Lorenzo Sebut Dovizioso Kehilangan Motivasi

Xaveria Yunita
·Bacaan 2 menit

Sungguh disayangkan jika melihat kans juara terbuka seiring dengan absennya Marc Marquez akibat patah lengan kanan. Rivalitas sedikit ringan saat ini.

“Sangat disesalkan, Dovizioso punya peluang emas jadi juara tanpa Marquez tapi gegara beragam alasan, dia tak bisa memanfaatkannya. Prestasinya tidak seperti beberapa tahun lalu dan motor tetap sama, dengan kecepatan tinggi tapi bermasalah di tengah tikungan,” ujar Lorenzo kepada La Gazzetta dello Sport.

“Tapi dilihat dari luar, bagi saya, Dovizioso memberi sensasi tak terlihat lagi di MotoGP dan ini memberi efek berkebalikan bukannya malah membuatnya termotivasi. Dia sedikit padam secara mental dan saya yakin ini berpengaruh kepada hasilnya.”

Baca Juga:

Dovizioso Termotivasi Kejar Titel Juara demi Ducati

Sepanjang musim balapan 2020, performa Dovizioso tidak konsisten. Hanya dua kali ia naik ke podium, yakni peringkat ketiga MotoGP Spanyol dan juara MotoGP Austria.

Dalam empat balapan terakhir, rider yang memulai kiprah di level elite dengan Honda tersebut, tampak kewalahan dengan setelan motornya. Alhasil, ia gagal finis di MotoGP Catalunya, peringkat keempat MotoGP Prancis, posisi ketujuh MotoGP Aragon dan menyelesaikan lomba di deretan ke-13.

Hingga tiga edisi sebelum lomba berakhir, Andrea Dovizioso bertengger di peringkat kelima klasemen dengan koleksi 109 poin, terpaut 28 angka dari Joan Mir, kandidat juara musim ini.

Menilik persaingan secara keseluruhan, pembalap tes Yamaha tersebut menjagokan Joan Mir. Pembalap Suzuki itu berpeluang memahkotai MotoGP 2020 meski tak pernah menjejak podium teratas.

“Favorit saya saat ini adalah Joan Mir. Dia selalu berada di podium atau fonis mendekati, terlepas dari kesalahan di balapan pertama. Dia solid dan Suzuki kompetitif. Meski Yamaha sering menang, Mir dan Suzuki yang lebih berpeluang daripada Fabio Quartararo dan Maverick Vinales,” ucap pembalap 33 tahun itu.

Baca Juga:

Lorenzo Sempat Kecewa Tak Diminta Gantikan Rossi

Lorenzo menganalisis para calon juara dunia. Ia mengaku dulu sempat menjagokan Quartaro tapi nyantanya kurang konsisten. Walau pernah finis terdepan tiga kali, rider Yamaha masih kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi di setiap balapan.

Sedangkan Vinales sangat terpengaruh dengan suasana hati. Ketika sedang percaya diri, ia bisa berbahaya. Namun, saat ragu pembalap Spanyol tersebut akan tercecer.

Franco Morbidelli diberi kredit positif karena mampu menggebrak ajang tersebut. Jorge Lorenzo menyayangkan rider Yamaha itu terlambat promosi ke MotoGP. Kendati demikian, ia masih bisa jadi juara dunia. Kejutan juga ditunjukkan Alex Marquez yang mampu melaju kencang di tengah keraguan banyak pihak.