LPEI Targetkan Porsi Pembiayaan UMKM Tumbuh hingga 30 Persen di 2025

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Kepala Divisi Advisory Services Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Gerald Grisanto, mengatakan portofolio pembiayaan untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) saat ini hanya sebesar 16 persen. Oleh sebab itu, sesuai dengan arahan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, porsi pembiayaan untuk UMKM itu akan ditingkatkan mencapai 30 persen sampai 2025.

Portofolio LPEI saat ini masih didominasi oleh korporasi. Hal ini karena dunia ekspor saat ini juga sebagian besar dilakukan oleh korporasi.

"Arahan dari Menteri Keuangan bahwa tahun 2020 dan 2021 sampai 2025, portofolio pembiayaan UMKM LPEI diminta tumbuh sampai dengan 30 persen," tutur Gerald dalam konferensi 500K Eksportir Baru "Memacu Ekspor UMKM" pada Selasa (20/4/2021).

Oleh sebab itu, ia pun menilai saat ini merupakan momentum tepat bagi UMKM untuk melakukan ekspor. Menurutnya, ekspor UMKM ini selalu mendapatkan dukungan dari pemerintah.

"Disiapkan juga dengan fasilitas-fasilitas pembiayaan, supaya UMKM ini ekspornya benar-benar dapat terealisasi," tutur Gerald.

Sebaran pembiayaan UMKM dari LPEI saat ini sudah merata ke seluruh Indonesia. Totalnya per 31 Desember 2020 sebesar Rp 14,1 triliun di 27 provinsi.

"Tapi dari nilai Pulau Jawa masih mendominasi jumlah pembiayaan yg diberikan," sambung Gerald.

Di Pulau Jawa mencakup wilayah Banten senilai Rp 560 miliar, DKI Jakarta Rp 1,86 triliun, Jawa Barat Rp 1,56 triliun, Jawa Tengah Ep 1,74 triliun, dan yang terbesar di Jawa Timur Rp 5,48 triliun.

Pencapaian LPEI selama periode 2015 hingga 2020 antara lain menciptakan 60 eksportir baru. Sementara itu, pemerintah berharap bisa menciptakan 500 ribu eksportir baru sampai 2030.

LPEI Akui Pembiayaan Ekspor Bagi UMKM Kalah Ketimbang Korporasi

Pekerja membuat mebel di kawasan Tangerang, Selasa (3/11/2020). Generalized System of Preference (GSP) atau fasilitas perdagangan berupa pembebasan tarif bea masuk memungkinkan produk UMKM lebih banyak diekspor ke Amerika Serikat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja membuat mebel di kawasan Tangerang, Selasa (3/11/2020). Generalized System of Preference (GSP) atau fasilitas perdagangan berupa pembebasan tarif bea masuk memungkinkan produk UMKM lebih banyak diekspor ke Amerika Serikat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kepala Divisi Advisory Services Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, Gerald Grisanto mengakui, hingga saat ini, nilai portofolio pembiayaan bagi sektor UMKM untuk kegiatan ekspor masih relatif rendah dibandingkan sektor korporasi.

"Portofolio pembiayaan LPEI sendiri terdiri dari dua ada Korporasi dan UMKM. Nah, untuk UMKM (nilai portofolio) memang masih rendah," tegasnya dalam konferensi pers 500K Eksportir Baru, Selasa (20/4).

Saat ini, nilai portofolio pembiayaan bagi UMKM untuk kegiatan ekspor tersebut baru mencapai 16 persen. Menurutnya, nilai tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan yang diberikan oleh sektor korporasi.

Kendati demikian, dia tidak menyebut besaran nilai portofolio yang dimiliki oleh sektor korporasi pada saat ini.

Dia bilang, rendahnya nilai portofolio pembiayaan bagi UMKM tersebut lantaran minimnya partisipasi dalam kegiatan ekspor. Sehingga kegiatan ekspor masih didominasi oleh sektor korporasi yang otomatis mempunyai peluang lebih untuk membukukan nilai portofolio pembiayaan dalam jumlah lebih besar.

"Jadi, ekspor ini masih memang di dominasi oleh korporasi," terangnya.

Untuk itu, mulai tahun ini hingga 2025 mendatang pemerintah berupaya meningkatkan pemberian nilai portofolio bagi UMKM. Hal ini dimaksudkan untuk menarik minat UMKM menjajaki pasar ekspor.

"Arahan pemegang saham LPEI yakni Menteri Keuangan bahwa tahun 2021 sampai dengan 2025, portofolio pembiayaan UMKM diminta tumbuh sampai dengan 30 persen. Dengan (pemberian) fasilitas pembiayaan ini supaya (peningkatan) UMKM ekspor nya dapat terealisasi," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: