LPEM UI perkirakan ekonomi triwulan III tumbuh hanya 3,9 - 4,1 persen

·Bacaan 2 menit

Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,1 persen dengan kisaran 3,9 persen hingga 4,3 persen pada triwulan III-2021, setelah melonjak 7,07 persen pada triwulan sebelumnya.

"Gelombang COVID-19 yang terjadi di awal triwulan III-2021 mendorong kemungkinan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi seiring pengetatan mobilitas masyarakat di triwulan ini," tutur Riefky dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa.

Secara keseluruhan tahun 2021 ia memproyeksikan ekonomi akan tumbuh 3,8 persen, karena adanya kemungkinan risiko akan terjadinya lonjakan kasus di akhir tahun dan pembalikan arah di triwulan keempat sulit terjadi.

Walaupun aktivitas ekonomi mengalami peningkatan sejak pelonggaran pembatasan sosial di Agustus 2021, lonjakan pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan terbatas seiring risiko lonjakan kasus masih membayangi hingga akhir tahun ini.

Baca juga: Menko Airlangga ingatkan masyarakat tetap waspada cegah lonjakan COVID

Melihat dinamika pertumbuhan ekonomi saat ini, Riefky mengingatkan agar perlu selalu diperhatikan fakta bahwa pandemi belum sepenuhnya berakhir, sehingga penerapan protokol kesehatan tetap harus menjadi perhatian meski aktivitas ekonomi terus berlangsung guna mencegah adanya gelombang susulan pandemi yang bukan hanya akan menyerang sektor kesehatan, namun juga sistem ekonomi secara keseluruhan.

Menjaga kewaspadaan akan risiko penyebaran COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan dan mempercepat tingkat vaksinasi, kata dia, merupakan kunci untuk mengejar tingkat pertumbuhan kembali ke level pra-pandemi di kisaran 5,1 persen - 5,4 persen di 2022.

Dengan demikian, lanjut dia, berhasil atau tidaknya tingkat pertumbuhan ekonomi kembali ke level pra-pandemi di 2022 akan tergantung dari seberapa sukses pemerintah dan masyarakat mencapai kedua hal tersebut, terlepas dengan berbagai ketidakpastian yang muncul.

"Di tengah krisis kesehatan yang sedang berlangsung, Presidensi G20 2022 di Indonesia dapat menjadi momentum yang tepat untuk pemerintah Indonesia mengatur ulang fokusnya dalam agenda pembangunan jangka panjang, sembari memfasilitasi diskusi antar pemimpin negara terkait pemulihan global yang lebih
kuat dan merata," ujarnya.

Baca juga: Erick Thohir: KTT G20 jadi kesempatan tunjukkan pertumbuhan ekonomi RI

Baca juga: Menko: Perbaikan sektor kesehatan sokong inflasi dan PMI Manufaktur

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel