LPOI ajak masyarakat waspadai politisasi agama dan politik identitas

Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) mengajak seluruh masyarakat mewaspadai kemunculan politisasi agama dan politik identitas menjelang tahun politik Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2024.

"Memasuki tahun politik, kita harus waspada terhadap politisasi agama dan politik identitas," kata Ketua Umum LPOI Said Aqil Siradj dalam konferensi pers Musyarawah Kerja Nasional (Mukernas) LPOI bertema "Memperkuat Persahabatan untuk Memperkokoh NKRI" di Jakarta, Kamis.

LPOI pun, jelas Said Aqil, merumuskan cara bagi bangsa Indonesia untuk mewaspadai munculnya dua hal tersebut, yakni dengan membangun kesiapsiagaan nasional, deteksi dini, dan pencegahan terhadap kemunculan gerakan atau organisasi yang merekrut anggota untuk melakukan politisasi agama dan politik identitas.

Selanjutnya, LPOI juga mendorong penindakan tegas terhadap berbagai bentuk upaya politisasi agama dan politik identitas.

Lebih lanjut, Said menyampaikan di dalam agama Islam, Allah Swt menetapkan orang yang paling zalim adalah mereka yang mengatasnamakan Islam tetapi tidak dimanfaatkan untuk tujuan Islam. Orang-orang yang paling zalim adalah mereka yang menggunakan Islam demi mencapai tujuan-tujuan lain, seperti politik dan ekonomi, tegasnya.

Baca juga: Said Aqil Siroj minta pemerintah serius jalankan ekonomi syariah

"Orang yang paling zalim adalah orang yang mengatasnamakan Islam tapi tidak untuk tujuan Islam, justru untuk tujuan politik, ekonomi, dan apa sajalah; tapi mengatasnamakan Islam, apalagi sampai merusak, itu jelas orang yang paling zalim," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, dia menyampaikan bahwa berdasarkan situasi nasional dan global terkini, LPOI menyarankan Pemerintah untuk mewaspadai turbulensi serta ancaman resesi' Hal itu dapat dilakukan dengan menyiapkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat, seperti kebijakan menjamin ketersediaan sembako.

Kemudian, LPOI mengajak pula bangsa Indonesia untuk mewaspadai virus radikalisme, terorisme, intoleransi, dan ancaman bencana ekologis.

"Dengan semua tambang dikeruk, hutan digunduli, pasti akan berakibat yang luar biasa, yakni bencana alam, longsor, banjir. Oleh karena itu, kita diwajibkan oleh Allah Swt untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Kalau pun ingin memanfaatkan, tidak berlebihan, harus bijak," ujar Said.

Baca juga: Said Aqil: Dunia berharap pada Indonesia dengan keislaman moderat
Baca juga: LPOI: Waspadai politik identitas karena bisa pecah belah bangsa