Lonjakan Kasus COVID-19, Menkes Budi Singgung Longgarnya Prokes

Ichsan Suhendra, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut adanya kelalaian masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan yang memicu lonjakan kasus COVID-19. Menurutnya, hal itu berkaca pada tsunami COVID-19 di India yang dianggap memilukan.

Menkes Budi menyampaikannya saat memperingati Hari Malaria Sedunia 2021. Menurut Menkes, penerapan protokol kesehatan yang abai memicu lonjakan kasus tak terkendali sehingga rumah sakit tak mampu menampung pasien COVID-19.

"Akibat kelalaian pimpinan-pimpinan daerahnya yang terlalu menganggap sepele penularan yang lupa menerapkan protokol kesehatan, akibatnya sangat fatal. 350 ribu per hari (di India), naik dari jumlah 5 ribu per hari. Kalau pakai hitung-hitungan kasar, 20 persennya masuk rumah sakit. 350 ribu perhari, 70 ribu masuk rumah sakit," kata Menkes dalam konferensi pers secara virtual, Selasa 27 April 2021.

Lebih lanjut, Menkes menyebut program vaksinasi di India tercatat memiliki laju yang cukup tinggi. Sayangnya, hal itu tak diimbangi dengan kasus protokol kesehatan yang ketat.

Menkes menjelaskan penanganan tersebut juga serupa pada kasus malaria, termasuk melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Sebab, COVID-19, TBC, dan malaria termasuk dalam penyakit menular yang masih melanda di Tanah Air.

"Setiap penyakit menular itu membutuhkan perubahan atau implementasi dari protokol kesehatan. Protokol kesehatan ini harus dilakukan oleh seluruh rakyat di daerah, di mana terjadi penyakit menular," ujarnya.

Sebagai contoh, untuk malaria harus ada protokol kesehatan untuk memastikan seluruh jentik-jentik nyamuk dan genangan-genangan air itu bisa teridentifikasi dan bisa tertangani dengan baik. Menkes Budi mengharapkan, 405 dari 514 kabupaten sudah bebas malaria pada tahun 2024. Serta, pihaknya menargetkan tahun ini, 345 kabupaten kota sudah eliminasi malaria.

"Mari kita bersama untuk menghadapi segala macam penyakit menular malaria dan termasuk yang paling berat pandemi COVID-19, dan sekali lagi saya tekankan untuk membutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat," katanya.