LPS Ungkap Fenomena Baru Industri Perbankan Dunia, Flight to Digital

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkapkan, adanya pergeseran perilaku konsumen khususnya di sektor jasa keuangan pada masa pandemi COVID-19. Saat ini, konsumen yang lebih memilih berbagai layanan yang berbasis digital.

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Didik Madiyono mengungkapkan, situasi pandemi terbukti meningkatkan ketergantungan konsumen pada layanan berbasis digital. Ini sesuai hasil penelitian yang dilakukan Bank Dunia, Google, Temasek, dan Bain & Company menyebut fenomena ini sebagai flight-to-digital.

“Dengan perkembangan teknologi komputerisasi dan digitalisasi, model bisnis perbankan juga terus berkembang. Perkembangan teknologi ini akan mengarah pada perbankan yang lebih efisien, layanan pelanggan yang lebih baik, dan kontribusi yang lebih tinggi bagi perekonomian,” katanya di forum virtual Financial Development, Kamis, 18 Maret 2021.

Baca juga: Luhut Bakal Buldoser Penghalang Realisasi Ekosistem Logistik Nasional

Di Asia Tenggara, dia menuturkan sekitar 1 dari 3 konsumen atau setara 36 persennya yang menggunakan layanan digital, merupakan konsumen baru selama pandemi. Sekitar 9 dari 10 konsumen yang menggunakan layanan digital baru akan terus menggunakan layanan ini di masa mendatang.

Meskipun mengalami pertumbuhan ekonomi setahun penuh yang negatif pada 2020 sebesar minus minus 2,07 persen secara tahunan, ekonomi berbasis internet Indonesia menurutnya telah mampu tumbuh dua digit. Yaitu sebesar 11 persen dari nilai pasar bruto pada 2020.

Meski hampir semua lini terdigitalisasi, Didik juga mengingatkan mengenai potensi risiko dan tantangan yang akan dihadapi, baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Menurut World Economic Forum Global Risks Perception Survey 2020, salah satu ancaman potensial dalam perkembangan digital ialah ketidaksetaraan digital.

Menurutnya, hal tersebut merupakan risiko dengan tingkat kemungkinan yang tinggi dalam 10 tahun ke depan, termasuk risiko keamanan siber.

“Dalam jangka panjang, kita perlu bersiap menghadapi dampak buruk teknologi. Oleh karena itu, perlu disiapkan rencana penanganan risiko yang memadai agar dapat meminimalkan dampak dari potensi risiko yang mungkin timbul tersebut,” tegas dia.

Bagi LPS sendiri, Didiek menjelaskan, komunikasi publik yang efektif dan terdigitalisasi tentang skema penjaminan simpanan kepada masyarakat. Nantinya akan menjadi sangat penting untuk menciptakan kepercayaan publik.

"Masalah asimetris informasi di era sekarang ini relatif bukan disebabkan karena tidak tersedianya informasi melainkan disebabkan oleh noise dan bias informasi pada informasi publik, terutama melalui media sosial," papar dia.