LPEI terus salurkan pembiayaan dukung UMKM berorientasi ekspor

Subagyo
·Bacaan 2 menit

Corporate Secretary Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Agus Windiarto menyatakan perseroan akan terus menyalurkan pembiayaan agar bisa mendorong pemulihan ekonomi, khususnya kepada UMKM berorientasi ekspor yang terdampak pandemi COVID-19.

Dukungan pembiayaan LPEI melalui program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) salah satunya diberikan kepada CV Pria Tampan, sebuah UMKM produsen kain batik cap berorientasi ekspor asal Sukaharjo, Jawa Tengah.

"PKE UKM yang dimandatkan pemerintah kepada LPEI, harapannya dapat disalurkan kepada pelaku usaha seperti CV Pria Tampan yang memiliki nilai tambah dan sejumlah tenaga kerja. Dengan penyaluran PKE Pembiayaan UKM, pemulihan ekonomi khususnya ekspor dapat segera dipercepat realisasinya," ujar Agus melalui keterangan di Jakarta, Minggu.

Bukan hal yang mudah bagi para pelaku UMKM menjalankan usahanya di tengah pandemi. Agar dapat bertahan, sang pemilik usaha harus bekerja keras dan menerapkan strategi yang jitu.

Pemilik CV Pria Tampan Andri Setyawan, harus melakukan berbagai upaya agar kegiatan operasionalnya terus berjalan, arus kas usahanya terjaga serta menghindari pemutusan kerja.

Selain itu. Andri juga harus menjaga hubungannya dengan pembeli luar negeri. Baginya, konsistensi kualitas dan pelayanan personal yang baik merupakan kunci utama untuk mempertahankan kepercayaan pembeli.

Buah kerja keras itu terlihat, karena saat ini 95 persen produk Kain cap Andri Setiawan menembus pasar Amerika Serikat dan Kanada sejak lebih dari tiga tahun lalu.

Bahkan dalam kondisi tidak ada PO (Purchase Order) dari negara lain, Andri Setiawan tetap melakukan ekspor ke Amerika Serikat dan Kanada untuk memenuhi kebutuhan perusahaan retailer yang ada di sana dengan rata-rata pengiriman 5 kontainer per bulan senilai 160 ribu dolar AS. Bahkan pada April pengiriman itu meningkat mencapai 7 kontainer bernilai 220 ribu dolar AS.

Selain memiliki pelanggan tetap, produk kain batik cap milik Andri Setiawan juga diakui memiliki keunikan berupa bulir-bulir putih yang timbul pada kain yang berasal dari proses pewarnaan kain.

Bulir-bulir putih tersebut atau disebut bubbling effect ini membuat karakteristik kain batik cap miliknya memiliki daya tarik tersendiri bagi para pembelinya. Di Amerika Serikat dan Kanada produk kain batik cap digunakan sebagai penunjang dekorasi rumah.

Pada kondisi sulit seperti sekarang, Andri mengakui dukungan pembiayaan LPEI melalui PKE bagi UMKM Berorientasi Ekspor sangat berarti bagi keberlangsungan operasional usahanya.

"Kami tetap harus beroperasi bukan hanya demi kepentingan bisnis ini agar dapat terus berjalan, tapi juga demi para pekerja yang menggantungkan harapan dan kesejahterannya di sini serta perusahaan subkontrak yang menjalin kerjasama dengan kami. Dukungan PKE ini memberikan manfaat yang sangat berarti bagi kami. Kami dapat terus berproduksi dan memenuhi permintaan para pembeli tanpa harus khawatir kekurangan modal kerja," ujar Andri.

Manfaat Program PKE bagi Andri Setyawan berarti ia dapat meningkatkan kapasitas produksinya seiring dengan dengan pulihnya permintaan ekspor. Kapasitas produksi yang semula 100.000 yard per bulan naik signifikan menjadi 180.000 yard per bulan.

Baca juga: LPEI gandeng pemda kembangkan kapasitas pelaku UMKM

Baca juga: DPR ingin LPEI bangkitkan UMKM berorientasi ekspor

Baca juga: Kemenkeu minta LPEI kreatif dan inovatif dukung UKM orientasi ekspor