virus pada tahap ini, tapi beberapa dari mereka mengalami komplikasi medis yang dapat mengakibatkan efek kesehatan yang berkepanjangan.

Long COVID-19 adalah apabila setelah empat pekan sejak mulai merasakan gejala COVID-19 sampai dinyatakan negatif, masih timbul gejala sisa. Gejala ini dapat berupa sesak napas, nyeri sendi, nyeri otot, batuk, diare, kehilangan penciuman, dan pengecapan,” kata dokter spesialis penyakit dalam, Jeffri Aloys Gunawan dalam keterangan yang sama.

Meskipun gejala long COVID-19 ini bisa diatasi secara medis, pasien COVID-19 perlu tetap selalu waspada, lanjut Jeffri.

Apabila mengalami long COVID-19, pasien harus lebih hati-hati dalam melakukan kegiatan sehari-hari, tapi bukan berarti berhenti sepenuhnya.

Jeffri menyarankan, pasien harus mengatur kegiatan mereka agar tidak terlalu kelelahan, melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan, dan lakukan kegiatan fisik dengan teratur agar otot-otot tetap bekerja.

“Apabila gejala semakin memburuk, segera hubungi dokter,” pungkasnya.

INFOGRAFIS Persentase komorbid pasien-pasien COVID-19 di Indonesia

INFOGRAFIS Persentase komorbid yang sering ditemui pada pasien-pasien COVID-19 di Indonesia (Ilustrasi Abdillah/Liputan6)
INFOGRAFIS Persentase komorbid yang sering ditemui pada pasien-pasien COVID-19 di Indonesia (Ilustrasi Abdillah/Liputan6)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel