LPSK Akui Putri Candrawathi Sulit Jadi Justice Collaborator

Merdeka.com - Merdeka.com - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan jika tersangka Putri Candrawathi sampai saat ini belum mengajukan permohonan Justice Collaborator (JC) atau saksi pelaku yang bekerjasama mengungkap kasus atas kasus pembunuhan Brigadir J.

"Bu Putri belum, belum ada (mengajukan JC)," ucap Wakil Ketua LPSK Susilaningtias saat ditemui di kantornya, Senin (29/8).

Walaupun demikian, Susi menilai jika pemberian JC kepada Putri sangat sulit. Mengingat tidak kooperatifnya istri Ferdy Sambo ketika hendak dimintai keterangan staf LPSK saat proses asesmen perlindungan beberapa waktu lalu.

"Ya agak berat juga, kan sulit rasanya dia mengungkap kejahatan. Tetapi kita gak tau sih ya tetapi sampai sejauh ini belum ada. Kan lihat dulu lah ininya, karena kan peristiwa kemarin bu putri kan kurang ini ya. kurang helpfull lah tidak mau bicara, dan sebagainya," jelas Susi.

Adapun, Susi mengatakan jika pihaknya juga belum menawarkan terkait JC kepada pihak Putri. Karena, proses JC harus atas kesukarelaan pemohon sebagaimana undang-undang Nomor 31 tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Dan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan bagi pelapor tindak pidana (whistleblower) dan saksi pelaku yang bekerja sama.

"Ya itu tadi, kita kembali ke pasal awal perlindungan itu adalah, soal sukarela, kerelaan. Bukan hanya pengajuan, nih. Misalkan diajukan orang, dia mengajukan atau diajukan polisi tetapi kalau dia tidak rela ya kita tidak akan paksa, nah itu," bebernya.

"Nah itu, jangan-jangan Bu Putri bisa jadi enggak butuh perlindungan dari LPSK nah itu sih yang kami ini. Kan karena dia kalau sukarela kan pasti harusnya cerita nih apa yang dialami ketahui, dan apa yang ada dalam," tambahnya.

Namun demikian, Susi mengatakan bahwa Putro sejauh ini tidak pernah bercerita kepada LPSK dan hanya mengatakan jika yang bersangkutan masih trauma dan kurang membantu.

"Ya jadi LPSK berkaca dari itu, kita enggak mungkin juga melakukan pendekatan secara proaktif untuk bu PC jadi JC. mungkin secara hukum agak berat juga, rasanya agak tidak mungkin lah rasanya," tuturnya.

Sementara untuk tersangka lain seperti Bripka RR dan KM sampai saat ini juga belum mengajukan permohonan JC kepada LPSK. Meski saat bertemu di awal kepada Bharada E, sempat bertemu mereka berdua.

"Waktu itu mereka berpikirnya bakal dapet si kayanya, tapi terus saya bilang. kalau mau mengajukan perlindungan. Harus ada permohonan, jadi cuma, nanya doang sih mereka soal LPSK," jelasnya.

Sebelumnya, LPSK akhirnya memutuskan menolak permohonan perlindungan yang dilayangkan istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi terkait kasus kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

"LPSK memutuskan untuk menolak atau menghentikan penelaahan terhadap ibu P ini. Karena, memang ternyata tidak bisa diberikan perlindungan," kata Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo di kantor LPSK, Jakarta Timur, Senin (14/8).

Adapun alasan penolakan permohonan kepada Putri, kata Hasto, karena sejak awal permohonan diterima pihaknya telah menemukan adanya kejanggalan. Sejak diajukan pada 14 Juli 2022, sebagaimana permohonan yang ditandatangani Putri dan kuasa hukumnya.

"Kejanggalan pertama ternyata ada dua permohonan lain, yang diajukan. Ibu P ini tertanggal 8 Juli 2022, dan ada permohonan yang didasarkan berdasarkan adanya laporan polisi yang diajukan Polres Metro Jakarta Selatan pada 9 Juli," ujar Hasto.

"Tetapi kedua laporan polisi ini bertanggal berbeda tetapi nomornya sama, oleh karena itu kami pada waktu itu barangkali terkesan lambatnya. Kok tidak memutus-mutuskan apa perlindungan kepada yang bersangkutan," tambah dia.

Selain dua laporan polisi tersebut, LPSM juga menemukan kejanggalan lain yang semakin menjadi ketika staf ingin bertemu dengan Putri. Yang pada usahanya sempat terhambat, lantaran sulitnya berkomunikasi pada 16 Juli dan 9 Agustus lalu.

"Kejanggalan ini semakin menjadi, setelah kamu mencoba berkomunikasi dengan ibu P. Sampai akhirnya, kita kemudian kan baru dua kali ketemu dua kali dengan ibu P dari LPSK," ucap Hasto.

Karena dua usaha untuk bertemu dengan Putri, LPSK tidak mendapatkan hasil yang baik. Hal tersebut menjadi pertimbangan untuk kemudian menolak permohonan perlindungan.

"Kedua, pihak ibu P bertemu beberapa waktu yang lalu dan tetap tidak bisa mendapatkan keterangan terhadap ibu P. Dan saya selalu katakan bahwa kami juga ragu-ragu apakah ibu P ini berniat mengajukan permohonan perlindungan kepada LPSK," sebutnya.

"Atau ibu P ini sebenarnya tidak tahu menahu tentang permohonan tetapi ada desakan dari pihak lain untuk mengajukan permohonan perlindungan LPSK," tambah Hasto.

Oleh sebab itu, Hasto mengatakan jika dari hasil keputusan rapat para pimpinan dengan mengacu juga keputusan Bareskrim Polri untuk menghentikan dua laporan polisi terkait pelecehan dan ancaman maka permohonan dari Putri pun ditolak.

"Bahwa Bareskrim menghentikan pengusutan terhadap laporan yang diajukan kepada ibu P dengan tindak pidana pelecehan seksual ternyata tidak ditemukan tindak pidana tersebut. Jadi buka dasarnya pelaku nya sudah meninggal (Brigadir J) SP3 atau bagaimana. Tetapi karena kasus ini, telah dihentikan pihak kepolisian," jelasnya. [eko]